Oktober 14, 2009

KISAH SEORANG BISSU YANG TERTUSUK KERIS SENDIRI


Malam itu, di tengah upacara mabbissu, tiba-tiba wajah Puang Matoa Bissu Saidi tercekat dan berpeluh. Ia meringis, sembari tangan kirinya mencoba menjangkau tiang tengah rumah. Tangannya yang satu lagi masih memegang hulu keris yang ujungnya menembus perut tetua bissu ini. Bissu yang lain tampak terkejut. Puang Matoa dengan keris masih menghunjam tubuhnya, kemudian berbalik, masuk ke dalam kamar arajang (altar).

Setelah sekian lama, ia keluar lagi. Keris itu masih tetap tertancap. Ketika Puang Matoa mencabutnya dengan sedikit memaksa, menyemburatlah cairan merah membasahi baju bissu keemasannya. Darah segar sepanjang kira-kira 7 cm itu menggumpal di ujung keris, dan segera dijilati oleh Puang Matoa. “Kejadian ini sering dialami oleh Puang Matoa, kalau syarat dalam melakukan upacara Mabbissu tidak lengkap,” ujar Amrullah, aktivitis LSM yang selama ini peduli masalah Bissu.

Dua jam sebelum peristiwa tersebut, di atas rumahnya yang tidak jauh dari Pasar Sentral Pangkep, Puang Saidi dengan pakaian putih-putih sibuk mengatur segala peralatan upacara dan sesajian yang akan dilakukakanya malam itu. Handphone bermerek yang dimilikinya selalu berbunyi. Dari pembicaraan yang terdengar, tampaknya ia sedikit marah. Ia bahkan mengancam seorang bissu di ujung telepon, agar segera datang. Bissu yang diteleponnya itu diperlukan kedatangannya untuk melengkapi syarat minimal jumlah bissu, agar upacara yang akan diadakan sebentar lagi bisa dimulai.

Sementara itu, Muharram, bissu termuda yang baru berusia 17 tahun tampak kecut di sudut ruangan. Ia lupa memakai tutup kepala dan masih berpakaian perempuan. Jemari tangannya bergetar saat menyusun tumpukan ketan tiga warna. Beberapa kali Puang Saidi memukul tangan Muharram ketika ia salah menyusun tumpukan ketan tersebut. Masse, bissu tertua yang ada di dalam ruangan tersebut, juga tampak tegang. Sesekali ia melongok ke luar jendela, berharap satu orang bissu yang sejak tadi ditunggu segera datang untuk meredakan kemarahan Puang Saidi. Namun yang ditunggu tidak juga muncul. Maka jadilah malam itu upacara mabbisu yang telah dijanjikannya tetap dilanjutkan, meski jauh dari syarat minimal.

Tidak seperti biasa, mereka tampak tegang. Kami para tamu yang tidak tahu menahu tentang soal itu malah duduk dengan tenang dan nyaman.

Lima belas menit pertama, Puang Saidi dan tiga orang bissu dengan pakaian berwarna keemasan dengan bilah-bilah keris panjang menari memutari sesajian di tengah ruangan. Alunan mantra mitis yang menggunakan bahasa To Rilangi – sejenis bahasa kuno Bugis yang hanya dimengerti oleh komunitas Bissu dalam memimpin upacara sakral – mengalun ditingkahi gendang. Ketika alunan gendang semakin keras dan cepat, gerakan para bissu tersebut semakin melambat. Terlihat jelas mereka mulai trance.

Muharram, sang bissu muda, kemudian mulai membuka gerakan maggiri yang pertama. Keris panjang yang terselip di pinggangnya dilepaskannya, dengan gerakan pelan mengikuti irama gendang. Keris tersebut ditancapkannya ke telapak tangannya. Walau ditekan berkali-kali dengan keras, keris itu tidak juga bisa merobek telapak tangannya. Bahkan ketika ia dibaringkan di tengah ruangan dan Puang Saidi kemudian menancapkan keris ke tenggorakannya, tak sedikit pun kulit leher Muharram tergores. Kuatnya tekanan keris Puang Saidi ke leher Muharram ditunjukkan dengan bunyi berderak pada tiang sandaran. Seketika saya bergidik. Para Bissu yang dalam kesehariannya feminim itu, tiba-tiba malam itu tampak gagah, jauh dari kesan lemah-lembut yang lekat dengan kehidupan kesehariannya.

Di tengah ruangan, upacara mabbissu semakin liar. Para bissu muda kemudian menyingkir ke sudut ruangan, menjaga dupa agar terus menyala. Tepat ketika harum cendana semakin menguat, Puang Saidi melangkah ke depan. “Adengan ini hanya untuk bissu yang sudah senior. Yang muda belum diizinkan untuk melakukannya,” ujar Amrullah menjelaskan.

Bersama dengan Puang Saidi, Masse ikut berputar-putar. Ia tampak gagah. Ia meletakkan keris ke lantai rumah, dengan ujung keris yang menghunus ke atas. Lalu Masse menjatuhkan dirinya ke ujung keris itu. Alas kayu yang dijadikan tumpuan kerisnya berderak patah. Gerakan ini ia lakukan berulang-ulang. Bahkan beberapa kali ia menjatuhkan dirinya dengan sangat keras.

Keramaian bertambah ketika dengan keris terhunus, Puang Saidi menggorok lehernya sendiri. Ia lalu menyandarkan ujung keris tersebut ke tiang rumah, dan menekan-nekankan keris tersebut ke lehernya. Bunyi gendang semakin kuat. Puang Matoa Saidi melenguh, ia kemudian menancapkan keris panjangnya ke bagian perut. Ia menghentakkannya ke lantai, dan seketika bambu yang menjadi alas kersinya patah. Ia semakin liar. Namun, ketika ia bangkit dan menghujamkan kembali keris ke perutnya, matanya mendelik. Masse dan Muharram di sudut ruangan memucat wajahnya. Puang Saidi sempoyongan, dengan langkah tertatih ia berbalik ke dalam ruangan. Bunyi gendang terhenti. Kami tersenyum puas dan bertepuk tangan. Namun, sekembali dari ruangan, Puang Saidi ternyata masih memegang hulu keris yang masih menghujam ke perutnya, berkali-kali jempol tangan yang telah diludahinya diusapkan ke bagian perut. Kami tercekat, perut Puang Saidi berdarah. Terlihat darah segar!

Satu minggu sebelum perisitiwa tersebut, kami telah melakukan survey kecil-kecilan tentang bissu dan tradisinya di Kabupaten Pangkep. Kami memilih komunitas bissu di daerah itu sebab keberadaannya sebagai salah satu kelompok bissu di Sulawesi Selatan cukup kuat. Kelompok bissu di Pangkep merupakan kelompok Bissu Dewata, yang secara hierarkis merupakan kelompok bissu dengan tugas religius yang penting. Kelompok bissu yang lain tersebar di Kabupaten Soppeng, Wajo dan Bone. Komunitas bissu di Soppeng dikenal dengan nama Bissu Pattudang, di Wajo disebut Bissu Paddupa, sedangkan di Bone disebut dengan Bissu Mappakasengeng. Nah pimpinan dari semua kelompok bissu tersebut bergelar Puang Matoa, yang saat ini dipimpin oleh Puang Matoa Saidi dari kelompok Bissu Dewata, Segeri, Pangkep.

Catatan arkeologis menguatkan bahwa komunitas bissu memiliki fungsi yang cukup penting dalam struktur kerajaan di Sulawesi Selatan pada masa lalu. Sisa-sisa makam bissu dan sumur bissu di berbagai daerah, semisal di Bulukumba, Sindenreng, Bantaeng dan Luwu, masih bisa ditemukan walaupun komunitas di daerah itu sudah tidak lagi mengenal bissu dan tradisinya. Hal itu terkait dengan penghancuran bissu beserta simbol-simbolnya oleh gerakan DI/TII.

Walaupun diberangus, bissu-bissu tua dalam penyamaran dan pelariannya tetap mempraktekkan “kebissuannya” secara diam-diam dan tetap melakukan proses pengkaderan. Puang Saidi misalnya, merasakan pengalaman terusir dari rumah dan lari berpindah-pindah dari Pangkep, Soppeng dan Bone. Ia menjadi bissu ketika berumur 25 tahun, tepatnya tahun 1974. Ia dididik oleh Sanro Saide (alm), seorang Puang Matoa Bissu yang tersisa. Dalam kehidupannya, ia mengalami operasi pemberantasan "penyakit masyarakat" oleh salah satu instansi dengan sandi “operasi tobat”. Namun ia berhasil lolos dari peristiwa tersebut.

Bissu mulai terlupakan oleh publiknya sendiri justru di tanah kelahirannya. Namun lewat catatan para peneliti asing, mulai zaman Mathes pada abad 19, sampai pada masa Pelras, Andaya, Gilbert Hamonic serta banyak peneliti lainnya, bissu mulai dikenal kembali. Ketertarikan mereka disebabkan karena bissu merupakan jejak dari agama-agama orang Bugis kuno yang bersumber dari ajaran La Galigo. Karena itu, sampai saat ini, bissu seperti Puang Saidi paling tidak mengenal tiga varian bahasa Bugis kuno, yakni bahasa To Rilangi (bahasa Bugis sakral untuk dewa), bahasa La Galigo (bahasa Bugis kuno) dan bahasa Bugis yang awam seperti saat ini.

Uniknya, walaupun dari banyak sumber peneliti menyebut mereka sebagai kelanjutan agama kuno orang Bugis jauh sebelum agama Islam dikenal, namun Puang Saidi akan sangat marah jika disebutkan bahwa upacara mabbisu merupakan bagian dari musyrik. Bahkan ketika ia mencoba menjelaskan makna cermin, ia mempersamakannya dengan istilah Nur Muhammad yang kerap digunakan oleh para sufi Islam. “Itu merupakan sinkritisme antara ajaran leluhur dan agama Islam di Sulawesi Selatan. Sekaligus membuktikan bahwa Islam ketika kali pertama datang telah merupakan bagian dari adat, simbolisasi betapa adat dan agama melebur menjadi satu yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaan di Sulawesi Selatan,” jelas Halilintar Latief, salah satu pakar Bissu.

Lewat Halilintar pula, pada tahun 1997, LSM lokal yang kelak bernama Latar Nusa memediasi bissu untuk pentas pertama kali di hadapan publik di Bali. Sejak saat itu, perlahan bissu mulai dikenal kembali dan mendapat tempat yang terhormat dalam masyarakat. Bahkan saat ini, Puang Matoa Saidi adalah bagian dari pementasan teater La Galigo untuk pentas keliling di panggung-panggung teater terkenal di dunia.

Uang hasil pentas keliling dunia yang diterima Puang Matoa Saidi itu kemudian dipergunakannya untuk melengkapi peralatan-peralatan dan untuk membiayai upacara-upacara bissu. Misalnya, acara mapparebba, upacara untuk pelantikan seseorang menjadi bissu. ”Saya sendiri tidak pernah diparebba oleh guru saya. Masse juga tidak pernah. Hanya Muharram. Uangnnya dari pentas La Galigo,” ujar Puang Saidi. Menurut tradisinya, seorang bissu harus memiliki seorang kader yang dididik secara khusus. Upacara mapparebba untuk Muharram, sang murid, berlangsung selama setengah bulan dengan biaya sekitar Rp50 juta, dilakukan pada tahun 2001 yang lalu.

“Dulu ketika masih zaman kerajaan, bissu punya tanah sendiri yang diberikan oleh kerajaan. Dari hasil tanah tersebutlah bissu mendapat nafkah. Namun saat ini, tanah tersebut sudah tidak ada,” jelas Amrullah. Menghilangnya sumber penghasilan menyebabkan bissu mencari alternatif lain. Seiring dengan meningkatnya persepsi masyarakat saat ini terhadap kelompok bissu, berangsur-angsur taraf kehidupan mereka mulai terangkat. “Tidak sempurna kalau ada pengantin, bukan bissu yang meriasnya,” ujar Muharram yang juga dikenal dengan nama Hasnah. Penghasilan sebagai indo botting (perias pegantin) biasanya digunakan membiayai upacara bissu yang penting.

Selain itu, kelompok bissu yang dipimpin oleh Puang Matoa Bissu juga sedikit demi sedikit mulai membuka beberapa upacara bissu yang dulunya sakral. Syaratnya, yang mengundang harus membiayai persyaratan-persyaratan upacara yang cukup besar serta sekadar uang honor yang sifatnya sukarela bagi yang berminat untuk menonton atraksi bissu tersebut.

Itulah juga yang kami lakukan ketika menyaksikan adegan terlukanya Puang Saidi. Sehabis menonton pertunjukan itu, saya tidaklah menganggap uang biaya upacara sebagai sesuatu yang mahal. Risiko yang dihadapi para bissu ini amatlah besar, sebagaimana terjadi pada Puang Saidi. Mungkin dengan alasan itu pula, dalam setiap pementasan teater La Galigo yang diikutinya itu, konon Puang Saidi terpaksa harus merelakan dirinya mengucurkan darah. Dan itu selalu terjadi, karena syaratnya tidak lengkap!

“Itulah, Nak, kalau sudah berjanji. Saya sudah tahu pasti akan begini,” kata Puang Saidi sambil sesekali meraba bekas tusukan di perutnya. “Tapi mau diapa, ini sudah janji saya kepada kita, ya risikonya harus saya tanggung sendiri”.[ASFRIYANTO]

TUNGUNAGA DAN KEJUTAN SHALAT JUMAT DI BUTON


Namanya Halifu, sudah sepuluh tahun ia bertugas menjadi tunggunaga atau penjaga mesjid yang salah satu tugasnya adalah pemukul beduk di mesjid keraton Kesultanan Buton. Ia mulai mengabdikan dirinya sbegai tunggunaga setelah ia memasuki masa pensiun sebagai PNS di lingkup pemerintahan Kabupaten Buton. Diusianya yang ke-66 ini, ia tidak banyak berharap “Ya, kewajiban untuk menjadi tunggunaga di mesjid keraton ini turun temurun, sayang saya baru bisa memenuhinya ketika saya pensiun” ujarnya.

Jumat masih pagi ketika Halifu saya temui di pelataran mesjid keraton Buton. Sehari sebelumnya ia telah berjanji akan memperkenalkan kepada saya tentang sudut-sudt mesjid dan makna simbolik dari arsitektur mesjid tua itu. Sambil berkeliling ia menyebutkan ”anak tangga mesjid yang jumlahnya sembilan belas itu melambangkan 17 rakaat dalam salat wajib dan 2 rakaat salat sunat” jelasnya. “Sedangkan 12 pintu mesjid melambangkan 12 lubang pada tubuh manusia” lanjutnya lagi. Puas menerima penjelasan mengenai bentuk fisik mesjid yang sedikit berbau mistik tersebut, saya sedikit percaya, simbolisasi tubuh manusia, mulai rusuk dan simbol kemaluan laki-laki yang terdapat dalam mesjid itu, dalam pemahaman etnografis adalah bukti nyata bagaimana agama Islam kali pertama datang di satu daerah lebih pada akulturasi yang sangat intim dengan kebudayaan-kebudayaan lokal.

Pertemuan saya dengan Halifu semakin mengasikkan, Beberapa orang perangkat mesjid dari syara hukumu Kesultanan Buton mulai berdatangan ke mesjid. Peristiwa seperti ini tidak akan kita temukan, selain pada hari Jumat. Di antara kaum lelaki yang hendak salat Jumat di tempat tersebut, para perangkat syara hukumu itu sangat mencolok, yang dapat dikenali karena jubah putih mereka yang panjang, sorban melilit di kepala, seuntai tasbih berbulir besar dan sebatang tongkat kebesaran yang tidak pernah terlepas dari tangan. Melihat kedatangan mereka, Hafilu pun bergegas menyambut mereka di ujung tangga, dan itu berarti selesai jumatan Hafilu baru bisa saya temui lagi.

Tepat pukul sepuluh, seuntai kain panjang putih disusun Hafilu bersama tunggunaga yang lain, telah menghampar dari ujung mihrab ke pintu utama mesjid. Konon itulah jalan menuju Arsy Tuhan yang akan dilalui oleh sang iman mesjid. Di ujung kain putih itu mihrab telah pula dihiasi dengan kain-kain bernuansa putih. Sementara itu, salah seorang tunggunaga yang lain bergegas menabuh gendang besar. ”Tradisi Islam di Buton begitu. Beduk hanya dipukul tiga kali. Beduk itu bukan untuk tanda salat tapi tanda peralihan tiga waktu,” ujar Ansari, seorang tokoh masyarakat menjelaskan. Walaupun masih pukul 10 pagi, Halifu dan ketiga orang temannya lantas bersimpuh di depan pintu mesjid bersiap-siap menyambut kaum lelaki yang hendak salat Jumat di mesjid tersebut.

Secara arsitektural, bentuk mesjid ini tidak banyak berbeda dengan bangunan mesjid kuno lainnya yang ada di Sulawesi Selatan, Atapnya berbentuk limas dengan dua atau tiga tingkatan, dibangun diatas ketinggian, dan tentu saja selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik dan keramat. Mesjid Keraton Buton sendiri juga memilki pola-pola yang serupa, bedanya hanya, ritual salat Jumat yang menggambarkan perpaduan antara ajaran-ajaran lokal dengan agama Islam lebih mencolok di tempat ini. Misalnya, sebelum salat Jumat tidak dikenal adanya azan pertama seperti yang biasa kita temukan di mesjid-mesjid lain. Hal unik lainnya, jika di mesjid lain yang mengumandangkan azan hanya seorang saja, maka kumandang azan di mesjid ini dilakukan oleh empat orang sekaligus, dengan irama yang tentu saja berbeda satu sama lainnya.

Salat Jumat di Buton memiliki sejarah yang cukup panjang. Hal ini berkaitan dengan masuknya tradisi Islam dan tasawauf ke daerah ini sekitar lima abad yang lalu oleh seorang ulama yang dipercaya datang dari negeri arab yang bernama Syekh Abdul Wahid. Karena itu, orang Buton percaya, bahwa jauh sebelum kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan menjadikan agama Islam sebagai agama resmi, Kerajaan Buton telah menjadikan agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. Menariknya, dari jejak naskah kuno beraksara Jawi (Arab Melayu) yang berbahasa Buton dan Melayu, kitab-kitab kuno tasawuf semisal Hamzah Fanusuri dan berbagai risalah tasawuf dari dunia melayu banyak ditemukan di daerah ini. Karena itu, orang juga beranggapan tradisi Islam di Buton mendapat pengaruh dari Aceh atau Johor. Namun terlepas dari perdebatan tersebut bagi Mujazy (68), yang selama ini dipercaya menyimpan kepustakaan Kesultanan Buton menyebutkan ”Itu berasal dari salinan tangan Sultan Dayanu Ikhsanuddin”.

Melengkapi kejayaan Kesultanan Buton, bukti arkeologis menunjukkan bahwa tata kota ini dulunya dibangun dengan pertimbangan yang cukup matang. Hampir seluruh kawasan ibukota kerajaan dikelilingi oleh benteng yang kukuh. Apalagi setelah ekspansi kerajaan Gowa terhadap kerajaan ini semakin kuat pasca pelarian Arung Palakka ke Buton pada pada abad ke-17. Sepanjang pantai timur dan barat pulau Buton, juga di gugusan kepulauan Wakatobi, benteng-benteng Kerajaan Buton pada masa lalu betebaran. Selain untuk mempertahankan diri dari serangan kerajaan Gowa, hal itu juga untuk menghambat ekspedisi militer kerajaan Ternate. Di kota Bau-bau, wilayah pemekaran dari Kabupaten Buton, paling tidak tecatat 45 benteng batu, baik yang masih utuh maupun yang tinggal bagian pondasi saja. Bahkan kota itupun sebenarnya di bangun di atas reruntuhan bangunan benteng Buton tersebut. Di sudut-sudut kota, kita dengan mudah mendapatkan sepotong meriam besar lengkap dengan pelurunya tergeletak begitu saja, tidak terawat.

Tepat pukul 12 siang. Dikawal oleh Halifu, sang imam memasuki pintu mesjid dan melangkah di atas bentangan kain putih dan langsung menuju tempatnya di bagian terdepan mesjid. Di bagian ini, ditutupi oleh sejadah yang berwarna putih, konon disitulah terletak pusar bumi, penghubung antara dunia langit dan dunia bawah. Karena itu, posisi imam menjadi sangat penting dalam struktur Kesultanan Buton. Imam tidak hanya pemimpin spritual tetapi juga pelindung negeri. Atau bagi orang Buton, seorang Imam adalah Sultan batin, penjaga dunia gaib. Karenanya, selain dipenuhi nuansa mitis dan sakral, pemilihan seoarang imam mesjid juga didasarakan pada pengetahuannya yang cukup dalam tentang aspek syariat, hakikat dan makrifat dalam tradisi sufistik Islam. Tetapi, walapun mendekati status sosial yang tinggi, imam mesjid dapat dipecat karena alasan-alasan yang sepele saja, semisal lupa membawa tasbih, atau hanya kesalahan dalam memegang tongkat.

Shaf terdepan dalam Jumat kali ini diisi oleh syara hukumu Kesulatanan Buton dengan jubah-jubah putihnya dan beberapa orang berbaju batik. Walaupun tidak di posisi terdepan, saya cukup nyaman berhasil mengikuto salat dari lantai dua di sudut kiri. Dari situ saya dapat melihat seluruh jemaah Jumat di lantai dasar dengan leluasa, kaum lelaki yang terlambat berusah untuk masuk ke dalam mesjid, suasana agak kacau sedikit. Halifu saya lihat masih saja duduk di muka pintu, berdesakan Suasana itu berubah ketika imam mulai memimpin salat. Alunan suaranya yang berat membangun suanana mistis. Suaranya menggema terpantul di dinding dan pengaruh tiupan angin dari sela-sela ventilasi mungkin sengaja dirancang untuk untuk menimbulkan efek gema tersebut. Sehingga bagi saya, salat Jumat ini terasa berbeda. “Dulu ketika lantai mesjid belum di tegel, desah suara imam bisa terdengar, bahkan dulu gema bunyi beduk mesjid bisa terdengar sampi ke pulau Kabaena.” Demikian Halifu menjelaskan seusai selesai shalat Jummat.

Ketika saya hendak beranjak pulang, Halifu kembali ke dalam mesjid. Seperti biasa, setiap Jumat di mesjid keraton ini, para syara hukumu yang berjumlah 20 orang itu dan imam mesjid akan mengadakan ritual tolak bala. Prosesi itu diadakan tepat di tengah mesjid. Dipimpin oleh imam, mereka melingkar mengelilingi pedupaan dengan asap yang mengepul. Zikir dan puji-pujian kepada Allah menyatu. Saya sangat menikmati pesona mistis itu, namun ada satu yang cukup mengherankan saya: di depan imam, duduk seseorang dengan pakaian batik dan mengenakan peci hitam. Dia terlihat menjabat erat tangan imam, sementara itu syara hukumu yang lain tetap asyik melantunkan puji-pujian. Tidak ada yang aneh sampai prosesi itu berakhir dan saya menyalami mereka semua di pintu keluar mesjid. Namun setelah di halaman mesjid, saya jadi terpana dan terkejut. Lelaki yang berbaju batik tadi dengan peci hitam itu saya hapal sekali. Ya saya telah melihat banyak posternya terpajang di sudut kota Bau-Bau dengan berpakaian seragam angkatan laut, ya dia salah satu calon kandidat gubernur Sulawesi Tenggara untuk tahun 2008!!!. Saya jadi teringat kembali, dia termasuk orang yang juga tadi salat di shaf terdepan, Ia orang penting yang meski datang belakangan, mampu menggeser tempat jemaah lainnya yang datang duluan ke mesjid.[ASFRIYANTO]

N KAPAN PERANCIS, SEJARAH BARU KAMPUNG ARA


Dengan ketelitian tingkat tinggi, berbalut dengan asap kemenyan yang mengepul, sambil berkomatkamit mengucapkan mantra suci, Haji Muslim Baso (65) tampak terampil memangkas potongan kayu besi yang tersisa, dengan bantuan alat pahat. “Orang Perancis yang memesan kapal ini sangat cerewet. Salah satu senti kita bisa dikomplen,” ujarnya sambil mengibaskan peluh di dahinya.

Sudah dua bulan lelaki itu berjibaku mengerjakan pesanan kapal tersebut. Bentuk kapal yang dipesan orang Perancis itu tidak lazim. Dari desain gambar yang diperlihatkan Muslim Baso kepada saya, tampak bentuk kapal itu mirip dengan kapal perang Eropa zaman dahulu, dengan lunas yang tinggi, bentuk haluan yang lebar dan sedikit pepat, serta buritan yang rata dengan air. Selama dua bulan itu pula, Muslim Baso dibantu 20 orang sahi (pekerja), bekerja sedikit demi sedikit mengikuti desain kapal yang didatangkan langsung dari perancis itu , untuk mewujudkan sebuah perahu yang eksotis namun juga sangat kokoh.

Muslim Baso merupakan salah satu punggawa (pemilik modal) sekaligus berperan sebagai panrita lopi atau ahli dalam membuat kapal berbahan kayu. Bukan hanya perahu layar motor (PLM) dan pinisi saja yang bisa dibuatnya, tapi ia juga mampu mengerjakan kapal dengan desain yang disodorkan oleh para pemesan atau yang biasa ia sebut sebagai sambalu.

”Saya sudah mengerjakan sekitar 200 perahu mulai dari tonase 1 ton sampai 1000 ton,” katanya menjelaskan keterlibatannya sejak tahun 1967 sebagai panrita lopi di kawasan pantai Tanah Beru kabupaten Bulukumba, Sulsel. Daerah yang terletak kurang lebih 200 km ke arah selatan Makassar ini, kesohor sebagai sentra pembuatan perahu.

Ia sudah lupa tanggalnya, namun yang pasti ia masih ingat bahwa ia lahir tahun 1952 di kampung Ara, sebuah desa yang terletak sekitar 45 km dari kota Bulukumba. Di kampung Ara itu, ketika Muslim berusia 15 tahun ia sudah dilibatkan oleh orang tuanya untuk membantu pekerjaan membuat perahu pinisi. Lewat ayahnya pula, ia banyak belajar mengenai aturan-aturan adat dan teknis yang berkaitan dengan seluk beluk pembuatan perahu.

”Dulu saya masih ingat, kalau ada yang datang membuat perahu pada ayah saya, mereka cuma bilang saya mau perahu yang bisa menampung 200 pikul beras. Hanya itu. Tidak ada desain kapalnya,” Muslim mengenang masa awal keterlibatannya dalam pembuatan perahu.

Lewat pengalaman-pengalaman itu pula, di galangan kapal sederhana yang disebut bantilang, keinginan pemesan diwujudkan. Hanya dengan naluri alam sebagai pengrajin kapal, ia bersama ayahnya menyusun kepingan-kepingan papan menjadi sebentuk kapal yang diinginkan pembeli. Lama kelamaan, ia mulai dipercaya oleh ayahnya untuk mengerjakan sendiri pembuatan kapal-kapal yang dipesan.

Pada tahun 70-an, ketika bahan baku mulai menyusut di kawasan Bulukumba, seperti para pembuat perahu Ara lainnya, ia kemudian merantau ke Kalimantan dan ke Labuan Bajo, yang merupakan daerah sentra pembuatan perahu kayu tradisonal selain di kawasan Ara dan Tanah Beru. Tiga tahun setelah perantauannya itu, ia kemudian dipanggil pulang ke Ara dan menikah. Menariknya, ia kemudian beralih menjadi pedagang kain Bira dan emas. Pengalaman hidupnya selama diperantauan mengajarkan Muslim bahwa berdagang emas dan kain Bira jauh lebih menguntungkan. Apalagi ketika itu, pesanan perahu kayu mulai digantikan oleh perahu dari bahan fiberglass dan besi. Pilihan itu tidak salah, usaha perdagangannya berkembang dengan pesat sampai saat ini.

Walaupun demikian, ayahnya tidak setuju dengan pilihan hidupnya itu, dan tetap menyarankannya untuk menekuni prosesi sebagai panrita lopi, pertentangan ayah dan anak itu semakin tajam, namun Muslim Baso tetap pada pilihannya, “Sampai saat ini, hasil usaha saya berdagang jauh menguntungkan dibandingkan membuat perahu, apalagi saat ini kayu semakin sulit akibat adanya larangan illegal loging, ” katanya.


Menjual emas, membuka bantilang
Perjalan hidupnya kemudian mengalami titik balik. Tahun 1990-an, kampung Ara mengalami satu fenomena yang menarik. Tiba-tiba saja kaum laki-laki Ara yang selama ini di perantauan, muncul dan berkeliaran di tengah kampung. Ini satu hal yang tidak lazim, sebab biasanya- dan sampai saat ini pun- biasanya hanya kaum perempuan saja yang banyak di tengah kampung, sebab kaum laki-lakinya merantau ke daerah lain bekerja sebagai pembuat perahu.

Muslim tersadar, ia teringat pada pesan ayahnya, dan kehadiran para migran dadakan itu menyadarkannya, bahwa laki-laki Ara, walaupun ahli sebagai pembuat perahu namun hanya bertindak sebagai pekerja (sahi) saja, belum ada orang Ara ketika itu yang bertindak sebagai punggawa yang bisa berperan sebagai pemilik modal untuk mengerjakan perahu. “Saya menjual sebagian emas yang saya miliki, dan mengumpukan mereka, kemudian membuat bantilang kembali. Bagaimana saya tidak sedih, orang Ara dikenal sebagai pembuat perahu tapi sangat susah mendapatkan orang Ara membuat perahu di kampungnya sendiri,” katanya.

Sejak saat itu pula, ia menjadi punggawa perahu sekaligus panrita lopi. Bintang keberuntungan dan ramalan ayahnya terbukti, selain usaha emas dan kainnya, usaha pembuatan kapalnya juga berkembang dengan pesat.

Demi pesanan
Orang Ara percaya, kemampuan mereka membuat perahu lebih karena kedekatan mereka terhadap alam dan sukma laut. Melalui mitos perjalanan Sawerigading, ke tanah Cina orang Ara percaya, bahwa Sawerigading secara tidak langsung telah mengajarkan mereka keahlian membuat perahu melalui kepingan papan kapal Sawerigading yang pecah dalam pelayarannya kembali ke tanah Luwu.

Jika kerangka kapal terdampar di Ara, maka kemudi dan layar kapal Sawerigading yang pecah itu terdampar di Waniaga (nama Bira dahulu), makanya orang-orang Bira ahli dalam berlayar. Terlepas dari mitos tersebut, melalui pelacakan dokumen Belanda, Edward Poelinggomang sejarawan Unhas menyebutkan “Bira adalah nama Sungai Tallo sekarang, Bira dahulu dikenal sebagai sentra pembuat armada perahu kerajaan Gowa, ketika bahan baku semakin sulit, maka pusat pembuatan perahu armada Gowa yang ada di sungai Bira itu kemudian dialihkan ke daerah Waniaga. Lambat laun Waniaga berubah nama menjadi Bira saat ini”.

Terlepas dari fakta sejarah dan mitos tersebut, keahlian para panrita lopi dari Ara sudah terkenal sampai ke mancanegara. “Delapan puluh persen kapal yang saya kerjakan dipesan oleh orang Eropa. Orang-orang kita lebih suka pakai perahu fiberglass,” jelas Muslim.

Rasanya tidak berlebihan penjelasan yang dilontarkan lelaki ini. Buktinya, tahun ini saja, ia sudah menyelesaikan dua kapal motor dan dua kapal pinisi pesanan salah satu LSM luar negeri. Namun ia lantas menambahkan “ Kapal-kapal tradisi semisal padewakang, lambo, palari sudah tidak ada lagi yang membuatnya, pinisi saja jarang dipesan, yang lebih banyak saya buat cuma kapal motor saja.,”

Kapal yang dibuat oleh orang Ara memiliki teknik pembuatan yang tidak lazim dalam seluk beluk teknik perkapalan. Jika pada pembuatan perahu moderen, yang dibuat terlebih dahulu adalah rangka kapal kemudian diberi dinding, maka perahu yang dibuat orang Ara justru kebalikannya. Mereka membuat dinding dahulu, baru kemudian diberi kerangka atau solloro. Namun anehnya ketika proses pengapungan kapal di lautan, desain kapal yang biasanya tanpa gambar dan hanya mengikuti naluri itu, memilki keseimbangan yang luar biasa.

”Perahu kami lebih kuat dan tahan ombak dibandingkan dengan perahu yang dibangun mulai dari rangkanya dulu,” Muslim menjelaskan dengan bangga.

Nah, kapal pesanan orang Perancis yang sedang dikerjakannya itu dibuat dengan cara moderen. Kata Muslim pengerjaannya sangat boros kayu. “Wah, selisih ukuran satu sentimereter langsung dikomplen, makanya banyak kayu yang terbuang.” Namun, karena ini pesanan, ia tidak dapat menolak. Harga perahu ini Rp1,5 miliar dan kata Muslim telah menghabiskan bahan baku senilai Rp500 juta. Pembuatan perahu cara moderen seperti itu baru pertama kali dilakukan di Tanah Beru. Dari sekian banyak panrita lopi yang ada di Tanah Beru, Muslim merupakan orang pertama yang diberi kepecayaan untuk membuatnya.

Kapal kayu pesanan orang Perancis yang dibuat di galangan kapal sederhana milik Muslim itu, tidak lama lagi akan menghias salah satu museum bahari di kota Paris.

Sambil menikmati kelapa muda yang disodokan ahli perahu itu kepada saya, khayalan saya pun terbang membayangkan, di museum itu, para orang kulit putih (dan mungkin juga ada yang berkulit sawo matang dari Indonesia) berjejal dan terkagum-kagum mengamati bentuk kapal buatan Muslim Baso. Celakanya, saya tidak bisa mencegah diri saya mengkhayalkan bahwa sang pemandu museum itu akan berkata dengan bangganya, “Inilah karya nenek moyang orang Perancis yang pernah menjadi bangsa bahari di lautan, menguasai sepertiga samudera, ahli berlayar dan pembuat perahu yang ulung.”

Ah, khayalan yang membuat galau.[ASFRIYANTO]


ORANG SAMA, ORANG LAUT, DI MANAKAH KAU BERADA?


Empat jam di atas perahu motor, tiga kali melintasi tasik yang berair bening, barulah kami bertemu dengan Langkepe (70 tahun). Seminggu sebelumnya, kami telah mencarinya di Teluk Bone namun tanpa hasil, sampai tiga hari yang lalu ada nelayan yang memberitahu bahwa Langkepe berada di sekitar Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Ketika akhirnya bertemu, ia tampak ketakutan dan bersiap-siap melompat dari perahunya. Pemandu kami, yang kebetulan masih memiliki pertalian keluarga dengannya, menyapa dalam bahasa Sama. Terjadi perdebatan sedikit, sampai akhirnya Langkepe mengiyakan. Ia pun mengajak kami merapat ke pantai. “Dulu saya pernah ditangkap oleh petugas yang datang bersama sepupu saya ini,” kata Langkepe.

Mungkin Langkepe adalah satu-satunya orang Sama yang masih melakoni hidup sebagai manusia perahu. Sebab setelah adanya pembagian dana kompensasi BBM pada tahun 2004, orang-orang Sama yang tadinya masih melakoni kehidupan sebagai manusia perahu, lebih memilih memiliki alamat tetap sebagai prasayarat untuk mendapatkan dana tersebut.

Dibandingkan dengan fotonya di tahun 1995 yang kami peroleh dari seorang peneliti, Langkepe saat ini tampak semakin tua. Rambutnya telah memutih. Cuma satu hal yang masih bertahan, mungkin kebiasaannya bertelanjang dada dan kulitnya yang gelap. Lewat foto itu pula kami menjadi akrab. “Meninggalmi itu Baso, pak; dikuburkanmi di Lasusua,” katanya menjelaskan anak kecil yang ada di pangkuannya, dalam foto lama itu.

Secara fisik, orang-orang Sama yang melakoni hidup sebagai manusia perahu, memiliki dada yang lebih bidang, badan yang tipis, sehingga bentuk badannya dari pusar sampai ke bahu akan berbentuk segitiga terbalik. Badan dan lengan beorotot namun otot kaki tidak begitu berkembang. Para ahli memperkirakan bentuk fisik itu disebabkan kaki orang Sama jarang beraktivitas. Nah, Langkepe memenuhi ciri-ciri itu, suatu hal yang sudah sangat jarang ditemukan pada orang-orang Sama yang telah bermukim di daratan.

Dalam tulisan ilmiah, orang Sama, orang Bajo, atau orang laut adalah istilah yang sama untuk komunitas sea nomadic. Tahun 1980 keberadaan mereka kian terancam oleh program Departemen Sosial yang ingin merumahkan mereka di darat. Ketika itu, banyak rumah perahu (soppe) orang Sama yang dibakar dan penghuninya dipaksa untuk menetap. Namun sebagian lagi masih berusaha untuk kucing-kucingan.”Perahu soppe saya sudah tidak ada lagi. Sekarang saya pakai perahu biasa. Dua kali sudah dibakar pamarenta perahu soppe saya,” begitu kata Langkepe ketika ditanya tentang perahu soppenya seperti yang ada di foto itu..

Langkepe bercerita, pada tahun 1998 ia ditangkap oleh tim dari Departemen Sosial, kemudian dirumahkan di salah seorang kerabatnya. “Sakit-sakitan badanku, nak, kalau di darat. Tidak nyenyak tidurku”. Ia bahkan sempat dituduh gila setelah istrinya meninggal dunia. Di antara tekanan seperti itu ia kemudian berusaha merakit kembali perahu dari papan-papan bekas. Setelah itu, bisa ditebak, ia lari dan kembali melakoni hidupnya sebagai manusia perahu. Sejak peristiwa itu, ia sangat takut bila bertemu dengan rombongan berperahu motor dengan penumpang yang berbaju coklat dan berambut cepak.

Walaupun kembali melakoni hidup sebagai manusia perahu, namun karakteristik perahu soppe orang Sama yang khas, tidak dimilikinya lagi. Perahu soppe orang-orang Sama sangat unik. Perahu itu bentuknya seperti kuali yang mengapung, memiliki dasar yang lebar dan sisi perahu yang sangat rendah dari permukaan laut. Perahu ini sangat stabil dari hempasan ombak dan sulit untuk tenggelam. Namun untuk menjalankan perahu semacam itu tidak mudah sebab jika dikayuh, akan berputar-putar dan tidak bergerak maju. “Susahmi cari pohon besar untuk bikin perahu soppe sekarang. Habis semuami ditebang,” katanya.

Mitos dan fakta

Saat ini orang-orang Sama telah memeluk agama Islam, namun jejak-jejak religi purba mereka masih dapat ditemui terutama dalam senandung iko-iko (tradisi lisan). Mereka percaya telah ditakdirkan untuk menghuni lautan.

Konon ketika Sawerigading (tokoh dalam cerita La Galigo) hendak membuat perahu mengunjungi Tana Cina untuk mencari permaisuri, dibutuhkan perahu yang sangat besar. Berdasarkan petunjuk para Bissu, pendeta suci orang Bugis, letak pohon itu ada di sebuah bukit yang bernama Mangkutuk, di suatu tempat yang beranam Ussuq di sekitar Luwu Timur sekarang. Pohon itu bernama Walenrenge, yang akarnya menghunjam ke pusar bumi dan dahannya menggapai awan. Di dahannya bermukim jutaan burung yang dijaga ribuan mambang dan peri.

Alkisah, ratusan anak bangsawan dan raja-raja yang dikerahkan oleh Sawerigading untuk menebang pohon itu gagal. Pohon itu tidak bisa ditebang dengan kapak biasa. Kemudian Sawerigading menuju botting langi, negeri para dewa untuk meminjam kapak. Dengan menggunakan kapak pemberian dewa, Sawerigading berhasil menebang pohon Walenrenge. Robohnya pohon itu mengguncangkan penghuni dunia atas dan dunia bawah, ribuan telur burung yang ada di pohon itu kemudian berjatuhan dan pecah.

Demikian dahsyatnya peristiwa itu, telur-telur burung yang pecah mendatangkan banjir besar, menyapu penduduk yang dilandanya. Mereka yang terbawa banjir kemudian bermuara di lautan. Yang tidak bisa bertahan hidup menjadi gugusan karang tempat dunia arwah. Sedangkan yang bisa bertahan hidup itulah kemudian dikenal sebagai tu ri je’ne atau orang yang hidup di laut. Orang Sama percaya itulah cikal bakal mereka; yang tidak akan pernah mati tenggelam di lautan. Laut telah ditakdirkan untuk mereka. Cumi-cumi, hiu, pasik (gusung) adalah sahabat dalam satu harmoni, sukma laut. Bahkan dalam satu kronik Makassar orang-orang Sama pernah dipakai oleh Raja Gowa sebagai pasukan penyelam yang ditugasi melubangi kapal-kapal perang Belanda pada Perang Makassar abad ke-16.

Bahasa Sama berbeda dengan bahasa Bugis atau Makasar. Dalam konteks lingustik, bahasa Sama sangat dekat dengan bahasa Melayu yang pernah menjadi lingua franca di Nusantara. “Biasanya kalau kami ketemu orang Sama dari Sumatera, kami pakai baong (bahasa) Melayu atau baong Sama. Baik Sama dari Filipina maupun Sama dari Timor pasti mengerti,” kata Kidung, seorang Lolo Sama yang pernah melakoni kehidupan perahu selama 40 tahun.

Namun uniknya, dahulu setiap Orang Sama paling tidak mengusai dua atau tiga bahasa selain bahasa Sama. Pertama, bahasa suku-suku yang menjadi perlintasan armada perahu mereka. Misalnya orang-orang Sama yang ada di Teluk Bone juga memahani bahasa Bugis, atau orang Sama yang ada di sekitar kepulauan Bitung juga menguasai bahasa setempat. Bahasa kedua adalah baong Melayu. Bahasa ini justru menjadi bahasa yang dipakai ketika bertemu dengan komunitas sea nomadic lainnya. Menariknya bahasa Melayu orang Sama berbeda dengan bahasa Melayu seperti yang dipakai penutur di Riau dan Semenajung Malaysia. Walaupun demikian, beberapa kata semisal saluar, pinggan, masuk dalam kosakata baong Melayu orang Sama. Tidak menutup kemungkinan bahasa Melayu yang masih dipakai oleh komunitas Sama itulah yang merupakan bahasa lingua franca di Nusantara pada masa lalu. Peran ahli etnolingustik tentu sangat membantu penyelidikan ini ke depan

Memasuki tahun 1980-an orang-orang Sama sudah tidak tinggal di laut lagi. Mereka dirumahkan. Namun pekerjaan mereka sebagai nelayan masih tetap dilakoni. Perubahan dan pemaksaan pola kehidupan mereka dari lautan ke darat ternyata harus dibayar mahal. Dahulu laut dan isinya menjadi guru yang bijak. Mereka tahan dingin, angin laut dan bebas dari tekanan minimnya air tawar dengan mengosumsi kima, sejenis kerang besar yang banyak mengandung air tawar. Dahulu mereka dapat menyelam belasan menit di kedalaman 20 meter untuk menombak ikan tanpa tabung udara. Kini mereka bisa bertahan selama belasan jam tanpa muncul ke permukaaan. Hanya yang terakhir ini mengandalkan kompresor yang biasa dipakai oleh tukang tempel ban. Akibat kompresor itu pula, banyak di antara mereka yang lumpuh dan meninggal di dasar laut akibat dekompresi dan keracunan oksigen.

Kini setelah beberapa abad, laut dan orang-orang Sama menjadi dua kutub yang berbeda, tidak lagi berdamai. Juga dalam jurnal ilmiah, mereka menjadi subyek dalam pelatihan budidaya laut, pelatihan menangkap ikan yang ramah lingkungan. Bahkan tidak dapat dibantah mereka dikategorikan sebagai pelaku yang paling bertanggung jawab sebagai perusak terumbu karang dan aktivitas pengeboman ikan.

Sore itu setelah Langkepe memandu kami menyusuri terumbu karang yang masih tersisa. Dari sisi kanan perahu motor, tiba-tiba ia melompat ke dalam air. Cukup lama sehingga membuat kami cemas. Namun di saat sebagian anggota tim bermaksud menyusul dan telah mengenakan kembali peralatan selam, Langkepe muncul ke permukaan. Di pangkuannya tergolek seekor ikan kerapu berbobot 30 kg, masih hidup namun tampak sangat tenang seperti bayi yang dipangku oleh sang ibu.

Ah Langkepe, kau perlihatkan kembali kehebatan budaya yang masih tersisa dalam dirimu.[ASFRIYANTO]