



Melintasi Padang Pajjonganae, bertanya tentang presiden, menyusuri perairan Teluk Bone, memotret setiap kehidupan suku Bajo, dan menggambarkan manusia perahu atau seanomedic.wartawan ecek-ecek




Melintasi Padang Pajjonganae, bertanya tentang presiden, menyusuri perairan Teluk Bone, memotret setiap kehidupan suku Bajo, dan menggambarkan manusia perahu atau seanomedic.




Menyusuri sungai Ramang-ramang, menapaki sawah dan rawa, menerobos goa-goa, dan bercerita di hadapan api unggun.



Memanjat tebing, menyusuri sungai dan rawa, menjalani pengobatan pada upacara momago, meninggalkan perkampungan di Cagar Alam Morowali, dan melintasi danau dengan katinting.Membuat film dokumenter atau feature TV sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan
Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.
Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.
Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.
Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...
"Bisa bertahan saja sudah merupakan kemenangan". (Xinran, Sky Burial, Serambi)
Ketika catatan itu ditulis, saya tidak pernah memikirkan dampak atau resiko yang harus diambil. Karena, tulisan itu hanyalah monumen untuk diri-pribadi dan tidak ada kaitannya dengan siapa pun. Meski tidak ada reaksi langsung di hadapan saya, sejumlah teman sempat mengingatkan akan ketersinggungan pihak-pihak yang kemungkinan dimaksud sebagai mandor atau pemilik bangunan. Jawaban saya, haknya mereka untuk tersinggung atay marah. Tapi, haknya saya juga untuk mengenang segala perlakukan dan “apreasiasi” yang didapat dari mandor atau pemilik bangunan itu.
"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat
Bahkan, saya tidak bisa membalas SMS itu lantaran tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan. Perasaan sedih? Itu sudah terjadi sejak saya berada di dalam tim, tiga tahun yang silam. Air mata? Paling tidak, dua kali saya harus melelehkan air mata. Pertama, ketika menulis tentang almarhum M. Guntur Syaifullah, kamerawan dan sahabat di Liputan6. Dan kedua, ketika Asfriyanto, periset saya di
Karena itu, saya tidak memiliki stok air mata untuk urusan POTRET di"cut to black".
Beberapa hari yang lalu, kembali saya menerima pesan singkat tentang program POTRET. Katanya, “Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya POTRET dapat penghargaan Panasonic Award…”
Bagi saya, penghargaan yang didapat secara terlambat – karena didapat setelah programnya ditutup – merupakan monumen abadi POTRET. Penghargaan itu menjadi bukti, POTRET pernah ada dan menjadi bagian dari penonton televisi di tanah air. Dan, kalau mau jujur, program itu juga menjadi inspirasi bagi program sejenis yang dibuat stasiun lain. Perkara rating dan share memang hantu-belao yang terus membayangi perjalanan sebuah program televisi. Sehingga, bila kedua hal itu tidak memenuhi target sangat wajar untuk digantikan infotainment atau reality-show yang tidak mendidik sekali pun. Karena, pendirian televisi di negeri kita memang tidak ditujukan untuk mendidik anak-anak bangsa(?)