Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Oktober 09, 2010

menanti TAYANGAN VIDEO MIRIP ARTIS



Gegar kasus video porno yang diduga dimainkan Ariel "Peterpan", Luna Maya, dan Cut Tari, sesungguhnya bukan sekedar menghindangkan sensasi dan aroma kepentingan media yang memburu rating dan share. Di balik itu, media itu tengah mempertaruhkan objektivitas dan kearifannya.

Beranjak dari pemikiran "sederhana" itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, syaiful HALIM, penulis Gado-gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-ecek dan Memotret Khatulistiwa, akan menghidangkan buku paling baru bertajuk:

TAYANGAN MIRIP VIDEO ARTIS
-- Pertaruhan Objektivitas dan Kearifan Media


Seperti juga buku-buku terdahulu, kali ini sang penulis akan tetap dengan gaya bertuturnya untuk mengungkapkan delapan kekeliruan media dalam memilih dan mengemas tema kasus video porno itu. Nantikan.

Juli 23, 2010

nantikan, MIRIP VIDEO ARTIS

Media adalah perusahaan. Dalam kondisi sekarang, media tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang berdiri atas kebutuhan informasi khalayak. Sebaliknya, media adalah mesin produksi yang ditujukan untuk peraihan kepentingan ekonomi dan politik, sehingga para awak media pun sibuk “menyutradarai” konstruksi-konstruksi realitas yang akan disajikan layar kaca.


Dalam suasana itulah kasus video porno yang diduga dimainkan Ariel “Peterpan”, Luna Maya, dan Cut Tari, menyeruak di antara tema-tema lain. Media telah tergoda untuk mempertaruhkan objektivitas dan kearifannya demi rating dan share. Dan dalam konteks itulah, buku Video Mirip Artis menjumpai Anda.


Buku Mirip Video Artis bukan sekadar memberondong kekeliruan-kekeliruan media televisi dalam memilih tema dan mengemas isu tersebut yang laksana program infotainment. Tapi, buku ini pun mengilasbalik “kesakralan”: tradisi komunikasi, dengan metafora media dan agenda setting-nya; etika komunikasi dan kearifan media; teknik peliputan dan produksi berita televisi; hingga analisis isi media.


Poin akhir buku Mirip Video Artis adalah kearifan media untuk memperlihatkan kembali jati dirinya dan kecerdasan khalayak untuk menyikapi pesan media. Bila media dinilai tidak lagi objektif, lantas bagaimana dengan program infotainment?


Saatnya untuk menyelami halaman demi halaman buku ini sambil bersiap-siap untuk menyikapi persoalan-persoalan pertelevisian di Tanah air secara bijak. Tunggu kehadirannya.[]

Juni 29, 2010

pesta buku JAKARTA 2010


Dapatkan buku
Gado-Gado Sang Jurnalis:
Rundown Wartawan Ecek-Ecek
(Discount 30%)
dan
Memotret Khatulistiwa
(Discount 10%)
di Pesta Buku Jakarta 2010 di Istora Gelora Bung Karno Senayan
Stand Gramata Publishing (No. 49) Ruang Kenanga, 2-11 Juli 2010.

September 28, 2009

GADO-GADO SANG JURNALIS

Suatu ketika saya diminta berbicara teknik produksi feature oleh sebuah lembaga pendidikan di Gorontalo. Lantas seorang peserta bertanya tentang perasaan saya menjadi jurnalis televisi. Pertanyaan yang teramat sederhana. Dan, wartawan pemula sekali pun akan mudah menjawabnya. Bahkan lengkap dengan segala remeh-temehnya. Saya menduga, pertanyaan itu pun sekedar uji nyali sang peserta agar terbiasa menjadi berani di berbagai forum pertemuan. Karena mereka memang calon-calon jurnalis.

Saat itu, saya pun mencoba menjawabnya seringan mungkin. Dalam artian, saya hanya memaparkan apa-apa yang bisa mereka lihat secara jelas. Misal, kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh ternama, kesempatan berpergian ke berbagai daerah dengan segala fasilitasnya, dan tentu saja kesempatan menghimpun pelajaran tentang hidup. Dua jawaban terdepan adalah kenyataan yang nyaris didapatkan oleh kalangan wartawan dari media massa mana pun. Bahkan, siapa pun bisa menyepakatinya tanpa berpikir panjang. Jawaban terakhir? Ups, apa tidak mengada-ada? Atau, sekadar menghiperbolakan persoalan?

Saya sempat berpikir panjang tentang makna “pelajaran hidup” dari pernyataan yang pernah saya ungkapkan itu. Saya sangat yakin jawaban itu tidak salah. Karena, toh saya melontarkan jawaban itu berdasarkan apa-apa yang terekam otak kiri-kanan saya selama bertahun-tahun. Sebaliknya, apakah mahasiswa yang mendengarkan jawaban itu akan memahami dan memaknainya seperti yang saya maksudkan? Belum tentu. Biar bagaimana pun, pengetahuan dan pengalaman mereka masih teramat sedikit untuk memahami pelajaran tentang hidup. Terutama, memaknai pesan-pesan yang didapat dari kehidupan itu sendiri.

Berbekal dari konflik batin itu, saya jadi bersemangat untuk menuliskan cerita tentang profesi jurnalis televisi dan pelajaran hidup yang terekam di dalamnya. Niatan awalnya, karena ingin membuktikan kebenaran atas keyakinan saya itu. Sehingga, konflik batin itu bisa tersalurkan secara positif. []

CATATAN KECIL


Membuat film dokumenter atau news feature sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan baku yang memadai. Sulit jadinya, memang. Tapi, itulah konsekuensi berkesenian.

Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.

Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.

Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.

Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...

Agustus 25, 2009

HADITS QUDSI PUASA


"Demi keagunganKu, kebesaranKu, kemuliaanKu, cahayaKu, dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendakKu kecuali aku cerai-beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya, Aku sibukkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagunganKu dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendakKu di atas kehendaknya kecuali akan aku perintahkan para malaikat untuk menjagaNya. Aku akan jaminkan langit dan bumi sebagai rezekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya."
[Jalaluddin Rakhmat, Madrasah Ruhaniah, 2006]

Juli 16, 2009

THE MAKING OF KISAH SANG RAJAWALI

Ketika menggarap musibah yang dialami almarhum Muhammad Guntur Syaifullah – kamerawan SCTV yang tenggelam bersama kapal Levina I – saya menampilkan simbol burung rajawali untuk menggantikan karakter almarhum. Kenapa harus sang raja burung? Kenapa harus bersimbol-simbol? Dan, kenapa jadi demikian “berat” di mata dan telinga?

Protes soal beratnya naskah episode “Kisah Sang Rajawali” memang harus diakui, sebagai kesengajaan. Pertama, untuk menghindari keseragaman dengan berbagai program lain, termasuk infotainment, yang ramai-ramai menggarap topik itu. Kedua, ini yang paling penting, karena topik kali saya dedikasikan untuk sahabat yang cukup sering berpatner dengan daya di lapangan. Sehingga, ketika ada protes kiri-kanan soal pesan yang demikian “berat”, ah biar!

Sumpah. Kali ini, saya tidak peduli kritik atau pujian apa pun. Namun, semua lillahi ta’ala, untuk menghormati perjalanan seorang sahabat ke alam baqa melalui karya.

Namun, tahukah bahwa tidak mudah bagi saya untuk memilih simbol itu ke dalam cerita. Tiga hari di lapangan, bergaul bersama masalah dan kepanikan teman-teman yang meliput atau ikut mencari, tidak mampu membangun kecerdasan. Dalam artian, tidak seperti biasa, saya tidak memiliki bekal premis atau ide cerita. Apalagi, struktur cerita berbentuk treatment script. Itu terjadi, karena hati sedang galau!

Di malam menjelang deadline, persis tengah malam, saya terbangun. Lalu, kumkum untuk berniat shalat tahajud. Saat mandi malam itu, di kepala saya terdengar lagu “Eagle and Horse”nya John Denver. Lirik dan melodinya menari-nari di kepala. Seketika, tanpa sadar, air mata membaur dengan guyuran air. Bahkan, dilatasi di rongga hidung tidak terasa lagi. Akhirnya, tangis di tengah malam meledak.

Tiba-tiba, saya ingat pernah berjalan bersama di pegunungan Tangkuban Perahu, Bandung, ketika meliput pelatihan SAR bersama rekan-rekan dari PT Dirgantara Indonesia. Meski agak berumur, ia terlihat tetap fit dan bersemangat mengikuti perjalanan.

Pada akhirnya, kelelahan memporak-porandakan kesabarannya. Ia sempat emosi dan naik pitam, ketika berdiskusi di tengah malam. Bahkan, ia sempat menantang berkelahi. Astaghfirullah.

Saya yang merasa lebih sadar, buru-buru minta maaf dan meredakan emosinya. Saya harus berada di depan soal kesabaran, karena sebagai reporter, saya bertanggungjawab untuk berbagai hal di lapangan. Saat itu, kami tidur berpisah. Namun, saya hanya berdoa, semoga saja, ia berubah. Karena, tidak ada persoalan besar yang harus dipertengkarkan. Diskusi recehan yang dibumbui kelelahan saja.

Meski peristiwa itu begitu membekas, dan sempat jadi perbincangan di kantor, ternyata kami bisa baikan kembali. Waktu, tanpa menunggu lama, ternyata bisa mengelus kesadarannya dan membuat lupa “cekcok” tempo hari. Kami berbaikan. Bahkan, saya menjadi kawan bicara pertamanya, ketika ia pulang dengan “cacad” dari liputan berdarah di Ambon. Dikatakan “cacad”, meski ia mempersembahkan gambar-gambar cantik dan momen dasyat, ketika emosinya tak terkendali, ia justru menuntut pulang.

“Cacad” itulah yang membuatnya terdempak dari percaturan para "rajawali", seakan ia bukan "rajawali". Padahal, hasil kerja di Ambon, tentu saja, kelas "rajawali". Bahkan, “cacad’ itu terus berbuntut pada nasib – gaji dan tunjangan lain. Subhanallah.

Luka itu saya dengar berkali-kali di telinga saya. Dan, sekarang, kembali terdengar seakan menjadi narasi dengan lagu “Eagle and Horse” sebagai musik latar. Dramatis. Beruntung tangisan itu hanya milik saya. Karena, istri dan anak-anak masih tidur.

Meski begitu, saya urung menggunakan lagu itu untuk POTRET. Karena, menghormati royalti dan proximity. Tiba-tiba, lagu “Rajawali” milik Kantata Takwa tiba-tiba mengemuka. Maka, saya langsung menulis sambil mengingat-ingat bait demi bait lagu itu.

Di paragraf awal saya tulis; rajawali adalah raja dari seluruh jenis burung di angkasa. Dengan sayap lebarnya, ia senantiasa menjelajahi seluruh ruang angkasa, untuk mengikuti kodratnya, hadir di bumi, mengisi sejarah kehidupan, dan bersiaga mencapai keabadian di alam kekal. Dengan cakar tajamnya, ia membuat sarang dan mencari makan, untuk menghidupi betina dan anak-anaknya.

Rajawali juga merupakan perlambang jiwa nan perkasa, tangguh, tak kenal lelah, dan merdeka. Ia bisa menjelma dalam diri setiap insan, karena anugrah kodrati atau tuntutan keadaan. Dan, ia bisa lahir dari trah mana pun. Bahkan, dengan kalangan sudra atau rakyat jelata. Dan, ia akan menjadi bagian dari sejarah agung, karena keperkasaan kepakan sayap dan cengkeraman jemarinya.

Cerita jurnalis dan sepotong berita adalah kisah rajawali dan sekerat daging. Ia akan menjelajah ke ruang angkasa mana pun, tanpa berpikir rasa lelah dan bahaya. Di benaknya hanya tersimpan sebuah keinginan, memenuhi rasa ingin tahu dan mengabarkannya untuk khalayak.

Seorang jurnalis, yang semula bisa saja berupa seekor burung nuri atau burung pipit, dalam beberapa saat, keadaan menuntutnya menjadi seekor rajawali. Dan, sang raja burung nan perkasa itu pun, senantiasa bersiap mencengkeram berkilo-kilogram daging di mana pun. Sayap-lebarnya akan terus mengepak menjelajah seluruh tempat kejadian. Dan, naluri membimbingnya untuk terus terbang, mencengkeram, pulang ke serang, dan kembali terbang.

Pameran metafora itu mengalir bukan tanpa kendali. Uraian filosofis rajawali saya dapati secara sempurna dari tujuh jilid buku “Syaikh Siti Jenar” karya Agus Sunyoto. Penempatan sang raja burung, dengan keperkasaannya, ketangguhannya, dengan maqom yang mesti didapatnya, sejujurnya ide penulis buku itu. Namun, saya meramunya sebagai bahasa televisi, sekaligus menempatkannya sebagai roh almarhum.

Pemilihan filosofi bercampur “pemaksaan” karakter semakin menjadi yakin, ketika saya melihat fakta nyata di lingkungan para “rajawali”. Saya kadang berpikir, lingkungan dunia jurnalistik tak ubahnya kerajaan burung. Karena, banyak spesies burung di lingkungan pekerjaan itu.

Bedanya dengan alam nyata, “kerajaan burung” nyata itu justru tidak dengan otomatis menempatkan rajawali sebagai raja para burung, meski di dalam kerajaan itu lebih banyak burung jenis itu. Lucu? Iya. Tapi, jangan tertawa. Karena, sesungguhnya menyayat kalbu.

Di “kerajaan burung” yang ditulis sebuah buku bertemakan inspiring stories, burung rajawali bisa menjadi raja. Burung gagak juga bisa menjadi raja. Burung beo juga bisa menjadi raja. Buruk merak pun bisa jadi raja. Pokoknya, burung apa pun bisa. Kecuali “burung” itu!

Maka, gemah ripah loh jinawi yang terlihat, tentu berbeda pula. Idealnya, yang menjadi raja di “kerajaan burung” berasal dari kalangan rajawali. Jadi, bila ini terjadi, ideal sekali. Tapi, bila dewa menghendaki gagak yang menjadi raja? Jangan heran, bila tiba-tiba gagak-gagak lain naik pangkat. Hakekat gagak yang cuma berteriak tanpa bekerja keras, liar, licik, dan rakus, ya tercermin di mana-mana. Akhirnya, burung-burung lain, siap-siap menjadi gagak juga atau terlempar ke sangkar kayu.

Sementara, yang dirinya merasa rajawali, siap-siap terbang tinggi untuk menghindari benturan atau merendahkan terbangnya agar bisa diraih sang raja. Lalu, merendahkan harga dirinya agak masuk dalam lingkaran sang raja. Rajawali yang merana, jadinya. Kalau memberontak, maka ia harus ikhlas terbang di luar lingkaran. Ya, rajawali liar jadinya.

Hasil akhir semua itu, amburadul! Jangan bicara sistem, aturan, norma, atau peraturan. Karena semua itu milik sang Gagak. Dia pasti betul. Apa yang diputuskan bawahannya pun pasti betul. Kita? Elu aja kali, gue nggak!

Kalau burung merak yang menjadi raja, maka suasananya jadi lain lagi. Karena, ia belum tentu akan merekrut merak-merak lain menjadi pendampingnya atau ikut naik jabatan. Tapi, burung-burung yang malas terbang, mulut dan kukunya tak tajam, bisa masuk barisan. Lho? Lha, kan merak hanya kepengin memamerkan bulu-bulunya. One man show, maksudnya. Orang lain nggak boleh. Nah, burung-burung lain, seperti pipit, nuri, atau cicakrowo, ya paling pas jadi pengikut setia. Sekaligus, jadi mentri-mentrinya.

Burung rajawali? Ya, bisa terbang setinggi-tingginya atau masuk kandang besi. Karena, terbang melayang sebebas-bebasnya bakal bikin gerah sang ratu. Atau, nanti dicurigai bakal makar. Maka, biar aman, ya masuk kandang saja. Biar saja ia menangis dan meraung-raung. Yang penting, sang ratu aman.

Walhasil, wal akhiri nasib para rajawali. Sistem, aturan, norma, atau apa lagi yang biasanya ada di lingkungan kerajaan, pupus sudah. Yang ada, ya wangi parfum bercampur asam kemenyan sang ratu. Maklum, sang ratu merokoknya kemenyan. Hi!

Kalau yang yang jadi raja burung beo? Ah, tebak sendiri alurnya. Atau, cari bukunya, deh. Salah-salah kutip, nanti malah dianggap bikin fitnah. Berabe, kan?

Supaya ngggak terlalu ngelantur, kita balik ke cerita penulisan “Kisah Sang Rajawali”. Di paragraf lain, saya menulis; Namun alam fana yang ditinggalkannya seakan tidak ikhlas. Ratusan burung-burung lain, termasuk juga Rajawali-Rajawali yang lebih gagah dan sakti, ikut larut dalam kesedihan. Entah karena merasa iba akan sejarah dan nasib sang rajawali, atau jangan-jangan, sekedar pura-pura simpati. Yang pasti, sanak-famili sang Rajawali merasa bersyukur, masih bisa melihat jasad sang Rajawali dan bisa berlama-lama memandang wajah agungnya.

Keharuan dan rasa iba terus berhamburan, tatkala jasad sang Rajawali diagungkan di hadapan burung-burung lain. Seiring dengan itu, ungkapan-ungkapan rasa duka pun tak henti terhembus ke udara, dan memayungi jasad sang rajawali. Pada hakekatnya, mangkatnya sang Rajawali bukanlah akhir dari kisah kehidupannya. Karena, ia hanya mengakhiri kodratnya sebagai umat di alam fana. Dengan begitu, ia pun berhenti membuat sarang dan mencari sekerat daging untuk sanak-familinya.

Selanjutnya, ia justru mendapati kehidupan lain yang lebih tentram, nyaman, dan abadi. Dan, bagi sang Rajawali, kematian justru merupakan pintu untuk menghantarkan jiwa perkasa, jiwa tangguh, jiwa tak kenal lelah, dan jiwa merdekanya, untuk menyatu dengan cahaya-Nya.

Semula kalimat yang dibold itu ada, tapi video editor justru merayu saya untuk menghapusnya. Khawatir ada yang tersinggung, katanya, nanti elo masuk kandang besi! Karena tidak berpikir apa-apa lagi, selain letih dan galau, saya setuju saja dengan pendapat itu. Yang penting, saya berhasil menuntaskan naskah dan bisa menyaksikan tayangan “berat” itu.

Pada akhirnya, dari cerita di atas saya ingin memberi gambaran, betapa sulitnya merangkai cerita untuk sebuah program. Meski sudah berada di lapangan tidak berarti akan mudah meramu ide, meluruskan teman, apalagi menjadikannya kerangka cerita. Bahkan, waktu yang mendesak pun bukan jaminan. Terlebih lagi, bila emosi terlalu bermain di dalamnya.

Maka, jurus memanfaatkan lagu-lagu populer memang tak bisa dihindari. Lalu, mengingat dan mengontemplasi buku-buku yang pernah dibaca, juga jadi jurus kedua yang perlu dimainkan. Dengan cara itu, kejaran deadline bisa teratasi dan program tetap bisa tayang. Selain itu, secara kulitas, paling tidak berbeda dibandingkan infotainment atau program lain yang digarap secara televisi. Yang paling penting, sebagai filmmaker, kita senantiasa dituntut menampilkan sesuatu yang berbeda dan fresh. Terlebih lagi, bila topik itu terlalu panas.[]

Note:
Tulisan itu didedikasikan setahun kepergian seorang sahabat, sang Rajawali, Muhammad Guntur Syaifullah. Semoga Allah SWT menyediakan tempat terindah di alam barzakh. Amien.

CUT TO BLACK

"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir). Tidak ada surat pemberitahuan resmi. Tidak ada kata perpisahan khusus. Bahkan, tidak ada lagi keharuan. Karena, semua lepas bebas laksana kapas tersapu angin.

Bahkan, saya tidak bisa membalas SMS itu lantaran tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan. Perasaan sedih? Itu sudah terjadi sejak saya berada di dalam tim, tiga tahun yang silam. Air mata? Paling tidak, dua kali saya harus melelehkan air mata. Pertama, ketika menulis tentang almarhum M. Guntur Syaifullah, kamerawan dan sahabat di Liputan6. Dan kedua, ketika Asfriyanto, periset saya di Makassar, terapung-apung hingga enam jam di atas Selat Makassar karena tiang sandeq yang patah. Peristiwa itu juga seakan menjadi firasat, dengan layar sandeq bergambarkan bumper POTRET yang harus masuk ke laut. Ingat lagu rap, "Ke laut aje!"

Karena itu, saya tidak memiliki stok air mata untuk urusan POTRET di"cut to black".

Saya coba ingat catatan kecil ketika berada di dalam tim itu. Atau, ulah para "penggede" yang laksana tuhan (atau lebih tepat disebut Fir'aun) hingga saya bertutur dalam artikel bertajuk "Slamet Gundono Jadi Tuhan". Lantas, ada juga cerita lucu soal penggunaan positioning yang tanpa permisi. Lucu. Hingga, saya tidak memiliki jawaban paling asyik untuk membalas SMS itu, selain "Ya, ikut sedih aja."[]

BENTANG RAGAM BUDAYA INDONESIA

Film Opening atau Opening Bumper atau Identity Tune (ID Tune) secara harafiah berati identitas awal sebuah program. Fungsi ID Tune itu, memperkenalkan ragam atau isi yang akan ditampilkan sebuah program atau film. Ia akan mengajak atau memancing penonton menduga-duga genre atau jenis program yang disajikan. Karena itu, ID Tune juga berkaitan erat dengan selera dan ekspetasi penonton terhadap tontonan. Pada akhirnya, fungsinya bukan hanya memperkenalkan, tapi juga menjadi frame atau pakem sebuah program.

Secara teknis, ID Tune (di stasiun televisi lebih lazim disebut bumper) berfungsi sebagai penanda masuk atau keluarnya suatu tayangan. Sehingga penonton bisa tahu, program itu akan dimulai atau dilanjutkan, atau akan disudahi menuju commercial break (penayangan iklan). Bagi tayangan-tayangan di televisi, opening bumper (untuk pembuka program) dan bumper in/out (pembuka/penutup perogram) menjadi wajib.

Melihat fungsinya yang secara content dan teknis begitu vital, maka sebuah bumper dirancang tidak secara serampangan. Pekerjaan itu biasanya melibatkan banyak personal; produser eksekutif, produser, penata grafis, dan penata musik. Mereka terlibat dalam diskusi panjang untuk menghasilkan sebuah “produk” berdurasi 30 detik itu, dengan harapan, bisa menampilan identitas program yang “kuat” bagi sebuah program.

Di awal penggarapannya, penata grafis dan penata musik biasanya akan menjadi pendengar setia produser eksekutif dan produser. Mereka harus memahami frame dan pesan utama program dan kemasan yang ingin diperlihatkan. Diskusi panjang mengenai kedua hal itu yang akan mengarahkannya untuk merancang kemasan bumper; entah memaksimalkan clip (potongan gambar), penciptaan gambar-gambar animasi, penulisan magic word atau positioning, atau menggabungkan keseluruh elemen itu. Khusus untuk mendapatkan positioning, mereka menyerahkannya kepada produser eksekutif atau produser. Karena, biasanya memang tidak ada tenaga khusus semacam copywriter, yang khusus membantu masalah itu.

Dua tahun yang lalu, saya termasuk orang yang terlibat dalam pembuatan opening bumper program POTRET. Sebenarnya, saya hanya ditugaskan untuk meminta penata grafis membuat bumper baru – sesuai kapasitas yang asisten produser. Pada akhirnya, koordinator penata grafisnya (M. Ridwan) justru mengajak saya berdiskusi panjang. Saya pun terpaksa menemaninya berdikskusi, karena memang ia merasa tidak tahu, harus berdiskusi dengan siapa?

Bumper yang dulu, dengan clip utama upacara tabuik di Sumatra Barat, dianggap sudah tidak up-date. Padahal, bumper versi tabuik itu tergolong kuat secara visual dan musik. Sehingga, pesan tentang isi dan bingkai programnya begitu jelas.

Sebagai bumper pengganti, Ridwan meminta saran tentang gambar-gambar terbaik yang pernah kami buat. Selebihnya, ia sendiri yang memilih dan merangkainya dalam sebuah kesatuan. Tidak cukup hanya di situ, ia juga merasa perlu menampilkan positioning dalam bumper barunya nanti. Dalam hitungan detik, saya langsung menuliskan empat kata sakti “BENTANG RAGAM BUDAYA INDONESIA”.

Kenapa harus kalimat itu yang muncul? Karena, saya berpendapat, program itu merupakan bentangan beragam budaya di tanah air. Sejak muncul dengan bumper versi tabuik, POTRET memang hanya menampilkan cerita budaya. Lebih khusus lagi, budaya masyarakat tradisional dan terpencil di berbagai daerah. Frame inilah yang dipegang kuat dan membentang selama beberapa tahun. Karena itu, hanya kesimpulan bahwa program itu membentangkan keaneka-ragaman budaya di tanah air, yang muncul seketika. Namun, agar menjadi bahasa iklan yang ringkas dan sederhana, maka kata-kata dasar tiap kata itulah yang ditampilkan.

Ridwan tidak mempedulikan doal pemilihan kalimat yang saya tulis di atas selembar kertas itu. Padahal, asal tahu saja, kalimat itu dibuat secara spontan dan tanpa pemikiran yang lama. Entah karena ia percaya dengan penguasaan saya dalam mengolah positioning (sebelumnya, ia juga tahu bahwa saya pernah bekerja sebagai copywriter). Atau, karena ia merasa cocok dan tidak perlu berdebat panjang. Akhirnya, ia menugaskan Budi Utomo untuk mengeksekusi rancangan bumper baru itu. Sedangkan, Aris Widagdo mendapat jatah menggarap musik latarnya.

Hasilnya, bumper versi peti harta karun. Bumper itu menampilkan visual utama peti harta karun terbuka dan menampilkan sejumlah clips. Salah satu gambar yang ditampilkan (penyelam alam Teluk Bone) merupakan rekaman saya sendiri saat menggarap “Penyelam-Penyelam Teluk Bone”. Di antara clips, juga ditampilkan dua garis pembatas bertuliskan positioningBENTANG RAGAM BUDAYA INDONESIA”. Kecil sekali point yang dipilih, sehingga tidak terlalu jelas di layar. Saat itu, kami memang hanya menjadikannya pelengkap.

Meski siap dipresentasikan, saya dan Ridwan merasa tidak puas dengan hasil akhirnya. Karena itu, kami jadi berpikir tentang bumper alternatif. Kali ini, saya berdiskusi makin intensif dengan Ridwan menyangkut content.

“Lukisan tangan adalah kreasi seni pertama manusia dan perjalanan kebudayaan manusia. Melalui semprotan yang membentuk lukisan tangan di dinding goa, maka hadirkan gambar-gambar perjalanan budaya lain,” kata saya.

Ridwan berpikir keras. Kali, ia justru merasa tertantang untuk mengolah ide kedua bumper itu. Lalu, saya ikut membantu memilihkan potongan gambar untuk ditampilkan dalam bumper itu. Dan, Budi Utomo tetap menjadi eksekutor. Hasilnya, lahirlah bumper versi telapak tangan, yang tidak jauh berbeda dengan bayangan saya. Bahkan, Budi menambahkan bola dunia yang berputar berlatar belakang lukisan tangan. Sedangkan, tune latar seperti bumper versi peti harta karun.

Singkatnya, kedua bumper itu pun saya serahkan kepada Kepala Progsus. Karena, ia yang berwenang mempresentasikannya ke Pemimpin Redaksi. Dan, saya merasa, tugas saya sudah selesai dan harus fokus ke rencana dan penggarapan produksi. Hasil akhir, mereka sepakat memilih bumper versi telapak tangan.

Seorang teman yang pintar membaca semiotik lukisan tangan di dinding goa sempat mengingatkan saya (ketika bumper itu disetujui dan ditayangkan), ”Hati-hati mas, saya merasa ada gambaran mas terlalu menonjol. Ibaratnya, seorang Syaiful Halim yang ingin menjelajah dunia.”

Saya cuma tersenyum mendengar prediksinya. Karena, saya hanya berpikir melaksanakan permintaan tugas. Plus-minus hasilnya, toh mereka juga yang memutuskan. Tapi, dugaannya, terrnyata tidak meleset.

Setelah empat kali penayangannya, saya mendengar kasuk-kusuk yang berkeinginan menggusur bumper itu. Saya tidak berani suudzon, karena saya anggap tidak produktif dan mengganggu perjalanan kreatif berikutnya. Saat itu, saya hanya membatin soal dugaan-dugaan siapa yang bermain dan berambisi melakukan “kekotoran kreatif" itu. Saya hanya membayangkannya, seperti Pramudya menggusur karya-karya Renda dan kawan-kawan di zaman Orde Lama. Entah tragis atau menyesakkan. Yang pasti, saat itu, saya tidak terlalu peduli dan terus saja berpikir positif.

Walhasil, bumper versi telapak tangan diganti bumper versi harta karun. Jawaban itu, memang menjadi obat mujarab untuk menyejukkan pikiran dan hati untuk tidak emosi. Karena, bila Tuhan tidak berkehendak, maka sebuah penzhaliman atau penistaan tidak akan terjadi. Yang Mahaadil berkehendak, karena Ia tengah mencintai hambaNya dan tengah membimbingnya ke jalan lurusNya. Amien.

Namun, bila menyimak kembali batasan atau definsi opening bumper atau apalah namanya, maka perlu dipikirkan pula latar belakang, frame program, dan target yang dibidik. Maksudnya, agar bumper itu tidak sekedar pembuka dan penutup program atau menuju jeda iklan. Tapi, jadikan ia ikatan kuat dengan isi yang ditampilkan. Plus, konstan hingga program itu ditutup atau berganti rupa lagi. Barangkali pembelajaran seperti ini teramat mahal, sehingga enggan dilirik dan dicermati. Tapi, inilah bukti kecerdasan krator-kreator yang bekerja untuk stasiun televisi swasta nasional.

Ketika Wawan “Si Kunyuk” asyik memilih-milih lagu di blog Ilalang Senja-nya, saya memintanya memutarkan lagu “Hua ha ha ha ha” yang ditulis Iwan Fals dalam album Dalbo.

# Hua ha ha ha ha ha
# Hua ha ha ha ha ha
# Bukalah mulut kamu
# Lantangkan saja suaramu

Juni 22, 2009

THE MAKING OF KAJANG

Situs Possi Tana, perempuan suku Kajang menyanyikan "Kelong Basing", bertamu ke rumah Ammatoa, meneliti makam bangsawan suku Kajang, dan bergaya di depan rumah Ammatoa.
(Memotret Khatulistiwa, suaiful HALIM, 2009)

Juni 20, 2009

THE MAKING OF SEANOMEDIC

Melintasi Padang Pajjonganae, bertanya tentang presiden, menyusuri perairan Teluk Bone, memotret setiap kehidupan suku Bajo, dan menggambarkan manusia perahu atau seanomedic.
(Memotret Khatulistiwa, syaiful HALIM, 2009)

Juni 11, 2009

THE MAKING OF GOA

Menyusuri sungai Ramang-ramang, menapaki sawah dan rawa, menerobos goa-goa, dan bercerita di hadapan api unggun.
(Memotret Khatulistiwa, syaiful HALIM, 2009)

Maret 30, 2009

MONUMEN POTRET


Tiga tahun yang lalu – ketika masih harus mengarungi laut demi laut, melintasi sungai demi sungai, menaiki gunung demi gunung, menapaki hutan demi hutan, dan menghampiri satu demi satu suku terasing di tanah air – sempat membuat catatan kecil di laman blog saya. Bukan sekedar catatan, sebenarnya. Buat saya, hal itu merupakan monumen untuk mengingat sebuah situasi atau perjalanan hidup. Persisnya, ketika bekerja di program POTRET. Isinya seperti ini:

Membuat film dokumenter atau feature TV sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan baku yang memadai. Sulit jadinya, memang. Tapi, itulah konsekuensi berkesenian.

Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.

Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.

Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.

Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...

"Bisa bertahan saja sudah merupakan kemenangan". (Xinran, Sky Burial, Serambi)


Ketika catatan itu ditulis, saya tidak pernah memikirkan dampak atau resiko yang harus diambil. Karena, tulisan itu hanyalah monumen untuk diri-pribadi dan tidak ada kaitannya dengan siapa pun. Meski tidak ada reaksi langsung di hadapan saya, sejumlah teman sempat mengingatkan akan ketersinggungan pihak-pihak yang kemungkinan dimaksud sebagai mandor atau pemilik bangunan. Jawaban saya, haknya mereka untuk tersinggung atay marah. Tapi, haknya saya juga untuk mengenang segala perlakukan dan “apreasiasi” yang didapat dari mandor atau pemilik bangunan itu.

Tapi, saya tidak akan berpanjang-panjang tentang siapa yang dimaksud sebagai mandor atau pemilik bangunan dalam konteks itu. Serta, hal apa yang melatarbelakangi penulisan catatan kecil itu. Sekali monumen tetap monumen. Jadi, fungsinya tak lebih dari tugu peringatan. Jadi, tidak dikondisikan untuk “menghajar” atau mempermalukan pihak mana pun. Kenapa harus blog? Karena, hanya ruang itu yang saya miliki dan bisa dijumpai para “tukang” atau “kenek” sebebas-bebasnya. Ya, sebagai tugu peringatan juga buat mereka.

Akhir tahun lalu – setelah setahun lebih tidak lagi bekerja untuk program POTRET – saya mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat. Maka, saya pun kembali “membangun” monomen baru dib log saya untuk program dokumenter itu. Isinya seperti ini:


"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir). Tidak ada surat pemberitahuan resmi. Tidak ada kata perpisahan khusus. Bahkan, tidak ada lagi keharuan. Karena, semua lepas bebas laksana kapas tersapu angin.

Bahkan, saya tidak bisa membalas SMS itu lantaran tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan. Perasaan sedih? Itu sudah terjadi sejak saya berada di dalam tim, tiga tahun yang silam. Air mata? Paling tidak, dua kali saya harus melelehkan air mata. Pertama, ketika menulis tentang almarhum M. Guntur Syaifullah, kamerawan dan sahabat di Liputan6. Dan kedua, ketika Asfriyanto, periset saya di Makassar, terapung-apung hingga enam jam di atas Selat Makassar karena tiang sandeq yang patah. Peristiwa itu juga seakan menjadi firasat, dengan layar sandeq bergambarkan bumper POTRET yang harus masuk ke laut. Ingat lagu rap, "Ke laut aje!"

Karena itu, saya tidak memiliki stok air mata untuk urusan POTRET di
"cut to black".

Saya coba ingat catatan kecil ketika berada di dalam tim itu. Atau, ulah para "penggede" yang laksana tuhan (atau lebih tepat disebut Fir'aun) hingga saya bertutur dalam artikel bertajuk "Slamet Gundono Jadi Tuhan". Lantas, ada juga cerita lucu soal penggunaan positioning yang tanpa permisi. Lucu. Hingga, saya tidak memiliki jawaban paling asyik untuk membalas SMS itu, selain "Ya, ikut sedih aja."


Beberapa hari yang lalu, kembali saya menerima pesan singkat tentang program POTRET. Katanya, Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya POTRET dapat penghargaan Panasonic Award…

Kali ini saya bahagia, karena saya melihat rona bahagia dalam kalimat yang disampaikan teman saya tadi. Karena, dalam benaknya pasti terlintas sebuah pemikiran, ternyata sang “anak tiri” mendapatkan pengakuan dari dunia luar. Terlambat?

Tidak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan, kata orang-orang bijak. Pada 2006, POTRET menjadi salah satu nominasi dalam ajang penghargaan itu. Namun, seseorang menangggapi secara secara dingin seraya berkilah, “Wajar saja, POTRET kan program tua.” Artinya, ada ketidakikhlasan dari orang-orang yang sebut sebagai “mandor” atas prestasi itu. Kalimat itulah yang menjadi dasar “pembangunan” monumen pertama seperti diceritakan di atas. Bahkan, ketika program itu dilikuidasi – ketika sebagian besar teman berduka – ternyata para “mandor” tetap tertawa senang. Sehingga, saya pun merasa perlu “membangun” monumen kedua.

Bagi saya, penghargaan yang didapat secara terlambat – karena didapat setelah programnya ditutup – merupakan monumen abadi POTRET. Penghargaan itu menjadi bukti, POTRET pernah ada dan menjadi bagian dari penonton televisi di tanah air. Dan, kalau mau jujur, program itu juga menjadi inspirasi bagi program sejenis yang dibuat stasiun lain. Perkara rating dan share memang hantu-belao yang terus membayangi perjalanan sebuah program televisi. Sehingga, bila kedua hal itu tidak memenuhi target sangat wajar untuk digantikan infotainment atau reality-show yang tidak mendidik sekali pun. Karena, pendirian televisi di negeri kita memang tidak ditujukan untuk mendidik anak-anak bangsa(?)

Sebagai orang yang pernah bekerja di program itu, saya tetap bangga. Karena, kami pernah memberikan warna bagi wajah pertelevisian kita dan menawarkan kisah nyata negeri ini. Saat itu, kami juga bangga, dalam posisi sesulit apa pun masih tetap menghadirkan bentangan ragam budaya kita.[]

November 20, 2008

CUT TO BLACK

Tiang sandeq dengan layar bergambar bumper POTRET patah. Firasat akan di"cut to black"nya POTRET setahun kemudian?

"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir).

Saya tidak bisa membalas SMS yang bisa memuaskan perasaan teman saya itu, selainn menjawabnya, "Ya, ikut sedih aja."[]

November 10, 2008

PEMAKAMAN TOKOH SUMBA TIMUR

Akhirnya, masa penantian itu berakhir juga. Setelah disemayamkan selama tiba bulan, akhirnya warga Perkampungan Adat Rende, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bisa menyaksikan salah satu tokoh adat dan pemerintahan di kabupaten itu mendapati peristirahatan terakhirnya. Senin (10/11) mendatang, jasad mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda akan dimakamkan secara adat.

Acara itu menjadi menarik bukan karena ketokohan almarhum Umbu, tapi juga berkaitan dengan atmosfir budaya yang akan disajikan. Hingga, 135 rombongan adat yang masing-masing beranggotakan sekitar 250 orang dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, tidak akan melepaskannya begitu saja. Mereka diperkirakan akan berdatangan mulai Ahad (9/11) dan diterima secara adat di Huma Bokul atau rumah besar.

Rencananya, ritual pemakaman diawali dengan pemotongan delapan ekor hewan, yakni dua pasang kuda dan dua pasang kerbau. Setelah itu, jenazah dikeluarkan dari rumah besar menuju lokasi pemakaman dikawal papanggang atau penjaga jenazah selama persemayaman.

Papanggang terdiri atas pasangan lelaki yang menunggang kuda dan membawa ayam dan perempuan yang membawa sirih-pinang. Mereka mengenakan pakaian kebesaran dilengkapi perhiasan emas.

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, warga akan memotong empat ekor kuda dan empat ekor kerbau. Sedangkan delapan ekor hewan yang dipotong sebelum jenazah dimakamkan dibuang ke pinggir kampung, untuk dimanfaatkan warga setempat. Pihak keluarga tidak boleh mengonsumsi hewan itu, apalagi untuk menjamu para pelayat.

Keluarga besar almarhum memang menyiapkan hewan tersendiri untuk dihidangkan ke para pelayat. Untuk kebutuhan konsumsi sekitar 4.000 pelayat, mereka telah menyediakan hampir 300 ekor hewan.

Selain urusan perut dan rincian acara, keluarga besar almarhum juga menyiapkan batu nisan khusus seberat 32 ton berbentuk perahu, dengan dua penji atau tiangh berrelief. Bahkan, pihak keluarga harus memboyongnya dari Bukit Kampung Rende yang letaknya cukup jauh dari rumah besar.(SHA/Liputan6.com)

September 11, 2008

MISTERI ISTANA KERAJAAN MAJAPAHIT

Setelah menemukan pusat kota dan kegiatan sakral pada zaman Majapahit, ternyata keberadaan istana Kerajaan Majapahit masih misteri. "Sulit menemukan lokasinya," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, I Made Kusumajaya, Kamis (11/9).

Pusat kota imperium terbesar nusantara kuno ini, kata Made, terletak di Desa Segaran, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, dengan luas 4 x 5 kilometer. "Sedangkan pusat kegiatan sakralnya seluas 11 x 9 kilometer," katanya.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan batu kuno setebal 80 sentimeter, yang dianggap pagar bangunan zaman Majapahit di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk. Para peneliti menduga, istana kerajaan berada di sekitar Segaran.

"Kalau kami teliti lebih jauh, ternyata hal itu merupakan strategi Hayam Wuruk agar tidak mudah diserang musuh. Biasanya pusat kerajaan zaman dulu berada di kawasan pantai," kata Made.

Tim peneliti berasal dari Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Udayana Denpasar, Universitas Indonesia Jakarta, dan Universitas Gajah Mada . Fokus penelitian pada prilaku masyarakat Majapahit.

"Kami membandingkan prilaku masyarakat Majapahit dengan prilaku masyarakat Bali, karena ada kemiripan," kata Made. "Namun, penelitian baru mencapai target sekitar 20 persen."(SHA/LIPUTAN6)


September 10, 2008

PENULIS "HARRY POTTER" MENANGKAN GUGATAN

JK Rowling, pengarang serial Harry Potter, memenangkan gugatan untuk mencegah penerbitan kamus Harry Potter. Hakim Pengadilan Distrik AS di Manhattan mengatakan, penerbitan kamus itu melanggar hak cipta dan dapat menyebabkan kerugian besar kepadanya.

Dalam pembelaannya, Steven Vander Ark, pengarang "The Harry Potter Lexicon" mengatakan, kamus setebal 400 halaman itu dilindungi UU hak cipta. Sebaliknya, Rowling bersikeras bahwa buku itu sama dengan pencurian semua kerja kerasnya saya selama 17 tahun.

"Kamus itu terlalu banyak memuat karya kreatif Rowling sebagai rujukan," kata jaksa. "Karena itu, harus segera dikeluarkan perintah untuk mencegah penyebaran karya serupa dan mengikis semangat pengarang asli untuk menciptakan karya-karya baru."

Rowling menyambut baik keputusan itu. "Gugatan itu bertujuan, untuk mengukuhkan hak para pengarang di mana pun. Agar karya asli mereka terlindungi," katanya.(SHA/LIPUTAN6)

NOTE:
Entah di negara kita, apakah perjuangan seperti JKR membuahkan hasil? Jadi ingat, cerita positioning yang dipakai diam-diam alias tanpa izin.

Agustus 26, 2008

MEGENGAN, TRADISI RAMADHAN SUKU SAMIN

Hari-hari mendekati bulan puasa, komunitas adat Samin di Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, disibukkan tradisi megengan atau kenduri. Setiap warga di dusun itu saling mengundang warga lain untuk mengikuti tradisi itu di rumahnya.

Di Dusun Jepang, lokasi komunitas itu, bermukim 216 kepala keluarga dengan 572 jiwa. Bila setiap keluarga menggelar tradisi itu, maka mereka benar-benar tidak memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan lain.

"Puncak acara biasanya pada dua hari sebelum puasa," kata Muhammad Miran, tokoh masyarakat di dusun itu. Selain membaca doa bersama-sama, katanya, tradisi itu ditutup dengan pemberian buah tangan kepada setiap tamunya saat pulang.

Miran termasuk tokoh masyarakat yang sering diminta memimpin doa dalam tradisi itu. Dulu, ia pernah "nyantri" di Pondok Pesantren Magelang, Jawa Tengah.

"Beberapa tahun terakhir, sudah banyak warga yang bisa memimpin doa. Termasuk dari kalangan pemuda. Bahkan, mereka juga sudah mampui menjadi imam sahalat tarawih," kata Miran.

Suasana bulan puasa di dusun itu, kata Miran, bukan hanya saat menggelar tradisi megengan. "Jamaah shalat tarawih juga terus bertambah, termasuk anak-anak," katanya.

Pada 1995, warga komunitas itu melaksanakan shalat tarawih di Masjid Al Huda. Masjid itu dibangun atas dukungan Hardjo Kardi, trah terakhir pendiri komunitas adat Samin, Samin Surosentiko. Sekarang, dusun itu telah memiliki dua tempat ibadah lain, yang juga menyelenggarakan ibadah di bulan Ramadhan itu.

"Rata-rata setiap masjid atau mushalla diikuti 20 hingga 30 jamaah", kata Miran. "Namun untuk shalat ied dilaksanakan di Masjid Al Huda.(SHA/LIPUTAN6)


Agustus 25, 2008

TEORI DARWIN BERMULA DARI TERNATE

Teori evolusi Charles Robert Darwin, ternyata bermula dari penelitian yang dilakukan Alfred Russel Wallace di Ternate, Indonesia. Demikian Profesor Doktor Sangkot Marzuki, Direktur Lembaga Eijkman, seperti disampaikan Sekretaris Kedua PTRI Jenewa, Yasmi Adriansyah, Jumat (22/8).

Menurut Profesor Sangkot, selama ini publik beranggapan Teori Evolusi merupakan buah pemikiran dan hasil penelitian dari Charles Robert Darwin, peneliti berkebangsaan Inggris kelahiran 1809. Ia meyakinkan dunia dengan Teori Seleksi Alam-nya itu dalam buku "On the Origin of Species" pada 1859, yang berisikan argumentasi dan fakta ilmiah asal-usul spesies makhluk hidup.

Anggapan publik dalam konteks sejarah, katanya, tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar. "Sebenarnya, Teori Seleksi Alam dicetuskan Alfred Wallace melalui tulisannya 'On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type' pada 1858, atau setahun sebelum penerbitan buku Darwin," kata Profesor Sengkot.

Ia mengatakan, terdapat kemiripan antara Teori Darwin dan hasil penelitian Wallace. "Pada 1858, Wallace kerap melakukan korespondensi dengan Darwin, termasuk mengirimkan sejumlah hasil penelitiannya. Wallace merupakan peneliti yang miskin dan tidak jarang mendapatkan bantuan finansial dari Darwin," katanya.

Fakta itu sangat penting bagi Indonesia, kata Profesor Sengkot, mengingat sebagian besar penelitian Wallace dilakukan di Indonesia, khususnya di Ternate.

Selain pertama kali mencetuskan Teori Seleksi Alam, Wallace juga menelurkan konsep-konsep terkenal seperti Garis Wallace (Wallace Line), garis yang membelah kawasan geografis hewan-hewan Asia dan Australia. Garis-garis itu melintang di sepanjang kepulauan Nusantara (Pulau Kalimantan dan Sulawesi), serta memisahkan Selat Lombok dan Pulau Bali.

Selama melakukan penelitian antara 1854 sampai 1862 itu, Wallace berada di Indonesia. "Terdapat bukti historis, Wallace memiliki tempat tinggal di Ternate," kata Profesor Sengkot.

Berdasarkan fakta itu, Komunitas Ilmiah Indonesia akan merayakan 150 Tahun Teori Evolusi Wallace pada akhir tahun 2008, dalam bentuk diskusi dan pameran multimedia. Tujuannya, menarik perhatian komunitas internasional. Puncaknya, konferensi internasional di Ternate, tempat Wallace banyak melakukan penelitian hingga mengukuhkan diri sebagai ilmuwan pertama pencetus Teori Evolusi.(SHA/LIPUTAN6)

Note:
Kontroversi menyangkut sebuah temuan selalu bermunculan. Terlebih, untuk temuan-temuan yang "seksi" dan mendunia. Kasus terbaru, kontrovesi dan polemik temuan Homo Floresiensis di Liang Bua, Flores. Jauh dibelakang cerita itu juga berhembus persaingan sesama ilmuwan, lokal dengan lokal, lokal dengan asing, atau asing dengan asing. Tapi, inilah pertarungan mengungkap sebuah kebenaran.