Oktober 14, 2009

ORANG SAMA, ORANG LAUT, DI MANAKAH KAU BERADA?


Empat jam di atas perahu motor, tiga kali melintasi tasik yang berair bening, barulah kami bertemu dengan Langkepe (70 tahun). Seminggu sebelumnya, kami telah mencarinya di Teluk Bone namun tanpa hasil, sampai tiga hari yang lalu ada nelayan yang memberitahu bahwa Langkepe berada di sekitar Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Ketika akhirnya bertemu, ia tampak ketakutan dan bersiap-siap melompat dari perahunya. Pemandu kami, yang kebetulan masih memiliki pertalian keluarga dengannya, menyapa dalam bahasa Sama. Terjadi perdebatan sedikit, sampai akhirnya Langkepe mengiyakan. Ia pun mengajak kami merapat ke pantai. “Dulu saya pernah ditangkap oleh petugas yang datang bersama sepupu saya ini,” kata Langkepe.

Mungkin Langkepe adalah satu-satunya orang Sama yang masih melakoni hidup sebagai manusia perahu. Sebab setelah adanya pembagian dana kompensasi BBM pada tahun 2004, orang-orang Sama yang tadinya masih melakoni kehidupan sebagai manusia perahu, lebih memilih memiliki alamat tetap sebagai prasayarat untuk mendapatkan dana tersebut.

Dibandingkan dengan fotonya di tahun 1995 yang kami peroleh dari seorang peneliti, Langkepe saat ini tampak semakin tua. Rambutnya telah memutih. Cuma satu hal yang masih bertahan, mungkin kebiasaannya bertelanjang dada dan kulitnya yang gelap. Lewat foto itu pula kami menjadi akrab. “Meninggalmi itu Baso, pak; dikuburkanmi di Lasusua,” katanya menjelaskan anak kecil yang ada di pangkuannya, dalam foto lama itu.

Secara fisik, orang-orang Sama yang melakoni hidup sebagai manusia perahu, memiliki dada yang lebih bidang, badan yang tipis, sehingga bentuk badannya dari pusar sampai ke bahu akan berbentuk segitiga terbalik. Badan dan lengan beorotot namun otot kaki tidak begitu berkembang. Para ahli memperkirakan bentuk fisik itu disebabkan kaki orang Sama jarang beraktivitas. Nah, Langkepe memenuhi ciri-ciri itu, suatu hal yang sudah sangat jarang ditemukan pada orang-orang Sama yang telah bermukim di daratan.

Dalam tulisan ilmiah, orang Sama, orang Bajo, atau orang laut adalah istilah yang sama untuk komunitas sea nomadic. Tahun 1980 keberadaan mereka kian terancam oleh program Departemen Sosial yang ingin merumahkan mereka di darat. Ketika itu, banyak rumah perahu (soppe) orang Sama yang dibakar dan penghuninya dipaksa untuk menetap. Namun sebagian lagi masih berusaha untuk kucing-kucingan.”Perahu soppe saya sudah tidak ada lagi. Sekarang saya pakai perahu biasa. Dua kali sudah dibakar pamarenta perahu soppe saya,” begitu kata Langkepe ketika ditanya tentang perahu soppenya seperti yang ada di foto itu..

Langkepe bercerita, pada tahun 1998 ia ditangkap oleh tim dari Departemen Sosial, kemudian dirumahkan di salah seorang kerabatnya. “Sakit-sakitan badanku, nak, kalau di darat. Tidak nyenyak tidurku”. Ia bahkan sempat dituduh gila setelah istrinya meninggal dunia. Di antara tekanan seperti itu ia kemudian berusaha merakit kembali perahu dari papan-papan bekas. Setelah itu, bisa ditebak, ia lari dan kembali melakoni hidupnya sebagai manusia perahu. Sejak peristiwa itu, ia sangat takut bila bertemu dengan rombongan berperahu motor dengan penumpang yang berbaju coklat dan berambut cepak.

Walaupun kembali melakoni hidup sebagai manusia perahu, namun karakteristik perahu soppe orang Sama yang khas, tidak dimilikinya lagi. Perahu soppe orang-orang Sama sangat unik. Perahu itu bentuknya seperti kuali yang mengapung, memiliki dasar yang lebar dan sisi perahu yang sangat rendah dari permukaan laut. Perahu ini sangat stabil dari hempasan ombak dan sulit untuk tenggelam. Namun untuk menjalankan perahu semacam itu tidak mudah sebab jika dikayuh, akan berputar-putar dan tidak bergerak maju. “Susahmi cari pohon besar untuk bikin perahu soppe sekarang. Habis semuami ditebang,” katanya.

Mitos dan fakta

Saat ini orang-orang Sama telah memeluk agama Islam, namun jejak-jejak religi purba mereka masih dapat ditemui terutama dalam senandung iko-iko (tradisi lisan). Mereka percaya telah ditakdirkan untuk menghuni lautan.

Konon ketika Sawerigading (tokoh dalam cerita La Galigo) hendak membuat perahu mengunjungi Tana Cina untuk mencari permaisuri, dibutuhkan perahu yang sangat besar. Berdasarkan petunjuk para Bissu, pendeta suci orang Bugis, letak pohon itu ada di sebuah bukit yang bernama Mangkutuk, di suatu tempat yang beranam Ussuq di sekitar Luwu Timur sekarang. Pohon itu bernama Walenrenge, yang akarnya menghunjam ke pusar bumi dan dahannya menggapai awan. Di dahannya bermukim jutaan burung yang dijaga ribuan mambang dan peri.

Alkisah, ratusan anak bangsawan dan raja-raja yang dikerahkan oleh Sawerigading untuk menebang pohon itu gagal. Pohon itu tidak bisa ditebang dengan kapak biasa. Kemudian Sawerigading menuju botting langi, negeri para dewa untuk meminjam kapak. Dengan menggunakan kapak pemberian dewa, Sawerigading berhasil menebang pohon Walenrenge. Robohnya pohon itu mengguncangkan penghuni dunia atas dan dunia bawah, ribuan telur burung yang ada di pohon itu kemudian berjatuhan dan pecah.

Demikian dahsyatnya peristiwa itu, telur-telur burung yang pecah mendatangkan banjir besar, menyapu penduduk yang dilandanya. Mereka yang terbawa banjir kemudian bermuara di lautan. Yang tidak bisa bertahan hidup menjadi gugusan karang tempat dunia arwah. Sedangkan yang bisa bertahan hidup itulah kemudian dikenal sebagai tu ri je’ne atau orang yang hidup di laut. Orang Sama percaya itulah cikal bakal mereka; yang tidak akan pernah mati tenggelam di lautan. Laut telah ditakdirkan untuk mereka. Cumi-cumi, hiu, pasik (gusung) adalah sahabat dalam satu harmoni, sukma laut. Bahkan dalam satu kronik Makassar orang-orang Sama pernah dipakai oleh Raja Gowa sebagai pasukan penyelam yang ditugasi melubangi kapal-kapal perang Belanda pada Perang Makassar abad ke-16.

Bahasa Sama berbeda dengan bahasa Bugis atau Makasar. Dalam konteks lingustik, bahasa Sama sangat dekat dengan bahasa Melayu yang pernah menjadi lingua franca di Nusantara. “Biasanya kalau kami ketemu orang Sama dari Sumatera, kami pakai baong (bahasa) Melayu atau baong Sama. Baik Sama dari Filipina maupun Sama dari Timor pasti mengerti,” kata Kidung, seorang Lolo Sama yang pernah melakoni kehidupan perahu selama 40 tahun.

Namun uniknya, dahulu setiap Orang Sama paling tidak mengusai dua atau tiga bahasa selain bahasa Sama. Pertama, bahasa suku-suku yang menjadi perlintasan armada perahu mereka. Misalnya orang-orang Sama yang ada di Teluk Bone juga memahani bahasa Bugis, atau orang Sama yang ada di sekitar kepulauan Bitung juga menguasai bahasa setempat. Bahasa kedua adalah baong Melayu. Bahasa ini justru menjadi bahasa yang dipakai ketika bertemu dengan komunitas sea nomadic lainnya. Menariknya bahasa Melayu orang Sama berbeda dengan bahasa Melayu seperti yang dipakai penutur di Riau dan Semenajung Malaysia. Walaupun demikian, beberapa kata semisal saluar, pinggan, masuk dalam kosakata baong Melayu orang Sama. Tidak menutup kemungkinan bahasa Melayu yang masih dipakai oleh komunitas Sama itulah yang merupakan bahasa lingua franca di Nusantara pada masa lalu. Peran ahli etnolingustik tentu sangat membantu penyelidikan ini ke depan

Memasuki tahun 1980-an orang-orang Sama sudah tidak tinggal di laut lagi. Mereka dirumahkan. Namun pekerjaan mereka sebagai nelayan masih tetap dilakoni. Perubahan dan pemaksaan pola kehidupan mereka dari lautan ke darat ternyata harus dibayar mahal. Dahulu laut dan isinya menjadi guru yang bijak. Mereka tahan dingin, angin laut dan bebas dari tekanan minimnya air tawar dengan mengosumsi kima, sejenis kerang besar yang banyak mengandung air tawar. Dahulu mereka dapat menyelam belasan menit di kedalaman 20 meter untuk menombak ikan tanpa tabung udara. Kini mereka bisa bertahan selama belasan jam tanpa muncul ke permukaaan. Hanya yang terakhir ini mengandalkan kompresor yang biasa dipakai oleh tukang tempel ban. Akibat kompresor itu pula, banyak di antara mereka yang lumpuh dan meninggal di dasar laut akibat dekompresi dan keracunan oksigen.

Kini setelah beberapa abad, laut dan orang-orang Sama menjadi dua kutub yang berbeda, tidak lagi berdamai. Juga dalam jurnal ilmiah, mereka menjadi subyek dalam pelatihan budidaya laut, pelatihan menangkap ikan yang ramah lingkungan. Bahkan tidak dapat dibantah mereka dikategorikan sebagai pelaku yang paling bertanggung jawab sebagai perusak terumbu karang dan aktivitas pengeboman ikan.

Sore itu setelah Langkepe memandu kami menyusuri terumbu karang yang masih tersisa. Dari sisi kanan perahu motor, tiba-tiba ia melompat ke dalam air. Cukup lama sehingga membuat kami cemas. Namun di saat sebagian anggota tim bermaksud menyusul dan telah mengenakan kembali peralatan selam, Langkepe muncul ke permukaan. Di pangkuannya tergolek seekor ikan kerapu berbobot 30 kg, masih hidup namun tampak sangat tenang seperti bayi yang dipangku oleh sang ibu.

Ah Langkepe, kau perlihatkan kembali kehebatan budaya yang masih tersisa dalam dirimu.[ASFRIYANTO]

September 28, 2009

GADO-GADO SANG JURNALIS

Suatu ketika saya diminta berbicara teknik produksi feature oleh sebuah lembaga pendidikan di Gorontalo. Lantas seorang peserta bertanya tentang perasaan saya menjadi jurnalis televisi. Pertanyaan yang teramat sederhana. Dan, wartawan pemula sekali pun akan mudah menjawabnya. Bahkan lengkap dengan segala remeh-temehnya. Saya menduga, pertanyaan itu pun sekedar uji nyali sang peserta agar terbiasa menjadi berani di berbagai forum pertemuan. Karena mereka memang calon-calon jurnalis.

Saat itu, saya pun mencoba menjawabnya seringan mungkin. Dalam artian, saya hanya memaparkan apa-apa yang bisa mereka lihat secara jelas. Misal, kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh ternama, kesempatan berpergian ke berbagai daerah dengan segala fasilitasnya, dan tentu saja kesempatan menghimpun pelajaran tentang hidup. Dua jawaban terdepan adalah kenyataan yang nyaris didapatkan oleh kalangan wartawan dari media massa mana pun. Bahkan, siapa pun bisa menyepakatinya tanpa berpikir panjang. Jawaban terakhir? Ups, apa tidak mengada-ada? Atau, sekadar menghiperbolakan persoalan?

Saya sempat berpikir panjang tentang makna “pelajaran hidup” dari pernyataan yang pernah saya ungkapkan itu. Saya sangat yakin jawaban itu tidak salah. Karena, toh saya melontarkan jawaban itu berdasarkan apa-apa yang terekam otak kiri-kanan saya selama bertahun-tahun. Sebaliknya, apakah mahasiswa yang mendengarkan jawaban itu akan memahami dan memaknainya seperti yang saya maksudkan? Belum tentu. Biar bagaimana pun, pengetahuan dan pengalaman mereka masih teramat sedikit untuk memahami pelajaran tentang hidup. Terutama, memaknai pesan-pesan yang didapat dari kehidupan itu sendiri.

Berbekal dari konflik batin itu, saya jadi bersemangat untuk menuliskan cerita tentang profesi jurnalis televisi dan pelajaran hidup yang terekam di dalamnya. Niatan awalnya, karena ingin membuktikan kebenaran atas keyakinan saya itu. Sehingga, konflik batin itu bisa tersalurkan secara positif. []

CATATAN KECIL


Membuat film dokumenter atau news feature sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan baku yang memadai. Sulit jadinya, memang. Tapi, itulah konsekuensi berkesenian.

Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.

Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.

Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.

Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...

Agustus 25, 2009

HADITS QUDSI PUASA


"Demi keagunganKu, kebesaranKu, kemuliaanKu, cahayaKu, dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendakKu kecuali aku cerai-beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya, Aku sibukkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagunganKu dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendakKu di atas kehendaknya kecuali akan aku perintahkan para malaikat untuk menjagaNya. Aku akan jaminkan langit dan bumi sebagai rezekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya."
[Jalaluddin Rakhmat, Madrasah Ruhaniah, 2006]

Juli 16, 2009

THE MAKING OF KISAH SANG RAJAWALI

Ketika menggarap musibah yang dialami almarhum Muhammad Guntur Syaifullah – kamerawan SCTV yang tenggelam bersama kapal Levina I – saya menampilkan simbol burung rajawali untuk menggantikan karakter almarhum. Kenapa harus sang raja burung? Kenapa harus bersimbol-simbol? Dan, kenapa jadi demikian “berat” di mata dan telinga?

Protes soal beratnya naskah episode “Kisah Sang Rajawali” memang harus diakui, sebagai kesengajaan. Pertama, untuk menghindari keseragaman dengan berbagai program lain, termasuk infotainment, yang ramai-ramai menggarap topik itu. Kedua, ini yang paling penting, karena topik kali saya dedikasikan untuk sahabat yang cukup sering berpatner dengan daya di lapangan. Sehingga, ketika ada protes kiri-kanan soal pesan yang demikian “berat”, ah biar!

Sumpah. Kali ini, saya tidak peduli kritik atau pujian apa pun. Namun, semua lillahi ta’ala, untuk menghormati perjalanan seorang sahabat ke alam baqa melalui karya.

Namun, tahukah bahwa tidak mudah bagi saya untuk memilih simbol itu ke dalam cerita. Tiga hari di lapangan, bergaul bersama masalah dan kepanikan teman-teman yang meliput atau ikut mencari, tidak mampu membangun kecerdasan. Dalam artian, tidak seperti biasa, saya tidak memiliki bekal premis atau ide cerita. Apalagi, struktur cerita berbentuk treatment script. Itu terjadi, karena hati sedang galau!

Di malam menjelang deadline, persis tengah malam, saya terbangun. Lalu, kumkum untuk berniat shalat tahajud. Saat mandi malam itu, di kepala saya terdengar lagu “Eagle and Horse”nya John Denver. Lirik dan melodinya menari-nari di kepala. Seketika, tanpa sadar, air mata membaur dengan guyuran air. Bahkan, dilatasi di rongga hidung tidak terasa lagi. Akhirnya, tangis di tengah malam meledak.

Tiba-tiba, saya ingat pernah berjalan bersama di pegunungan Tangkuban Perahu, Bandung, ketika meliput pelatihan SAR bersama rekan-rekan dari PT Dirgantara Indonesia. Meski agak berumur, ia terlihat tetap fit dan bersemangat mengikuti perjalanan.

Pada akhirnya, kelelahan memporak-porandakan kesabarannya. Ia sempat emosi dan naik pitam, ketika berdiskusi di tengah malam. Bahkan, ia sempat menantang berkelahi. Astaghfirullah.

Saya yang merasa lebih sadar, buru-buru minta maaf dan meredakan emosinya. Saya harus berada di depan soal kesabaran, karena sebagai reporter, saya bertanggungjawab untuk berbagai hal di lapangan. Saat itu, kami tidur berpisah. Namun, saya hanya berdoa, semoga saja, ia berubah. Karena, tidak ada persoalan besar yang harus dipertengkarkan. Diskusi recehan yang dibumbui kelelahan saja.

Meski peristiwa itu begitu membekas, dan sempat jadi perbincangan di kantor, ternyata kami bisa baikan kembali. Waktu, tanpa menunggu lama, ternyata bisa mengelus kesadarannya dan membuat lupa “cekcok” tempo hari. Kami berbaikan. Bahkan, saya menjadi kawan bicara pertamanya, ketika ia pulang dengan “cacad” dari liputan berdarah di Ambon. Dikatakan “cacad”, meski ia mempersembahkan gambar-gambar cantik dan momen dasyat, ketika emosinya tak terkendali, ia justru menuntut pulang.

“Cacad” itulah yang membuatnya terdempak dari percaturan para "rajawali", seakan ia bukan "rajawali". Padahal, hasil kerja di Ambon, tentu saja, kelas "rajawali". Bahkan, “cacad’ itu terus berbuntut pada nasib – gaji dan tunjangan lain. Subhanallah.

Luka itu saya dengar berkali-kali di telinga saya. Dan, sekarang, kembali terdengar seakan menjadi narasi dengan lagu “Eagle and Horse” sebagai musik latar. Dramatis. Beruntung tangisan itu hanya milik saya. Karena, istri dan anak-anak masih tidur.

Meski begitu, saya urung menggunakan lagu itu untuk POTRET. Karena, menghormati royalti dan proximity. Tiba-tiba, lagu “Rajawali” milik Kantata Takwa tiba-tiba mengemuka. Maka, saya langsung menulis sambil mengingat-ingat bait demi bait lagu itu.

Di paragraf awal saya tulis; rajawali adalah raja dari seluruh jenis burung di angkasa. Dengan sayap lebarnya, ia senantiasa menjelajahi seluruh ruang angkasa, untuk mengikuti kodratnya, hadir di bumi, mengisi sejarah kehidupan, dan bersiaga mencapai keabadian di alam kekal. Dengan cakar tajamnya, ia membuat sarang dan mencari makan, untuk menghidupi betina dan anak-anaknya.

Rajawali juga merupakan perlambang jiwa nan perkasa, tangguh, tak kenal lelah, dan merdeka. Ia bisa menjelma dalam diri setiap insan, karena anugrah kodrati atau tuntutan keadaan. Dan, ia bisa lahir dari trah mana pun. Bahkan, dengan kalangan sudra atau rakyat jelata. Dan, ia akan menjadi bagian dari sejarah agung, karena keperkasaan kepakan sayap dan cengkeraman jemarinya.

Cerita jurnalis dan sepotong berita adalah kisah rajawali dan sekerat daging. Ia akan menjelajah ke ruang angkasa mana pun, tanpa berpikir rasa lelah dan bahaya. Di benaknya hanya tersimpan sebuah keinginan, memenuhi rasa ingin tahu dan mengabarkannya untuk khalayak.

Seorang jurnalis, yang semula bisa saja berupa seekor burung nuri atau burung pipit, dalam beberapa saat, keadaan menuntutnya menjadi seekor rajawali. Dan, sang raja burung nan perkasa itu pun, senantiasa bersiap mencengkeram berkilo-kilogram daging di mana pun. Sayap-lebarnya akan terus mengepak menjelajah seluruh tempat kejadian. Dan, naluri membimbingnya untuk terus terbang, mencengkeram, pulang ke serang, dan kembali terbang.

Pameran metafora itu mengalir bukan tanpa kendali. Uraian filosofis rajawali saya dapati secara sempurna dari tujuh jilid buku “Syaikh Siti Jenar” karya Agus Sunyoto. Penempatan sang raja burung, dengan keperkasaannya, ketangguhannya, dengan maqom yang mesti didapatnya, sejujurnya ide penulis buku itu. Namun, saya meramunya sebagai bahasa televisi, sekaligus menempatkannya sebagai roh almarhum.

Pemilihan filosofi bercampur “pemaksaan” karakter semakin menjadi yakin, ketika saya melihat fakta nyata di lingkungan para “rajawali”. Saya kadang berpikir, lingkungan dunia jurnalistik tak ubahnya kerajaan burung. Karena, banyak spesies burung di lingkungan pekerjaan itu.

Bedanya dengan alam nyata, “kerajaan burung” nyata itu justru tidak dengan otomatis menempatkan rajawali sebagai raja para burung, meski di dalam kerajaan itu lebih banyak burung jenis itu. Lucu? Iya. Tapi, jangan tertawa. Karena, sesungguhnya menyayat kalbu.

Di “kerajaan burung” yang ditulis sebuah buku bertemakan inspiring stories, burung rajawali bisa menjadi raja. Burung gagak juga bisa menjadi raja. Burung beo juga bisa menjadi raja. Buruk merak pun bisa jadi raja. Pokoknya, burung apa pun bisa. Kecuali “burung” itu!

Maka, gemah ripah loh jinawi yang terlihat, tentu berbeda pula. Idealnya, yang menjadi raja di “kerajaan burung” berasal dari kalangan rajawali. Jadi, bila ini terjadi, ideal sekali. Tapi, bila dewa menghendaki gagak yang menjadi raja? Jangan heran, bila tiba-tiba gagak-gagak lain naik pangkat. Hakekat gagak yang cuma berteriak tanpa bekerja keras, liar, licik, dan rakus, ya tercermin di mana-mana. Akhirnya, burung-burung lain, siap-siap menjadi gagak juga atau terlempar ke sangkar kayu.

Sementara, yang dirinya merasa rajawali, siap-siap terbang tinggi untuk menghindari benturan atau merendahkan terbangnya agar bisa diraih sang raja. Lalu, merendahkan harga dirinya agak masuk dalam lingkaran sang raja. Rajawali yang merana, jadinya. Kalau memberontak, maka ia harus ikhlas terbang di luar lingkaran. Ya, rajawali liar jadinya.

Hasil akhir semua itu, amburadul! Jangan bicara sistem, aturan, norma, atau peraturan. Karena semua itu milik sang Gagak. Dia pasti betul. Apa yang diputuskan bawahannya pun pasti betul. Kita? Elu aja kali, gue nggak!

Kalau burung merak yang menjadi raja, maka suasananya jadi lain lagi. Karena, ia belum tentu akan merekrut merak-merak lain menjadi pendampingnya atau ikut naik jabatan. Tapi, burung-burung yang malas terbang, mulut dan kukunya tak tajam, bisa masuk barisan. Lho? Lha, kan merak hanya kepengin memamerkan bulu-bulunya. One man show, maksudnya. Orang lain nggak boleh. Nah, burung-burung lain, seperti pipit, nuri, atau cicakrowo, ya paling pas jadi pengikut setia. Sekaligus, jadi mentri-mentrinya.

Burung rajawali? Ya, bisa terbang setinggi-tingginya atau masuk kandang besi. Karena, terbang melayang sebebas-bebasnya bakal bikin gerah sang ratu. Atau, nanti dicurigai bakal makar. Maka, biar aman, ya masuk kandang saja. Biar saja ia menangis dan meraung-raung. Yang penting, sang ratu aman.

Walhasil, wal akhiri nasib para rajawali. Sistem, aturan, norma, atau apa lagi yang biasanya ada di lingkungan kerajaan, pupus sudah. Yang ada, ya wangi parfum bercampur asam kemenyan sang ratu. Maklum, sang ratu merokoknya kemenyan. Hi!

Kalau yang yang jadi raja burung beo? Ah, tebak sendiri alurnya. Atau, cari bukunya, deh. Salah-salah kutip, nanti malah dianggap bikin fitnah. Berabe, kan?

Supaya ngggak terlalu ngelantur, kita balik ke cerita penulisan “Kisah Sang Rajawali”. Di paragraf lain, saya menulis; Namun alam fana yang ditinggalkannya seakan tidak ikhlas. Ratusan burung-burung lain, termasuk juga Rajawali-Rajawali yang lebih gagah dan sakti, ikut larut dalam kesedihan. Entah karena merasa iba akan sejarah dan nasib sang rajawali, atau jangan-jangan, sekedar pura-pura simpati. Yang pasti, sanak-famili sang Rajawali merasa bersyukur, masih bisa melihat jasad sang Rajawali dan bisa berlama-lama memandang wajah agungnya.

Keharuan dan rasa iba terus berhamburan, tatkala jasad sang Rajawali diagungkan di hadapan burung-burung lain. Seiring dengan itu, ungkapan-ungkapan rasa duka pun tak henti terhembus ke udara, dan memayungi jasad sang rajawali. Pada hakekatnya, mangkatnya sang Rajawali bukanlah akhir dari kisah kehidupannya. Karena, ia hanya mengakhiri kodratnya sebagai umat di alam fana. Dengan begitu, ia pun berhenti membuat sarang dan mencari sekerat daging untuk sanak-familinya.

Selanjutnya, ia justru mendapati kehidupan lain yang lebih tentram, nyaman, dan abadi. Dan, bagi sang Rajawali, kematian justru merupakan pintu untuk menghantarkan jiwa perkasa, jiwa tangguh, jiwa tak kenal lelah, dan jiwa merdekanya, untuk menyatu dengan cahaya-Nya.

Semula kalimat yang dibold itu ada, tapi video editor justru merayu saya untuk menghapusnya. Khawatir ada yang tersinggung, katanya, nanti elo masuk kandang besi! Karena tidak berpikir apa-apa lagi, selain letih dan galau, saya setuju saja dengan pendapat itu. Yang penting, saya berhasil menuntaskan naskah dan bisa menyaksikan tayangan “berat” itu.

Pada akhirnya, dari cerita di atas saya ingin memberi gambaran, betapa sulitnya merangkai cerita untuk sebuah program. Meski sudah berada di lapangan tidak berarti akan mudah meramu ide, meluruskan teman, apalagi menjadikannya kerangka cerita. Bahkan, waktu yang mendesak pun bukan jaminan. Terlebih lagi, bila emosi terlalu bermain di dalamnya.

Maka, jurus memanfaatkan lagu-lagu populer memang tak bisa dihindari. Lalu, mengingat dan mengontemplasi buku-buku yang pernah dibaca, juga jadi jurus kedua yang perlu dimainkan. Dengan cara itu, kejaran deadline bisa teratasi dan program tetap bisa tayang. Selain itu, secara kulitas, paling tidak berbeda dibandingkan infotainment atau program lain yang digarap secara televisi. Yang paling penting, sebagai filmmaker, kita senantiasa dituntut menampilkan sesuatu yang berbeda dan fresh. Terlebih lagi, bila topik itu terlalu panas.[]

Note:
Tulisan itu didedikasikan setahun kepergian seorang sahabat, sang Rajawali, Muhammad Guntur Syaifullah. Semoga Allah SWT menyediakan tempat terindah di alam barzakh. Amien.