November 20, 2008

CUT TO BLACK

Tiang sandeq dengan layar bergambar bumper POTRET patah. Firasat akan di"cut to black"nya POTRET setahun kemudian?

"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir).

Saya tidak bisa membalas SMS yang bisa memuaskan perasaan teman saya itu, selainn menjawabnya, "Ya, ikut sedih aja."[]

November 10, 2008

PEMAKAMAN TOKOH SUMBA TIMUR

Akhirnya, masa penantian itu berakhir juga. Setelah disemayamkan selama tiba bulan, akhirnya warga Perkampungan Adat Rende, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bisa menyaksikan salah satu tokoh adat dan pemerintahan di kabupaten itu mendapati peristirahatan terakhirnya. Senin (10/11) mendatang, jasad mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda akan dimakamkan secara adat.

Acara itu menjadi menarik bukan karena ketokohan almarhum Umbu, tapi juga berkaitan dengan atmosfir budaya yang akan disajikan. Hingga, 135 rombongan adat yang masing-masing beranggotakan sekitar 250 orang dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, tidak akan melepaskannya begitu saja. Mereka diperkirakan akan berdatangan mulai Ahad (9/11) dan diterima secara adat di Huma Bokul atau rumah besar.

Rencananya, ritual pemakaman diawali dengan pemotongan delapan ekor hewan, yakni dua pasang kuda dan dua pasang kerbau. Setelah itu, jenazah dikeluarkan dari rumah besar menuju lokasi pemakaman dikawal papanggang atau penjaga jenazah selama persemayaman.

Papanggang terdiri atas pasangan lelaki yang menunggang kuda dan membawa ayam dan perempuan yang membawa sirih-pinang. Mereka mengenakan pakaian kebesaran dilengkapi perhiasan emas.

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, warga akan memotong empat ekor kuda dan empat ekor kerbau. Sedangkan delapan ekor hewan yang dipotong sebelum jenazah dimakamkan dibuang ke pinggir kampung, untuk dimanfaatkan warga setempat. Pihak keluarga tidak boleh mengonsumsi hewan itu, apalagi untuk menjamu para pelayat.

Keluarga besar almarhum memang menyiapkan hewan tersendiri untuk dihidangkan ke para pelayat. Untuk kebutuhan konsumsi sekitar 4.000 pelayat, mereka telah menyediakan hampir 300 ekor hewan.

Selain urusan perut dan rincian acara, keluarga besar almarhum juga menyiapkan batu nisan khusus seberat 32 ton berbentuk perahu, dengan dua penji atau tiangh berrelief. Bahkan, pihak keluarga harus memboyongnya dari Bukit Kampung Rende yang letaknya cukup jauh dari rumah besar.(SHA/Liputan6.com)

September 22, 2008

SYAICHON BERZAKAT

KAMPANYE PRO-KELAPA SAWIT

Indonesia dan Malaysia mengampanyekan pro-kelapa sawit di Eropa, dengan mengadakan pertemuan segitiga dengan anggota Parlemen Eropa di Brussel, baru-baru ini. Selama ini, perkebunan kelapa sawit dituding merusak lingkungan dan mengikis jumlah orangutan.

Konferensi bertema "The Road Ahead for Sustainable Palm Oil" itu digelar Dewan Palm Oil Malaysia dan Institute Asian Strategis and Leadership Malaysian palm Oil Council. Dalam acara itu, Indonesia diwakili Menteri Pertanian Anton Apriyantono, sedangkan Malaysia diwakili Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

"Kami merasa, banyak sekali hal yang dirasakan negatif mengenai minyak kelapa sawit," kata Anton.

Selain berkampanye di Brussel, rombongan kedua negara juga mengunjungi Den Haag dan mengelar konperensi dunia bertema "World Sustainable Palm Oil Conference" di London. “Bagi Indonesia dan Malaysia, minyak kelapa sawit banyak keuntungannya dan menjadi komoditi yang sangat penting,” kata Anton.

Menurut Anton, Indonesia dan Malaysia merupakan pemasok minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Khusus ke Eropa, katanya, pasokan kedua negara mencapai 85 persen.

“Pada 2007, produksi minyak kelapa sawit di Indonesia 16,9 juta ton dan Malaysia 15,82 juta ton,” kata Anton. ”Selain itu, lebih dari lima juta tenaga kerja terlibat di perkebunan kelapa sawit mulai menanam, mengelola, sampai memasyarakatkan.”

Terkait tudingan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat tentang perusakan lingkungan, Anton menilainya sebagai kesalahpahaman. Termasuk, argumentasi total lahan atau daratan 190 juta hektar yang 130 hektar merupakan areal hutan.

”Dari 130 juta hektar areal hutan itu, sekitar 86 juta hektar masih utuh dan sisanya sudah tidak utuh lagi dan itu disebabkan ilegal loging,” kata Anton. “Areal pertanian masih di bawah 40 juta hektar, sementara kelapa sawit hanya menempati areal sebesar 6,3 juta hektar, dan bila dibandingkan sangat jauh pengunaan areal pertanian.”

Menurut Anton, Departemen Pertanian sangat konsen dengan koservasi hutan dan mendedikasikan 32,6 juta hektar sebagai hutan lindung orangutan dan hutan konservasi. "Jadi, tidak benar isu deforestasi itu dan mungkin ada juga unsur persaingan," katanya.

Selain itu, Anton menilai, tidak ada peraturan di Indonesia yang melarang pembukaan hutan untuk menanam kelapa sawit. Kecuali, katanya, hutan konversi yang memang didedikasikan untuk pertanian.

Untuk itu, selama setahun ini Malaysia dan Indonesia giat mengampanye pro-kelapa sawit ke beberapa negara, institusi, dan berdialog dengan pengusaha, untuk menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Pekan lalu, Indonesia dan Malaysia mengeluarkan Komunike Bersama berisi sanggahan terhadap kampanye negatif soal kelapa sawit, yang dianggap hanya berdasar data sekunder dan tidak berdasar studi ilmiah.

Kedua negara juga mendesak Parlemen Eropa untuk mau mendengar sikap Indonesia dan Malaysia. ”Misi yang diharapkan akan membawa manfaat bagi kedua negara,” kata Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

Sementara itu Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggeris Raya dan Republik Irlandia, Yuri Octavian Thamrin, mengatakan konperensi dunia mengenai kelanjutan kelapa sawit ini merupakan forum yang baik untuk mengklarifikasi salah pengertian mengenai CPO. Ia berharap, forum yang dihadiri lebih dari 500 peserta dari berbagai kalangan itu akan dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan seluruh masalah secara kooperatif.(SHA/LIPUTAN6.COM)


Note:

Dalam kisah "Orangutan di Kebun Kelapa Sawit" merupakan gambaran nyata di lapangan. Kok, bisa beda?

September 11, 2008

MISTERI ISTANA KERAJAAN MAJAPAHIT

Setelah menemukan pusat kota dan kegiatan sakral pada zaman Majapahit, ternyata keberadaan istana Kerajaan Majapahit masih misteri. "Sulit menemukan lokasinya," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, I Made Kusumajaya, Kamis (11/9).

Pusat kota imperium terbesar nusantara kuno ini, kata Made, terletak di Desa Segaran, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, dengan luas 4 x 5 kilometer. "Sedangkan pusat kegiatan sakralnya seluas 11 x 9 kilometer," katanya.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan batu kuno setebal 80 sentimeter, yang dianggap pagar bangunan zaman Majapahit di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk. Para peneliti menduga, istana kerajaan berada di sekitar Segaran.

"Kalau kami teliti lebih jauh, ternyata hal itu merupakan strategi Hayam Wuruk agar tidak mudah diserang musuh. Biasanya pusat kerajaan zaman dulu berada di kawasan pantai," kata Made.

Tim peneliti berasal dari Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Udayana Denpasar, Universitas Indonesia Jakarta, dan Universitas Gajah Mada . Fokus penelitian pada prilaku masyarakat Majapahit.

"Kami membandingkan prilaku masyarakat Majapahit dengan prilaku masyarakat Bali, karena ada kemiripan," kata Made. "Namun, penelitian baru mencapai target sekitar 20 persen."(SHA/LIPUTAN6)