Juni 20, 2007

PERBURUAN ORANGUTAN DI KEBUN KELAPA SAWIT


(Foto-foto: Teguh Prihantoro dan Syaiful Halim)

Cerita nyata Pulau Kalimantan adalah satwa liar, hutan, dan air. Dan waktu telah membuktikan, wajah suci ketiganya membuat manusia yang ada di dekatnya, bisa mendapatkan kenikmatan hidup. Namun, cerita indah itu segera berakhir, ketika manusia yang bekeinginan menjadi sang maha mengatur, melahap hutan dan air, tanpa mengindahkan nasib satwa liar dan manusia lain.


Air bening masih ada di Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sehingga, anak-anak masih bisa bermain di atasnya, dengan penuh keceriaan. Jauh menembus ke dalam, jauh di antara pohon-pohon di tengah hutan pulau kajja, pitun, mega, dan sekawanan orangutan, juga masih bisa bermain, dengan penuh keriangan. Mereka juga begitu menikmati kehidupan alami nan jauh dari hingar-bingar kehidupan manusia.


Pitun, Mega, Sella, dan banyak nama-nama manusia, memang disematkan pada kawanan orangutan ini. Karena, mereka merupakan orangutan (pongo pygmaeus) yang pernah direintroduksi dan masih mendapat perhatian
para teknisi, dari pusat reintroduksi orangutan, Borneo Orangutan Survival. Sehingga, mereka pun mencoba dimanusiakan dengan memiliki nama, sambil diajarkan sebuah keberanian, untuk menjalani kehidupan keras di habitatnya.


Nasib baik Pitun dan kawan-kawan, memang tidak dialami oleh saudara-saudaranya di kawasan lain. Persisnya, ketika pohon-pohon bertumbangan. Meswin-mesin gergaji, dengan rakus, menebangi setiap tumbuhan yang ada di dekatnya. Tahap berikunya, ganti mesin-mesin buldozer atau ekskapator, ikut meratakan kawasan hutan menjadi satu dengan tanah. Pohon-pohon tumbang, hutan-hutan pun hilang.


Lalu, manusia-manusia sakti yang berkeinginan menjadi sang maha mengatur pun, menyulap bekas lahan-lahan hutan menjadi kebun-kebun kelapa sawit. Maka, lahan kehidupan orangutan dan satwa liar lainnya pun, sirna. Inilah, awal tragedi kehidupan di kawasan Danau Sembuluh di Kabupaten sampit, Kalimantan Tengah.


Kegundahan atas bergantinya wajah Danau Sembuluh, dari kawasan hutan hijau menjadi kebun-kebun sawit, memang bukan hanya milik orangutan dan satwa liar. Tapi juga dirasakan oleh warga di Desa Sembuluh, yang bersentuhan langsung dengan kebun-kebun sawit. Karena, dengan alasan sengaja atau terpaksa, mereka telah kehilangan ladang-ladangnya. Bahkan, beberapa di antaranya ikhlas menjadi buruh kebun kelapa sawit, untuk sekedar menyambung kebutuhan hidup. Pokok persoalannya adalah mereka menjadi buruh di bekas lahan miliknya sendiri.


Selain persoalan hilangnya ladang-ladang milik warga, yang berganti menjadi kebun-kebun sawit milik para pengusaha, diam-diam ancaman pencemaran pun mulai dirasakan oleh warga. Air danau yang dulu diyakini bersih dan layak untuk dikonsumsi, kini mulai diragukan. Berdirinya pabrik-pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, yang limbahnya digelontorkan ke danau, membuat air danau tak lagi bersih dan sehat. Para nelayan merasakan sekali perubahan itu.


Dulu, sebagian besar warga desa sembuluh memang bekerja sebagai nelayan. Dan, ikan-ikan yang didapat dikirimkan ke berbagai pasar di kabupaten sampit. Kini, ikan-ikan yang didapat banyak yang telah dijangkiti penyakit. Contoh paling segar adalah dikemukan para warga, yang memelihara ikan di atas keramba. Karena, belum lagi satu minggu, hampir setiap hari ditemukan puluhan bibit ikan yang mati.


Dalam kurun tiga tahun ini, kebun-kebun kelapa sawit pun, menghampar luas di danau sembuluh dan berbagai lokasi lainnya di kalimantan tengah. Saat ini, sekitar 4,3 juta hektar hutan telah berganti rupa menjadi kebun-kebun kelapa sawit milik sekitar 240 perusahaan, yang seperetiganya berasal dari negeri jiran. Dengan total nilai investasi yang mencapai 11,7 trilyun rupiah, para pengusaha itu berharap mengeruk laba sebesar-besarnya. Target, mereka bisa meraih satu juta ton minyak sawit, dan meraih keuntungan hingga 3,6 trilyun rupiah setiap tahunnya.


Warga Desa Sembuluh, mungkin bisa diam atau pasrah atas nasib yang didapatnya. Namun, bagaimana dengan orangutan?. Mereka kehilangan rumah dan tempat mencari makan. Mereka terlunta-lunta, tanpa bisa berpikir, bagaimana lagi cara mempertahankan hidupnya? Pada akhirnya, orangutan pun mencari makan di kebun-kebun sawit, dan melahap daun dan tunas yang baru ditanam.


Ini ancaman serius bagi bagi kelangsungan usaha. Sehingga, para buruh yang berada di lapangan pun, harus mati-matian menjaga nilai investasi dan target keuntungannya. Dan, mereka tidak akan membiarkan siapa pun menjamah kelapa sawit yang telah ditanam. Maka, para buruh pun beramai-ramai memburu orangutan. Mereka seakan telah sepakat, untuk membantai setiap orangutan, yang mencoba mencari makan di kebun-kebun kelapa sawit. Mereka tidak peduli soal makna pelestarian satwa langka atau persoalan-persoalan ekologi lainnya. Yang jelas, orangutan mengganggu usaha para majikannya. Dengan demikian, masa pembantaian terhadap orangutan pun tiba.


Para buruh umumnya gemar melukai tangan dan menghantam kepala orangutan. Ratusan orangutan tewas atau cacad, dan ratusan anak-anaknya menjadi yatim piatu. Meskipun begitu, jangan berpikir tentang upaya penghentian perburuan, atau penghukuman terhadap pelaku-pelaku kriminal lingkungan itu. Karena, usaha perkebunan kelapa sawit di negeri ini, seakan mendapat restu, untuk berbuat apa pun. Termasuk, membantai makhluk hidup, yang beberapa karakternya mirip manusia ini.


Secara biologis, DNA orangutan atau pongo pygmaeus sekitar 90 persen sama dengan manusia. Artinya, makhluk hidup ini memiliki banyak kemiripan karakter dengan makhluk tersempurna di muka bumi. Karena itu, proses reintroduksi atau rehabilitasi terhadap anak-anak orangutan, khususnya anak-anak yatim-piatu korban pembantaian di kebun kelapa sawit, membutuhkan ketelatenan sendiri.


Setiap pagi, para babysitter menggiring anak-anak orangutan ke hutan lindung, yang disebut sekolah, sebagai cara mengajarkan keberanian hidup di alam bebas. Para babysitter mengawasi dan menjaga anak-anak orangutan benar-benar dengan hati. Mereka tidak diperkenankan memukul. Sebaliknya, belaian halus senantiasa harus diberikan, ketika mereka mendorong balita orangutan ini, untuk bergerak di habitatnya.


Meskipun demikian, cerita tentang genocide orangutan ini, tidak dengan sendirinya berakhir. Karena, muara permasalahannya sendiri hingga kini belum terjawab. Kisah orangutan yang kelaparan, masuk ke kebun kelapa sawit, lalu diburu dan dibantai. Dan, kerap diselamatkan tim rescue dan dirawat di pusat reintroduksi orangutan, hanyalah solusi kecil dan jutaan masalah.


Di luar itu, juga masih ada cerita tentang warga Desa Sembuluh yang tidak lagi memiliki ladang, danau yang tidak lagi memberikan ikan segar dan air bersih, serta berbagai konflik sosial lainnya. Ini juga biaya sosial dari sebuah usaha bernama, perkebunan kelapa sawit. Ironisnya, masalah utamanya sendiri, yakni, membanjirnya izin memberangus hutan dan membangun kebun kelapa sawit, belum terjawab. Seakan, tidak satu pun kekuatan yang bisa membendung laju penghancuran lahan hijau di kalimantan ini.


Kalimantan adalah satwa liar, hutan, dan air. Ketiganya merupakan satu kesatuan, yang membuat manusia bisa merasakan surga dari Yang Mahamengatur. Orangutan bukan sekedar satwa liar dan langka, yang ikut mengatur kehidupan manusia. Sebaliknya, dengan akal-budinya, manusia justru bisa mengatur kehidupan orangutan. Sehingga terciptalah gambaran sebuah hubungan harmonis antara manusia dan makhluk hidup lain.


TIM PRODUKSI:
“Orangutan di Kebun Kelapa Sawit”; Syaiful Halim (Produser Pelaksana/Sutradara/Penulis Naskah/Kamerawan/Periset); Teguh Prihantoro (Pengarah Fotografi/Kamerawan); Syamsul Fajri (Penyunting Gambar); Billy Soemawisastra (Narator); M. Nur Ridwan & Budi Utomo (Penata Grafis); Ari Widagdo (Penata Musik); Suparyono (Periset); Hardy Baktiantoro & Wahyuni (Pendukung Produksi/Talent). Diproduksi di Sampit dan Palangkaraya, Kalteng, pada 3 – 10 Mei 2007. Ditayangkan di Program POTRET SCTV pada 19 Mei 2007.

Tidak ada komentar: