November 20, 2008

CUT TO BLACK

Tiang sandeq dengan layar bergambar bumper POTRET patah. Firasat akan di"cut to black"nya POTRET setahun kemudian?

"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir).

Saya tidak bisa membalas SMS yang bisa memuaskan perasaan teman saya itu, selainn menjawabnya, "Ya, ikut sedih aja."[]

November 10, 2008

PEMAKAMAN TOKOH SUMBA TIMUR

Akhirnya, masa penantian itu berakhir juga. Setelah disemayamkan selama tiba bulan, akhirnya warga Perkampungan Adat Rende, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bisa menyaksikan salah satu tokoh adat dan pemerintahan di kabupaten itu mendapati peristirahatan terakhirnya. Senin (10/11) mendatang, jasad mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda akan dimakamkan secara adat.

Acara itu menjadi menarik bukan karena ketokohan almarhum Umbu, tapi juga berkaitan dengan atmosfir budaya yang akan disajikan. Hingga, 135 rombongan adat yang masing-masing beranggotakan sekitar 250 orang dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, tidak akan melepaskannya begitu saja. Mereka diperkirakan akan berdatangan mulai Ahad (9/11) dan diterima secara adat di Huma Bokul atau rumah besar.

Rencananya, ritual pemakaman diawali dengan pemotongan delapan ekor hewan, yakni dua pasang kuda dan dua pasang kerbau. Setelah itu, jenazah dikeluarkan dari rumah besar menuju lokasi pemakaman dikawal papanggang atau penjaga jenazah selama persemayaman.

Papanggang terdiri atas pasangan lelaki yang menunggang kuda dan membawa ayam dan perempuan yang membawa sirih-pinang. Mereka mengenakan pakaian kebesaran dilengkapi perhiasan emas.

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, warga akan memotong empat ekor kuda dan empat ekor kerbau. Sedangkan delapan ekor hewan yang dipotong sebelum jenazah dimakamkan dibuang ke pinggir kampung, untuk dimanfaatkan warga setempat. Pihak keluarga tidak boleh mengonsumsi hewan itu, apalagi untuk menjamu para pelayat.

Keluarga besar almarhum memang menyiapkan hewan tersendiri untuk dihidangkan ke para pelayat. Untuk kebutuhan konsumsi sekitar 4.000 pelayat, mereka telah menyediakan hampir 300 ekor hewan.

Selain urusan perut dan rincian acara, keluarga besar almarhum juga menyiapkan batu nisan khusus seberat 32 ton berbentuk perahu, dengan dua penji atau tiangh berrelief. Bahkan, pihak keluarga harus memboyongnya dari Bukit Kampung Rende yang letaknya cukup jauh dari rumah besar.(SHA/Liputan6.com)

September 22, 2008

SYAICHON BERZAKAT

KAMPANYE PRO-KELAPA SAWIT

Indonesia dan Malaysia mengampanyekan pro-kelapa sawit di Eropa, dengan mengadakan pertemuan segitiga dengan anggota Parlemen Eropa di Brussel, baru-baru ini. Selama ini, perkebunan kelapa sawit dituding merusak lingkungan dan mengikis jumlah orangutan.

Konferensi bertema "The Road Ahead for Sustainable Palm Oil" itu digelar Dewan Palm Oil Malaysia dan Institute Asian Strategis and Leadership Malaysian palm Oil Council. Dalam acara itu, Indonesia diwakili Menteri Pertanian Anton Apriyantono, sedangkan Malaysia diwakili Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

"Kami merasa, banyak sekali hal yang dirasakan negatif mengenai minyak kelapa sawit," kata Anton.

Selain berkampanye di Brussel, rombongan kedua negara juga mengunjungi Den Haag dan mengelar konperensi dunia bertema "World Sustainable Palm Oil Conference" di London. “Bagi Indonesia dan Malaysia, minyak kelapa sawit banyak keuntungannya dan menjadi komoditi yang sangat penting,” kata Anton.

Menurut Anton, Indonesia dan Malaysia merupakan pemasok minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Khusus ke Eropa, katanya, pasokan kedua negara mencapai 85 persen.

“Pada 2007, produksi minyak kelapa sawit di Indonesia 16,9 juta ton dan Malaysia 15,82 juta ton,” kata Anton. ”Selain itu, lebih dari lima juta tenaga kerja terlibat di perkebunan kelapa sawit mulai menanam, mengelola, sampai memasyarakatkan.”

Terkait tudingan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat tentang perusakan lingkungan, Anton menilainya sebagai kesalahpahaman. Termasuk, argumentasi total lahan atau daratan 190 juta hektar yang 130 hektar merupakan areal hutan.

”Dari 130 juta hektar areal hutan itu, sekitar 86 juta hektar masih utuh dan sisanya sudah tidak utuh lagi dan itu disebabkan ilegal loging,” kata Anton. “Areal pertanian masih di bawah 40 juta hektar, sementara kelapa sawit hanya menempati areal sebesar 6,3 juta hektar, dan bila dibandingkan sangat jauh pengunaan areal pertanian.”

Menurut Anton, Departemen Pertanian sangat konsen dengan koservasi hutan dan mendedikasikan 32,6 juta hektar sebagai hutan lindung orangutan dan hutan konservasi. "Jadi, tidak benar isu deforestasi itu dan mungkin ada juga unsur persaingan," katanya.

Selain itu, Anton menilai, tidak ada peraturan di Indonesia yang melarang pembukaan hutan untuk menanam kelapa sawit. Kecuali, katanya, hutan konversi yang memang didedikasikan untuk pertanian.

Untuk itu, selama setahun ini Malaysia dan Indonesia giat mengampanye pro-kelapa sawit ke beberapa negara, institusi, dan berdialog dengan pengusaha, untuk menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Pekan lalu, Indonesia dan Malaysia mengeluarkan Komunike Bersama berisi sanggahan terhadap kampanye negatif soal kelapa sawit, yang dianggap hanya berdasar data sekunder dan tidak berdasar studi ilmiah.

Kedua negara juga mendesak Parlemen Eropa untuk mau mendengar sikap Indonesia dan Malaysia. ”Misi yang diharapkan akan membawa manfaat bagi kedua negara,” kata Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

Sementara itu Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggeris Raya dan Republik Irlandia, Yuri Octavian Thamrin, mengatakan konperensi dunia mengenai kelanjutan kelapa sawit ini merupakan forum yang baik untuk mengklarifikasi salah pengertian mengenai CPO. Ia berharap, forum yang dihadiri lebih dari 500 peserta dari berbagai kalangan itu akan dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan seluruh masalah secara kooperatif.(SHA/LIPUTAN6.COM)


Note:

Dalam kisah "Orangutan di Kebun Kelapa Sawit" merupakan gambaran nyata di lapangan. Kok, bisa beda?

September 11, 2008

MISTERI ISTANA KERAJAAN MAJAPAHIT

Setelah menemukan pusat kota dan kegiatan sakral pada zaman Majapahit, ternyata keberadaan istana Kerajaan Majapahit masih misteri. "Sulit menemukan lokasinya," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, I Made Kusumajaya, Kamis (11/9).

Pusat kota imperium terbesar nusantara kuno ini, kata Made, terletak di Desa Segaran, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, dengan luas 4 x 5 kilometer. "Sedangkan pusat kegiatan sakralnya seluas 11 x 9 kilometer," katanya.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan batu kuno setebal 80 sentimeter, yang dianggap pagar bangunan zaman Majapahit di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk. Para peneliti menduga, istana kerajaan berada di sekitar Segaran.

"Kalau kami teliti lebih jauh, ternyata hal itu merupakan strategi Hayam Wuruk agar tidak mudah diserang musuh. Biasanya pusat kerajaan zaman dulu berada di kawasan pantai," kata Made.

Tim peneliti berasal dari Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Udayana Denpasar, Universitas Indonesia Jakarta, dan Universitas Gajah Mada . Fokus penelitian pada prilaku masyarakat Majapahit.

"Kami membandingkan prilaku masyarakat Majapahit dengan prilaku masyarakat Bali, karena ada kemiripan," kata Made. "Namun, penelitian baru mencapai target sekitar 20 persen."(SHA/LIPUTAN6)


September 10, 2008

PENULIS "HARRY POTTER" MENANGKAN GUGATAN

JK Rowling, pengarang serial Harry Potter, memenangkan gugatan untuk mencegah penerbitan kamus Harry Potter. Hakim Pengadilan Distrik AS di Manhattan mengatakan, penerbitan kamus itu melanggar hak cipta dan dapat menyebabkan kerugian besar kepadanya.

Dalam pembelaannya, Steven Vander Ark, pengarang "The Harry Potter Lexicon" mengatakan, kamus setebal 400 halaman itu dilindungi UU hak cipta. Sebaliknya, Rowling bersikeras bahwa buku itu sama dengan pencurian semua kerja kerasnya saya selama 17 tahun.

"Kamus itu terlalu banyak memuat karya kreatif Rowling sebagai rujukan," kata jaksa. "Karena itu, harus segera dikeluarkan perintah untuk mencegah penyebaran karya serupa dan mengikis semangat pengarang asli untuk menciptakan karya-karya baru."

Rowling menyambut baik keputusan itu. "Gugatan itu bertujuan, untuk mengukuhkan hak para pengarang di mana pun. Agar karya asli mereka terlindungi," katanya.(SHA/LIPUTAN6)

NOTE:
Entah di negara kita, apakah perjuangan seperti JKR membuahkan hasil? Jadi ingat, cerita positioning yang dipakai diam-diam alias tanpa izin.

Agustus 26, 2008

MEGENGAN, TRADISI RAMADHAN SUKU SAMIN

Hari-hari mendekati bulan puasa, komunitas adat Samin di Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, disibukkan tradisi megengan atau kenduri. Setiap warga di dusun itu saling mengundang warga lain untuk mengikuti tradisi itu di rumahnya.

Di Dusun Jepang, lokasi komunitas itu, bermukim 216 kepala keluarga dengan 572 jiwa. Bila setiap keluarga menggelar tradisi itu, maka mereka benar-benar tidak memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan lain.

"Puncak acara biasanya pada dua hari sebelum puasa," kata Muhammad Miran, tokoh masyarakat di dusun itu. Selain membaca doa bersama-sama, katanya, tradisi itu ditutup dengan pemberian buah tangan kepada setiap tamunya saat pulang.

Miran termasuk tokoh masyarakat yang sering diminta memimpin doa dalam tradisi itu. Dulu, ia pernah "nyantri" di Pondok Pesantren Magelang, Jawa Tengah.

"Beberapa tahun terakhir, sudah banyak warga yang bisa memimpin doa. Termasuk dari kalangan pemuda. Bahkan, mereka juga sudah mampui menjadi imam sahalat tarawih," kata Miran.

Suasana bulan puasa di dusun itu, kata Miran, bukan hanya saat menggelar tradisi megengan. "Jamaah shalat tarawih juga terus bertambah, termasuk anak-anak," katanya.

Pada 1995, warga komunitas itu melaksanakan shalat tarawih di Masjid Al Huda. Masjid itu dibangun atas dukungan Hardjo Kardi, trah terakhir pendiri komunitas adat Samin, Samin Surosentiko. Sekarang, dusun itu telah memiliki dua tempat ibadah lain, yang juga menyelenggarakan ibadah di bulan Ramadhan itu.

"Rata-rata setiap masjid atau mushalla diikuti 20 hingga 30 jamaah", kata Miran. "Namun untuk shalat ied dilaksanakan di Masjid Al Huda.(SHA/LIPUTAN6)


Agustus 25, 2008

TEORI DARWIN BERMULA DARI TERNATE

Teori evolusi Charles Robert Darwin, ternyata bermula dari penelitian yang dilakukan Alfred Russel Wallace di Ternate, Indonesia. Demikian Profesor Doktor Sangkot Marzuki, Direktur Lembaga Eijkman, seperti disampaikan Sekretaris Kedua PTRI Jenewa, Yasmi Adriansyah, Jumat (22/8).

Menurut Profesor Sangkot, selama ini publik beranggapan Teori Evolusi merupakan buah pemikiran dan hasil penelitian dari Charles Robert Darwin, peneliti berkebangsaan Inggris kelahiran 1809. Ia meyakinkan dunia dengan Teori Seleksi Alam-nya itu dalam buku "On the Origin of Species" pada 1859, yang berisikan argumentasi dan fakta ilmiah asal-usul spesies makhluk hidup.

Anggapan publik dalam konteks sejarah, katanya, tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar. "Sebenarnya, Teori Seleksi Alam dicetuskan Alfred Wallace melalui tulisannya 'On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type' pada 1858, atau setahun sebelum penerbitan buku Darwin," kata Profesor Sengkot.

Ia mengatakan, terdapat kemiripan antara Teori Darwin dan hasil penelitian Wallace. "Pada 1858, Wallace kerap melakukan korespondensi dengan Darwin, termasuk mengirimkan sejumlah hasil penelitiannya. Wallace merupakan peneliti yang miskin dan tidak jarang mendapatkan bantuan finansial dari Darwin," katanya.

Fakta itu sangat penting bagi Indonesia, kata Profesor Sengkot, mengingat sebagian besar penelitian Wallace dilakukan di Indonesia, khususnya di Ternate.

Selain pertama kali mencetuskan Teori Seleksi Alam, Wallace juga menelurkan konsep-konsep terkenal seperti Garis Wallace (Wallace Line), garis yang membelah kawasan geografis hewan-hewan Asia dan Australia. Garis-garis itu melintang di sepanjang kepulauan Nusantara (Pulau Kalimantan dan Sulawesi), serta memisahkan Selat Lombok dan Pulau Bali.

Selama melakukan penelitian antara 1854 sampai 1862 itu, Wallace berada di Indonesia. "Terdapat bukti historis, Wallace memiliki tempat tinggal di Ternate," kata Profesor Sengkot.

Berdasarkan fakta itu, Komunitas Ilmiah Indonesia akan merayakan 150 Tahun Teori Evolusi Wallace pada akhir tahun 2008, dalam bentuk diskusi dan pameran multimedia. Tujuannya, menarik perhatian komunitas internasional. Puncaknya, konferensi internasional di Ternate, tempat Wallace banyak melakukan penelitian hingga mengukuhkan diri sebagai ilmuwan pertama pencetus Teori Evolusi.(SHA/LIPUTAN6)

Note:
Kontroversi menyangkut sebuah temuan selalu bermunculan. Terlebih, untuk temuan-temuan yang "seksi" dan mendunia. Kasus terbaru, kontrovesi dan polemik temuan Homo Floresiensis di Liang Bua, Flores. Jauh dibelakang cerita itu juga berhembus persaingan sesama ilmuwan, lokal dengan lokal, lokal dengan asing, atau asing dengan asing. Tapi, inilah pertarungan mengungkap sebuah kebenaran.

SUKU POHON DI PAPUA "DIRUMAHKAN"

Pemerintah Provinsi Papua akan "merumahkan" warga suku Koroway yang selama ini bermukim di pepohonan rimba Papua di Distrik Citak Mitak, Kabupaten Mappi. Demikian Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Papua, Wasuok Joseph Siep, Rabu (13/8).

Kebijakan itu merupakan kelanjutan dari "turun kampung" Gubernur Papua Barnabas Suebu ke ibukota Distrik Citak Mitak akhir Juli lalu. Pemerintah setempat telah menganggarkan kebijakan itu untuk APBD 2009, dengan program menjajaki kondisi geografis, keberadaan penduduk, dan jumlah warga suku Koroway.

Suku Koroway bermukim di atas pohon-pohon tinggi di hutan belantara Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel. Hingga kini, mereka masih mengembara di kawasan daerah aliran sungai Mamberamo yang tersebar di sejumlah kabupaten. Selama ini, mereka dibina Yayasan Pengembangan Masyarakat Masirey Papua yang dipimpin Theis Wopari.

Suku pohon itu ditemukan para pekerja sebuah perusahaan pengeboran minyak dan gas bumi asing pada sekitar 1982. Dilaporkan, kaum lelaki suku itu mengenakan selembar daun yang diikat tali di ujung auratnya, sedangkan kaum perempun mengenakan selembar daun yang diikat tali di pinggang menutupi auratnya.

Menurut Siep, setelah penjajakan kondisi geografis dan keberadaan penduduknya, komunitas mereka akan dikembangkan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.(SHA/LIPUTAN6)

Note:
Cerita Orang Pohon tak ubahnya Orang Perahu, semacam suku Bajo, yang juga dirumahkan. Di Sulawesi Selatan, ada suku Tobalo, yang semula bermukim di atas pohon, yang sekarang dirumahkan. Lucunya, mereka keluar-masuk bukan hanya melalui pintu, tapi juga jendela. Ada juga suku Binggi di Sulawesi Barat, yang kabarnya masih bermukim di atas pohon, tapi akan dirumahkan juga. Entah setelah dirumahkan, apa juga akan keluar-masuk melalui pintu dan jendela.

Agustus 19, 2008

MEMOTRET KHATULISTIWA



Akhirnya, tuntas sudah perjalanan memikul amanah. Desember 2005 hingga Desember 2007, saya berada di rumah bernama POTRET. Hasil kunjungan ke 20 provinsi, 31 kabupaten, dan entah berapa kabupaten dan kecamatan yang dilewati -- sekedar singgah atau istirahat -- adalah 41 episode, dengan berbagai topik dan kemasan.

Syukur alhamdulillah, akhirnya perjalanan itu bisa dilewati dengan selamat. Saya tidak berani menjamin, apakah isinya berguna atau tidak, apakah materinya bermanfaat atau tidak, dan apakah contentnya bermutu atau tidak. Banyak parameter yang bisa dibuat untuk mengukurnya. Tapi, banyak subyektivitas pula yang menjadi acuan. Sehingga, akhirnya "rasa"lah yang menjadi alat ukur terobyektif dan jujur. Karena itu, marilah kita sama-sama mengasah "rasa" hingga menjadi cita rasa nan tulus, mampu menembus setiap hijab dengan kesempurnaan, dan bisa memaknainya secara mendalam.

Rasa syukur nan terkira, bukan hanya karena saya berhasil menuntaskan amanah itu persis di dua tahun perjalanan dan hari jadi yang 40 tahun, tapi dengan kerendahan hati, saya berhasil mengabadikannya dalam dua buah buku. "MEMOTRET KHATULISTIWA" & "SUFI GAUL", judulnya. Isinya, catatan produksi di belakang komputer, di tengah lapangan, dan di ruang editing. Ada kisah petualangannya nan indah dan melelahkan, ada teknis pemilahan ide dan perumusan premis, dan ada cerita the making of... nya yang berlagak ilmiah. Buku itu bukan karya hebat dan bisa dibanggakan. Tapi, sekedar catatan kerja, yang diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi siapa pun untuk berani memulai sebuah pekerjaan. Khususnya, menggagarp film dokumenter.

Sedangkan buku kedua bercerita tentang kisah-kisah inspiratif yang bisa dipetik dari kehidupan masyarakat adat dan seniman tradisional. Arahnya, bisa disebut menjadi semacam buku motivasi dan tasawuf populer. Hal ini jadi perlu dihadirkan, karena saya merasa menemukan banyak mutiara ketika mengunjungi berbagai lokasi produksi. Dan, sayang bila mutiara-mutiara itu tidak dibagikan kepada Anda.

Dalam waktu dekat, Insya Allah "MEMOTRET KHATUSLITIWA" & "SUFI GAUL" akan menjumpai Anda. Sabar menanti adalah memenuhi amanah Rasulallah dan firman Allah. Sabar, kami akan mengabarkan kabar penerbitannya.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu pemenuhan amanah tersebut. Semoga Allah Swt akan membalasnya dengan segala ketulusan dan kemuliaan. Salam hangat dan penuh kedamaian.[]

Juli 21, 2008

THE MAKING OF "KETIKA SUKU LIO KEMBALI KE HUMA"



Cameraman on cam! Wow! He took a picture for our program, but he took hisself and us with his little camera. Thanks for this great documentation. This is real documentary.
(Video: Teguh Prihantoro)
Original Narration

Juni 04, 2008

THE MAKING OF "SEMANGAT SANDEQ"


Two minutes on sandeq. Many happens had covered on the tape. But, how about me? This is story of behind the scene of "Semangat Passandeq" for Potret Program on SCTV. (Video: Asfriyanto)

Februari 22, 2008

DI ATAS BINTANG SEJARAH, NASIB JADI TERSERAH

Dor! Bunyi pistol menggema. Seiring dengan letusan tersebut, sorak-sorai penonton di bibir pantai kota Majene berbaur dengan teriakan semangat para passandeq yang berlompatan ke atas perahu masing-masing. Teriakan-teriakan itu ditingkahi pula dengan bunyi berderak palattok sandeq dan bunyi derik layar yang ditarik naik.


Perahu sandeq Bintang Sejarah yang saya naiki, menyeruak ke depan, membuka jalan di antara padatnya perahu lawan. Detik pertama lomba, palattok atau katir cadiknya telah menghantam patah pallatok sandeq lain yang berusaha menghalangi derap majunya. Dapat diduga, sandeq lawan itu pun terhenti dan oleng. Namun sandeq Bintang Sejarah juga tidak luput dari ancaman serupa. Berulang kali, saya harus menundukkan kepala sebab palattok lawan yang berujung runcing, hampir saja merobek tiang layar dan nyaris melukai saya dan sawi lain yang ada di atasnya. Untung saja Muin, yang bertindak sebagai punggawa alias juru mudi, berhasil menghindarkan perahu kami dari segala ancaman.

Cukup lama berkutat dengan ketat, menghindari kesemrawutan seperti itu, namun perlahan tapi pasti, setelah bermanuver kiri kanan, perahu sandeq kami akhirnya berada di posisi terdepan. Walapun demikian, muka saya masih terasa memutih dan dingin dengan dada yang berdegup kencang. Berkali-kali cipratan air laut yang hangat membasahkuyupkan saya, namun saya seakan masih bermimpi perahu kami berhasil melewati kemelut pada start lomba. Saat ini, perahu kami melaju memimpin perlombaan
.

M. Ridwan Alimuddin, ketua panitia Sandeq Race 2007, sudah berada di atas kapal panitia jauh sebelum pistol dibunyikan. Ia sudah di tengah laut, tepat berada di bagian kiri rute lomba. Di lehernya tergantung kamera foto dan tangannya menenteng kamera video. Selain bertugas sebagai ketua panitia ia juga mendokumentasikan seluruh kegiatan lomba pada ajang tahun ini. Sama halnya dengan Iwan, di atas perahu sandek, saya juga membawa satu unit perlengkapan dokumentasi untuk kepentingan salah satu stasiun televisi.

Ketika tanda start dibunyikan, di pinggir kapal itu, Iwan tampak tegang. Beberapa sandeq dengan ujung cadik yang runcing berulang kali mengancam kapal yang ditumpanginya sebab posisi kapalnya relatif dekat dengan rute lomba. Ombak yang tercipta akibat laju sandeq serta ombak pantai Majene membuat tangannya sedikit goyah, konsentrasinya buyar. Apalagi ketika Bintang Sejarah dan beberapa sandeq lainnya, membuka rute baru menuju bagian tengah laut, lokasi yang berombak besar namun memiliki angin yang kuat untuk memacu sandeq. Iwan dan beberapa panitia di atas kapal sadar, mereka tidak mungkin dapat mengawasi sandeq yang menempuh rute ”yang lain” itu. Kecepatan kapal motor yang ditumpanginya tidak mungkin mampu mengejar dan mendampingi sandeq-sandeq yang memilih jalur tersebut. Ia hanya bisa pasrah.

Rekan saya yang produser di salah satu TV swasta, Syaiful Halim, tinggal sendirian di pantai. Dua kameramen lainnya telah pulang ke Jakarta akibat kena penyakit cacar. Di tangan Syaiful tergenggam kamera PD 170 untuk mendokumentasikan sandeq Bintang Sejarah. Ia tampak tegang. Seiring dengan bunyi letusan pistol, ia menekan tombol record di kamera tersebut. Konsentrasinya sedikit buyar, sandek Bintang Sejarah terhalang laju perahu sandek lawan yang ujung cadiknya hampir menghantam seluruh awak Bintang Sejarah.

Sekitar 15 menit Syaiful terus merekam momen tersebut, sampai kemudian ia bergegas naik ke atas kapal. Kapal itu merupakan kapal logistik milik sandeq Bintang Sejarah yang dinahkodai oleh Miming. Dari atas kapal motor itu, nahkoda berusaha untuk mendekati Bintang Sejarah yang jauh di depan. Namun sandeq terlalu jauh, dan ombak besar menghadang kapal untuk maju. Miming tidak berani mengambil resiko. Syaiful hanya bisa kecewa, karena dari atas kapal yang oleng, merekam gambar sandeq yang terlalu jauh dari rekaman lensa adalah hal yang sia-sia saja. Lagi pula saat itu, ia mulai terserang rasa mual.

Itulah sandeq. Perahu tradisional khas suku Mandar. Sandeq sepertinya memang dirancang untuk menaklukkan gelombang besar. Tofografi pantai serta kawasan di mana komunitas nelayan Mandar bermukim merupakan kawasan pantai yang langsung berhadapan dengan luat dalam. Kondisi ini membedakannya dengan kawasan dimana komunitas nelayan lainnya di Sulawesi. Para ahli percaya, hampir pada setiap bentuk kebudayaan di dunia, pengaruh lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab berbedanya varian artefak dan corak kebudayaannya. Kondisi laut yang berombak besar, membutukan jenis perahu yang mampu bermanuver dengan cepat.

Ridwan Alimuddin yang lama meneliti sandeq mengungkapkan bahwa berkembangnya evolusi perahu layar menjadi sandeq di awal tahun 1930-an, merupakan adaptasi para pelaut Mandar ketika berinteraksi dengan para pelaut-pelaut Eropa, terutama pada adatasi layar sehingga berbentuk segitiga. Namun tidak cukup dengan itu, bukti bahwa orang Mandar adalah pelaut dan bukan pelaut pedagang seperti suku lainnya di Sulawesi adalah pencapaiannya dalam menciptakan perahu sandeq – sebuah perahu yang awalnya untuk mencari hasil perairan laut dalam.

Namun, terlepas dari beberapa artefak di situs-situs arkeologi potensial di tanah Mandar yang lebih berorientasi agraris, saat ini sandeq adalah satu-satunya pembuktian bahwa orang Mandar memang pelaut ulung. Tidak diketahui secara pasti kapan mereka meninggalkan tradisi agrarisnya menuju tradisi maritim yang kental. Karena itu, ajang Sandeq Race bagi para keluarga nelayan di tanah Mandar adalah bagian dari prestise keluarga. Hal itu dimungkinkan karena saat ini tidak semua warga nelayan memiliki dan mampu mengendalikan sandeq. Karena itu keikutsertaan dalam ajang lomba bagi warga nelayan adalah bagian dari gengsi dan status sosial kelurga. Dan bagi kami, adalah satu kehormatan bisa mengendarai perahu layar tradisional tercepat di dunia itu.

Sandeq Bintang Sejarah yang saya naiki, dalam rating yang dicatat panitia merupakan sandeq dengan rating 4, yang berarti dari ukuran prestasi merupakan favorit juara. Sandek itu milik Saini, seorang nelayan yang bermukim di kawasan teluk Mandar, di desa Tangnga-Tangnga, Tinambung, Sulawesi Barat. Seperti nelayan Mandar lainnya, sandeq miliknya hanya dipergunakan pada saat lomba. Itu terhitung sejak ia memiliki sebuah kapal bermesin motor untuk aktivitas melautnya.

Berbeda dengan sandeq lain dalam perlombaan kali ini, Bintang Sejarah masih mempertahankan bentuk sandeq khas nelayan. Sandeq lain, umumnya lebih panjang dan rendah sehingga bisa memiliki layar lebih lebar yang dapat menampung lebih banyak angin ketika melaju. Sebaliknya, Bintang Sejarah memiliki ukuran terpendek, namun rating dan prestasinya menunjukkan sandeq ini tidak kalah dengan sandeq lain. Hal itu terkait dengan kemampuan para awak atau sawi serta punggawanya yang memang berkutat dengan kehidupan sandeq sebelum kapal bermesin motor marak di tanah Mandar.

Namun di ajang lomba tahun ini, kejayaan Bintang Sejarah seakan memudar. Pada etape pertama (Mamuju) yang menempuh jarak 60 km dari pantai Manakarra menuju Malunda, sandeq ini berada di posisi ke-12. Sedangkan etape Malunda - Majene berada di peringkat 8. Kekalahan tersebut lebih disebabkan minimnya angin di kedua etape dan kelelahan fisik sebab di etape yang ditempuh selama dua hari itu, ke-53 perahu yang berlomba harus mendayung. Alhasil, sandeq yang berbadan rendah lebih memiliki kecepatan dibandingkan dengan perahu sandeq yang saya tumpangi.

Keberuntungan tidak juga berpihak. Karena itu, di dua etape sebelumnya, perlombaan terasa monoton, tidak ada aksi akrobatik dari para passandeq dan perahunya dalam meniti gelombang. Hambar saja rasanya melalui kedua etape ini. Karena itu, etape Majene - Polewali yang dikenal memiliki angin kencang merupakan tempat favorit bagi para passandeq dan tempat mendokumentasikan lomba yang paling menarik.

Namun tidak semua punggawa sandeq mengizinkan orang lain ikut pada etape ini. Selain dapat mengacaukan konsentrasi akibat terjatuh di laut, mereka juga mengkhawatirkan peralatan dokumentasi yang dibawa akan rusak. “Kalau mau naik, panitia tidak bisa fasilitasi, tanya ke punggawanya langsung,” ujar Iwan. Walaupun mendapat izin, paling tidak orang yang mau ikut sandeq harus berlatih dahulu. Sesi latihan biasanya dilakukan jauh hari sebelum lomba. Beruntung pada sesi latihan, saya berhasil lolos, dan diperbolehkan naik di atas sandeq pada etape Majene - Polewali. Itu pun dengan pinggang dan pergelangan kaki yang terikat rapat supaya tidak terjatuh.

Adrenalin saya sudah terpacu beberapa menit sebelum bunyi letusan pistol mengawali etape Majene - Polewali. Kaki saya kesemutan akibat tali yang begitu kuat mengikat. Berulang kali Kama Muin, dan para sawi lainnya mengingatkan saya untuk berhati-hati. Namun gerakan sandeq yang melakukan gerakan timbang – gerakan akrobatik berdiri di tepi cadik untuk menyeimbangkan laju perahu agar tidak terbalik – lebih menarik untuk saya. Kamera saya terus merekam adegan tersebut. Konsentrasi pun terpecah antara mempertahankan arah kamera dengan keseimbangan tubuh yang terganggu akibat cipratan ombak.

Belum sadar sepenuhnya, tiba-tiba bayangan putih melesat tepat sejengkal dari kepala. Astaga, ujung cadik perahu sandek lawan hampir memecahkan kepala saya dan merobek layar perahu. Keseimbangan jadi terganggu, kamera pun basah terkena ombak. Blank! Punah sudah harapan saya. Kamera yang tidak terbalut lapisan anti-air itu tiba-tiba padam.

Namun satu hal yang menakjubkan, perahu kami memimpin etape ini. Meninggalkan jauh sandeq lainnya di belakang. Para sawi itu seperti gila, berloncatan ke sana kemari meniti cadik yang tipis dengan hanya bergatung pada seutas tali. Inilah adegan mattimbang lima. Adengan yang paling dinanti oleh para pencinta sandeq. Sesekali tubuh mereka di atas cadik berada sekitar 2 meter dari permukaan laut sebelum terhempas kembali ke dalam gulungan ombak. Hidup dan keselamatan mereka sepenuhnya hanya bergantung pada seutas tali itu, dan bertumpu pada kekuatan cengkraman kaki mereka yang kuat pada cadik yang licin. Pemandangan ini begitu mengerikan sekaligus eksotis. Sayang kamera saya telah rusak belaka.

Kami semua diliputi rasa bangga, begitu perahu melaju meninggalkan peserta yang lain. Untuk mencari angin yang lebih kencang, punggawa membelokkan haluan semakin ke tengah lautan. Daratan tampak kian mengecil. Beberapa sandeq di belakang kami rupanya mengambil langkah serupa. Dari jauh, perahu panita dan kapal pengiring kami kelihatan mengecil. Sepertinya mereka kesulitan mengiringi, sehingga lama-kelamaan mereka pun tidak kelihatan lagi.

Selama satu jam perjalanan, sandeq kami masih memimpin. Ujung cadik melayang di atas air. Para sawi sudah melakukan formasi timbang enam, yakni formasi langka yang jarang dilakukan oleh passandeq. Di tengah ketakjuban itu, tiba-tiba terdengar bunyi berderak. Saya tidak sempat berpikir. Para sawi terpental ke laut, sandeq oleng, dan separuh badan saya sudah berada di dalam laut. Ketika menengadah, tampaklah tiang layar yang terbelah dua. Saya pasrah saja, badan terikat dan tiang layar yang patah jatuh dari atas. Beruntung tidak mengenai badan atau mematahkan cadik yang menyeimbangkan perahu.

Sekali lagi saya menyaksikan, para sawi yang terlempar ke laut itu dengan mudah kembali berenang menuju sandeq. Luar biasa! Dengan mengandalkan bekas tiang layar yang ada, punggawa dan para sawi membuat tiang layar baru. Namun arus selat Makassar yang kuat membawa kami terombang-ambing di lautan luas, bukan menuju ke arah Polewali tapi malah mengarah ke perairan Mamuju.

Selepas asar, ketika matahari mulai condong ke barat dan pantai mulai terlihat, satu kapal nelayan melintas. Saya yang sejak tadi sibuk mengingat Tuhan akhirnya bergembira. Ada harapan untuk merapat ke pantai. Sandeq kami pun ditarik ke pantai. Persisnya di pantai kampung Rangas, 8 km dari kota Majene. Belakangan kami tahu, ternyata bukan sandeq kami saja yang mengalami kerusakan. Sedikitnya di pantai Rangas itu ada 6 sandeq yang rusak dan batal mengikuti etape Majene - Polewali. Meminjam hand phone seorang penduduk, saya mengabarkan kejadian itu ke Iwan. Tidak lama menunggu, panggilan darurat ini pun bersambut.

Sebelumnya, Iwan hanya bisa tercekat. Sebab, dari jauh ia menyaksikan perahu sandeq Bintang Sejarah yang melaju tiba-tiba berhenti di tengah laut. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, kapal motor panitia yang ditumpanginya tidak berani menempuh resiko untuk lebih ke tengah laut. Namun ia sepenuhnya percaya, para awak Bintang Sejarah bukan peserta lomba biasa. Mereka adalah nelayan tangguh yang bertanggung jawab dan terbiasa dengan ancaman seperti itu. Sehingga walapun sedikit berat, ia terpaksa melanjutkan perjalanan menyusuri tepi pantai Majene menuju Polewali.


Sementara di perahu logistik, Syaiful sedikit cemas. Sejak tadi kamera PD sudah menggelatak di sampingnya. Dari kejauhan ia tidak melihat lagi tangan saya mengacungkan camcoder. Ketika perahu sandeq terhenti tiba-tiba di lautan, ia bertambah khawatir. Karena itu Miming berusaha mendekati Bintang Sejarah, ia khawatir walaupun para sawi dan punggawa telah berjanji untuk menjaga “orang lain yang terikat” agar tidak terjatuh. Namun sandeq yang terhenti di tengah laut secara tiba-tiba itu membuat dirinya cemas. Ombak terlalu besar untuk dilalui apalagi salah satu mesin kapal mati. Saiful dan Miming hanya bisa pasrah. Sementara itu, kapal panitia sudah tidak terlihat lagi.

Pukul 4 sore, hand phone Iwan berbunyi, satu SMS dengan kode CM masuk. Itulah panggilan darurat dari saya. Ia segera menghubungi kembali nomor tersebut. Mendadak wajahnya berseri. Iwan bilang, “Ya tunggu saja di Rangas, panitia akan menjemput di situ. Berapa sandeq yang merapat di situ?” Ia kedengaran sedikit bersemangat. Mungkin ia semakin yakin, orang Mandar memang orang laut. Entahlah. [ASFRIYANTO]

Note: Artikel di atas ditulis oleh Asfriyanto (periset lepas POTRET) untuk situs PANYINGKUL. Kami sengaja menjadikannya bagian dari BLOG ini sebagai bahan perbandingan dan renungan; bagaimana sebuah film dokumenter digarap.