Maret 30, 2009

MONUMEN POTRET


Tiga tahun yang lalu – ketika masih harus mengarungi laut demi laut, melintasi sungai demi sungai, menaiki gunung demi gunung, menapaki hutan demi hutan, dan menghampiri satu demi satu suku terasing di tanah air – sempat membuat catatan kecil di laman blog saya. Bukan sekedar catatan, sebenarnya. Buat saya, hal itu merupakan monumen untuk mengingat sebuah situasi atau perjalanan hidup. Persisnya, ketika bekerja di program POTRET. Isinya seperti ini:

Membuat film dokumenter atau feature TV sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan baku yang memadai. Sulit jadinya, memang. Tapi, itulah konsekuensi berkesenian.

Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.

Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.

Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.

Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...

"Bisa bertahan saja sudah merupakan kemenangan". (Xinran, Sky Burial, Serambi)


Ketika catatan itu ditulis, saya tidak pernah memikirkan dampak atau resiko yang harus diambil. Karena, tulisan itu hanyalah monumen untuk diri-pribadi dan tidak ada kaitannya dengan siapa pun. Meski tidak ada reaksi langsung di hadapan saya, sejumlah teman sempat mengingatkan akan ketersinggungan pihak-pihak yang kemungkinan dimaksud sebagai mandor atau pemilik bangunan. Jawaban saya, haknya mereka untuk tersinggung atay marah. Tapi, haknya saya juga untuk mengenang segala perlakukan dan “apreasiasi” yang didapat dari mandor atau pemilik bangunan itu.

Tapi, saya tidak akan berpanjang-panjang tentang siapa yang dimaksud sebagai mandor atau pemilik bangunan dalam konteks itu. Serta, hal apa yang melatarbelakangi penulisan catatan kecil itu. Sekali monumen tetap monumen. Jadi, fungsinya tak lebih dari tugu peringatan. Jadi, tidak dikondisikan untuk “menghajar” atau mempermalukan pihak mana pun. Kenapa harus blog? Karena, hanya ruang itu yang saya miliki dan bisa dijumpai para “tukang” atau “kenek” sebebas-bebasnya. Ya, sebagai tugu peringatan juga buat mereka.

Akhir tahun lalu – setelah setahun lebih tidak lagi bekerja untuk program POTRET – saya mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat. Maka, saya pun kembali “membangun” monomen baru dib log saya untuk program dokumenter itu. Isinya seperti ini:


"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir). Tidak ada surat pemberitahuan resmi. Tidak ada kata perpisahan khusus. Bahkan, tidak ada lagi keharuan. Karena, semua lepas bebas laksana kapas tersapu angin.

Bahkan, saya tidak bisa membalas SMS itu lantaran tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan. Perasaan sedih? Itu sudah terjadi sejak saya berada di dalam tim, tiga tahun yang silam. Air mata? Paling tidak, dua kali saya harus melelehkan air mata. Pertama, ketika menulis tentang almarhum M. Guntur Syaifullah, kamerawan dan sahabat di Liputan6. Dan kedua, ketika Asfriyanto, periset saya di Makassar, terapung-apung hingga enam jam di atas Selat Makassar karena tiang sandeq yang patah. Peristiwa itu juga seakan menjadi firasat, dengan layar sandeq bergambarkan bumper POTRET yang harus masuk ke laut. Ingat lagu rap, "Ke laut aje!"

Karena itu, saya tidak memiliki stok air mata untuk urusan POTRET di
"cut to black".

Saya coba ingat catatan kecil ketika berada di dalam tim itu. Atau, ulah para "penggede" yang laksana tuhan (atau lebih tepat disebut Fir'aun) hingga saya bertutur dalam artikel bertajuk "Slamet Gundono Jadi Tuhan". Lantas, ada juga cerita lucu soal penggunaan positioning yang tanpa permisi. Lucu. Hingga, saya tidak memiliki jawaban paling asyik untuk membalas SMS itu, selain "Ya, ikut sedih aja."


Beberapa hari yang lalu, kembali saya menerima pesan singkat tentang program POTRET. Katanya, Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya POTRET dapat penghargaan Panasonic Award…

Kali ini saya bahagia, karena saya melihat rona bahagia dalam kalimat yang disampaikan teman saya tadi. Karena, dalam benaknya pasti terlintas sebuah pemikiran, ternyata sang “anak tiri” mendapatkan pengakuan dari dunia luar. Terlambat?

Tidak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan, kata orang-orang bijak. Pada 2006, POTRET menjadi salah satu nominasi dalam ajang penghargaan itu. Namun, seseorang menangggapi secara secara dingin seraya berkilah, “Wajar saja, POTRET kan program tua.” Artinya, ada ketidakikhlasan dari orang-orang yang sebut sebagai “mandor” atas prestasi itu. Kalimat itulah yang menjadi dasar “pembangunan” monumen pertama seperti diceritakan di atas. Bahkan, ketika program itu dilikuidasi – ketika sebagian besar teman berduka – ternyata para “mandor” tetap tertawa senang. Sehingga, saya pun merasa perlu “membangun” monumen kedua.

Bagi saya, penghargaan yang didapat secara terlambat – karena didapat setelah programnya ditutup – merupakan monumen abadi POTRET. Penghargaan itu menjadi bukti, POTRET pernah ada dan menjadi bagian dari penonton televisi di tanah air. Dan, kalau mau jujur, program itu juga menjadi inspirasi bagi program sejenis yang dibuat stasiun lain. Perkara rating dan share memang hantu-belao yang terus membayangi perjalanan sebuah program televisi. Sehingga, bila kedua hal itu tidak memenuhi target sangat wajar untuk digantikan infotainment atau reality-show yang tidak mendidik sekali pun. Karena, pendirian televisi di negeri kita memang tidak ditujukan untuk mendidik anak-anak bangsa(?)

Sebagai orang yang pernah bekerja di program itu, saya tetap bangga. Karena, kami pernah memberikan warna bagi wajah pertelevisian kita dan menawarkan kisah nyata negeri ini. Saat itu, kami juga bangga, dalam posisi sesulit apa pun masih tetap menghadirkan bentangan ragam budaya kita.[]

November 20, 2008

CUT TO BLACK

Tiang sandeq dengan layar bergambar bumper POTRET patah. Firasat akan di"cut to black"nya POTRET setahun kemudian?

"Sedih, akhirnya dunia kita benar-benar hilang..."
(Pesan singkat dari seorang sahabat, Jumat 07 November 2008 pukul 19:19 WIB)

Sabtu, 15 November 2008 menjadi gong terakhir penayangan program POTRET di layar SCTV (paling tidak dengan kemasan dan tema yang akrab di hati pemirsa selama enam tahun terakhir).

Saya tidak bisa membalas SMS yang bisa memuaskan perasaan teman saya itu, selainn menjawabnya, "Ya, ikut sedih aja."[]

November 10, 2008

PEMAKAMAN TOKOH SUMBA TIMUR

Akhirnya, masa penantian itu berakhir juga. Setelah disemayamkan selama tiba bulan, akhirnya warga Perkampungan Adat Rende, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bisa menyaksikan salah satu tokoh adat dan pemerintahan di kabupaten itu mendapati peristirahatan terakhirnya. Senin (10/11) mendatang, jasad mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda akan dimakamkan secara adat.

Acara itu menjadi menarik bukan karena ketokohan almarhum Umbu, tapi juga berkaitan dengan atmosfir budaya yang akan disajikan. Hingga, 135 rombongan adat yang masing-masing beranggotakan sekitar 250 orang dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, tidak akan melepaskannya begitu saja. Mereka diperkirakan akan berdatangan mulai Ahad (9/11) dan diterima secara adat di Huma Bokul atau rumah besar.

Rencananya, ritual pemakaman diawali dengan pemotongan delapan ekor hewan, yakni dua pasang kuda dan dua pasang kerbau. Setelah itu, jenazah dikeluarkan dari rumah besar menuju lokasi pemakaman dikawal papanggang atau penjaga jenazah selama persemayaman.

Papanggang terdiri atas pasangan lelaki yang menunggang kuda dan membawa ayam dan perempuan yang membawa sirih-pinang. Mereka mengenakan pakaian kebesaran dilengkapi perhiasan emas.

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, warga akan memotong empat ekor kuda dan empat ekor kerbau. Sedangkan delapan ekor hewan yang dipotong sebelum jenazah dimakamkan dibuang ke pinggir kampung, untuk dimanfaatkan warga setempat. Pihak keluarga tidak boleh mengonsumsi hewan itu, apalagi untuk menjamu para pelayat.

Keluarga besar almarhum memang menyiapkan hewan tersendiri untuk dihidangkan ke para pelayat. Untuk kebutuhan konsumsi sekitar 4.000 pelayat, mereka telah menyediakan hampir 300 ekor hewan.

Selain urusan perut dan rincian acara, keluarga besar almarhum juga menyiapkan batu nisan khusus seberat 32 ton berbentuk perahu, dengan dua penji atau tiangh berrelief. Bahkan, pihak keluarga harus memboyongnya dari Bukit Kampung Rende yang letaknya cukup jauh dari rumah besar.(SHA/Liputan6.com)

September 22, 2008

SYAICHON BERZAKAT

KAMPANYE PRO-KELAPA SAWIT

Indonesia dan Malaysia mengampanyekan pro-kelapa sawit di Eropa, dengan mengadakan pertemuan segitiga dengan anggota Parlemen Eropa di Brussel, baru-baru ini. Selama ini, perkebunan kelapa sawit dituding merusak lingkungan dan mengikis jumlah orangutan.

Konferensi bertema "The Road Ahead for Sustainable Palm Oil" itu digelar Dewan Palm Oil Malaysia dan Institute Asian Strategis and Leadership Malaysian palm Oil Council. Dalam acara itu, Indonesia diwakili Menteri Pertanian Anton Apriyantono, sedangkan Malaysia diwakili Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

"Kami merasa, banyak sekali hal yang dirasakan negatif mengenai minyak kelapa sawit," kata Anton.

Selain berkampanye di Brussel, rombongan kedua negara juga mengunjungi Den Haag dan mengelar konperensi dunia bertema "World Sustainable Palm Oil Conference" di London. “Bagi Indonesia dan Malaysia, minyak kelapa sawit banyak keuntungannya dan menjadi komoditi yang sangat penting,” kata Anton.

Menurut Anton, Indonesia dan Malaysia merupakan pemasok minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Khusus ke Eropa, katanya, pasokan kedua negara mencapai 85 persen.

“Pada 2007, produksi minyak kelapa sawit di Indonesia 16,9 juta ton dan Malaysia 15,82 juta ton,” kata Anton. ”Selain itu, lebih dari lima juta tenaga kerja terlibat di perkebunan kelapa sawit mulai menanam, mengelola, sampai memasyarakatkan.”

Terkait tudingan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat tentang perusakan lingkungan, Anton menilainya sebagai kesalahpahaman. Termasuk, argumentasi total lahan atau daratan 190 juta hektar yang 130 hektar merupakan areal hutan.

”Dari 130 juta hektar areal hutan itu, sekitar 86 juta hektar masih utuh dan sisanya sudah tidak utuh lagi dan itu disebabkan ilegal loging,” kata Anton. “Areal pertanian masih di bawah 40 juta hektar, sementara kelapa sawit hanya menempati areal sebesar 6,3 juta hektar, dan bila dibandingkan sangat jauh pengunaan areal pertanian.”

Menurut Anton, Departemen Pertanian sangat konsen dengan koservasi hutan dan mendedikasikan 32,6 juta hektar sebagai hutan lindung orangutan dan hutan konservasi. "Jadi, tidak benar isu deforestasi itu dan mungkin ada juga unsur persaingan," katanya.

Selain itu, Anton menilai, tidak ada peraturan di Indonesia yang melarang pembukaan hutan untuk menanam kelapa sawit. Kecuali, katanya, hutan konversi yang memang didedikasikan untuk pertanian.

Untuk itu, selama setahun ini Malaysia dan Indonesia giat mengampanye pro-kelapa sawit ke beberapa negara, institusi, dan berdialog dengan pengusaha, untuk menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Pekan lalu, Indonesia dan Malaysia mengeluarkan Komunike Bersama berisi sanggahan terhadap kampanye negatif soal kelapa sawit, yang dianggap hanya berdasar data sekunder dan tidak berdasar studi ilmiah.

Kedua negara juga mendesak Parlemen Eropa untuk mau mendengar sikap Indonesia dan Malaysia. ”Misi yang diharapkan akan membawa manfaat bagi kedua negara,” kata Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Peter Chin.

Sementara itu Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggeris Raya dan Republik Irlandia, Yuri Octavian Thamrin, mengatakan konperensi dunia mengenai kelanjutan kelapa sawit ini merupakan forum yang baik untuk mengklarifikasi salah pengertian mengenai CPO. Ia berharap, forum yang dihadiri lebih dari 500 peserta dari berbagai kalangan itu akan dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan seluruh masalah secara kooperatif.(SHA/LIPUTAN6.COM)


Note:

Dalam kisah "Orangutan di Kebun Kelapa Sawit" merupakan gambaran nyata di lapangan. Kok, bisa beda?