Oktober 14, 2009

N KAPAN PERANCIS, SEJARAH BARU KAMPUNG ARA


Dengan ketelitian tingkat tinggi, berbalut dengan asap kemenyan yang mengepul, sambil berkomatkamit mengucapkan mantra suci, Haji Muslim Baso (65) tampak terampil memangkas potongan kayu besi yang tersisa, dengan bantuan alat pahat. “Orang Perancis yang memesan kapal ini sangat cerewet. Salah satu senti kita bisa dikomplen,” ujarnya sambil mengibaskan peluh di dahinya.

Sudah dua bulan lelaki itu berjibaku mengerjakan pesanan kapal tersebut. Bentuk kapal yang dipesan orang Perancis itu tidak lazim. Dari desain gambar yang diperlihatkan Muslim Baso kepada saya, tampak bentuk kapal itu mirip dengan kapal perang Eropa zaman dahulu, dengan lunas yang tinggi, bentuk haluan yang lebar dan sedikit pepat, serta buritan yang rata dengan air. Selama dua bulan itu pula, Muslim Baso dibantu 20 orang sahi (pekerja), bekerja sedikit demi sedikit mengikuti desain kapal yang didatangkan langsung dari perancis itu , untuk mewujudkan sebuah perahu yang eksotis namun juga sangat kokoh.

Muslim Baso merupakan salah satu punggawa (pemilik modal) sekaligus berperan sebagai panrita lopi atau ahli dalam membuat kapal berbahan kayu. Bukan hanya perahu layar motor (PLM) dan pinisi saja yang bisa dibuatnya, tapi ia juga mampu mengerjakan kapal dengan desain yang disodorkan oleh para pemesan atau yang biasa ia sebut sebagai sambalu.

”Saya sudah mengerjakan sekitar 200 perahu mulai dari tonase 1 ton sampai 1000 ton,” katanya menjelaskan keterlibatannya sejak tahun 1967 sebagai panrita lopi di kawasan pantai Tanah Beru kabupaten Bulukumba, Sulsel. Daerah yang terletak kurang lebih 200 km ke arah selatan Makassar ini, kesohor sebagai sentra pembuatan perahu.

Ia sudah lupa tanggalnya, namun yang pasti ia masih ingat bahwa ia lahir tahun 1952 di kampung Ara, sebuah desa yang terletak sekitar 45 km dari kota Bulukumba. Di kampung Ara itu, ketika Muslim berusia 15 tahun ia sudah dilibatkan oleh orang tuanya untuk membantu pekerjaan membuat perahu pinisi. Lewat ayahnya pula, ia banyak belajar mengenai aturan-aturan adat dan teknis yang berkaitan dengan seluk beluk pembuatan perahu.

”Dulu saya masih ingat, kalau ada yang datang membuat perahu pada ayah saya, mereka cuma bilang saya mau perahu yang bisa menampung 200 pikul beras. Hanya itu. Tidak ada desain kapalnya,” Muslim mengenang masa awal keterlibatannya dalam pembuatan perahu.

Lewat pengalaman-pengalaman itu pula, di galangan kapal sederhana yang disebut bantilang, keinginan pemesan diwujudkan. Hanya dengan naluri alam sebagai pengrajin kapal, ia bersama ayahnya menyusun kepingan-kepingan papan menjadi sebentuk kapal yang diinginkan pembeli. Lama kelamaan, ia mulai dipercaya oleh ayahnya untuk mengerjakan sendiri pembuatan kapal-kapal yang dipesan.

Pada tahun 70-an, ketika bahan baku mulai menyusut di kawasan Bulukumba, seperti para pembuat perahu Ara lainnya, ia kemudian merantau ke Kalimantan dan ke Labuan Bajo, yang merupakan daerah sentra pembuatan perahu kayu tradisonal selain di kawasan Ara dan Tanah Beru. Tiga tahun setelah perantauannya itu, ia kemudian dipanggil pulang ke Ara dan menikah. Menariknya, ia kemudian beralih menjadi pedagang kain Bira dan emas. Pengalaman hidupnya selama diperantauan mengajarkan Muslim bahwa berdagang emas dan kain Bira jauh lebih menguntungkan. Apalagi ketika itu, pesanan perahu kayu mulai digantikan oleh perahu dari bahan fiberglass dan besi. Pilihan itu tidak salah, usaha perdagangannya berkembang dengan pesat sampai saat ini.

Walaupun demikian, ayahnya tidak setuju dengan pilihan hidupnya itu, dan tetap menyarankannya untuk menekuni prosesi sebagai panrita lopi, pertentangan ayah dan anak itu semakin tajam, namun Muslim Baso tetap pada pilihannya, “Sampai saat ini, hasil usaha saya berdagang jauh menguntungkan dibandingkan membuat perahu, apalagi saat ini kayu semakin sulit akibat adanya larangan illegal loging, ” katanya.


Menjual emas, membuka bantilang
Perjalan hidupnya kemudian mengalami titik balik. Tahun 1990-an, kampung Ara mengalami satu fenomena yang menarik. Tiba-tiba saja kaum laki-laki Ara yang selama ini di perantauan, muncul dan berkeliaran di tengah kampung. Ini satu hal yang tidak lazim, sebab biasanya- dan sampai saat ini pun- biasanya hanya kaum perempuan saja yang banyak di tengah kampung, sebab kaum laki-lakinya merantau ke daerah lain bekerja sebagai pembuat perahu.

Muslim tersadar, ia teringat pada pesan ayahnya, dan kehadiran para migran dadakan itu menyadarkannya, bahwa laki-laki Ara, walaupun ahli sebagai pembuat perahu namun hanya bertindak sebagai pekerja (sahi) saja, belum ada orang Ara ketika itu yang bertindak sebagai punggawa yang bisa berperan sebagai pemilik modal untuk mengerjakan perahu. “Saya menjual sebagian emas yang saya miliki, dan mengumpukan mereka, kemudian membuat bantilang kembali. Bagaimana saya tidak sedih, orang Ara dikenal sebagai pembuat perahu tapi sangat susah mendapatkan orang Ara membuat perahu di kampungnya sendiri,” katanya.

Sejak saat itu pula, ia menjadi punggawa perahu sekaligus panrita lopi. Bintang keberuntungan dan ramalan ayahnya terbukti, selain usaha emas dan kainnya, usaha pembuatan kapalnya juga berkembang dengan pesat.

Demi pesanan
Orang Ara percaya, kemampuan mereka membuat perahu lebih karena kedekatan mereka terhadap alam dan sukma laut. Melalui mitos perjalanan Sawerigading, ke tanah Cina orang Ara percaya, bahwa Sawerigading secara tidak langsung telah mengajarkan mereka keahlian membuat perahu melalui kepingan papan kapal Sawerigading yang pecah dalam pelayarannya kembali ke tanah Luwu.

Jika kerangka kapal terdampar di Ara, maka kemudi dan layar kapal Sawerigading yang pecah itu terdampar di Waniaga (nama Bira dahulu), makanya orang-orang Bira ahli dalam berlayar. Terlepas dari mitos tersebut, melalui pelacakan dokumen Belanda, Edward Poelinggomang sejarawan Unhas menyebutkan “Bira adalah nama Sungai Tallo sekarang, Bira dahulu dikenal sebagai sentra pembuat armada perahu kerajaan Gowa, ketika bahan baku semakin sulit, maka pusat pembuatan perahu armada Gowa yang ada di sungai Bira itu kemudian dialihkan ke daerah Waniaga. Lambat laun Waniaga berubah nama menjadi Bira saat ini”.

Terlepas dari fakta sejarah dan mitos tersebut, keahlian para panrita lopi dari Ara sudah terkenal sampai ke mancanegara. “Delapan puluh persen kapal yang saya kerjakan dipesan oleh orang Eropa. Orang-orang kita lebih suka pakai perahu fiberglass,” jelas Muslim.

Rasanya tidak berlebihan penjelasan yang dilontarkan lelaki ini. Buktinya, tahun ini saja, ia sudah menyelesaikan dua kapal motor dan dua kapal pinisi pesanan salah satu LSM luar negeri. Namun ia lantas menambahkan “ Kapal-kapal tradisi semisal padewakang, lambo, palari sudah tidak ada lagi yang membuatnya, pinisi saja jarang dipesan, yang lebih banyak saya buat cuma kapal motor saja.,”

Kapal yang dibuat oleh orang Ara memiliki teknik pembuatan yang tidak lazim dalam seluk beluk teknik perkapalan. Jika pada pembuatan perahu moderen, yang dibuat terlebih dahulu adalah rangka kapal kemudian diberi dinding, maka perahu yang dibuat orang Ara justru kebalikannya. Mereka membuat dinding dahulu, baru kemudian diberi kerangka atau solloro. Namun anehnya ketika proses pengapungan kapal di lautan, desain kapal yang biasanya tanpa gambar dan hanya mengikuti naluri itu, memilki keseimbangan yang luar biasa.

”Perahu kami lebih kuat dan tahan ombak dibandingkan dengan perahu yang dibangun mulai dari rangkanya dulu,” Muslim menjelaskan dengan bangga.

Nah, kapal pesanan orang Perancis yang sedang dikerjakannya itu dibuat dengan cara moderen. Kata Muslim pengerjaannya sangat boros kayu. “Wah, selisih ukuran satu sentimereter langsung dikomplen, makanya banyak kayu yang terbuang.” Namun, karena ini pesanan, ia tidak dapat menolak. Harga perahu ini Rp1,5 miliar dan kata Muslim telah menghabiskan bahan baku senilai Rp500 juta. Pembuatan perahu cara moderen seperti itu baru pertama kali dilakukan di Tanah Beru. Dari sekian banyak panrita lopi yang ada di Tanah Beru, Muslim merupakan orang pertama yang diberi kepecayaan untuk membuatnya.

Kapal kayu pesanan orang Perancis yang dibuat di galangan kapal sederhana milik Muslim itu, tidak lama lagi akan menghias salah satu museum bahari di kota Paris.

Sambil menikmati kelapa muda yang disodokan ahli perahu itu kepada saya, khayalan saya pun terbang membayangkan, di museum itu, para orang kulit putih (dan mungkin juga ada yang berkulit sawo matang dari Indonesia) berjejal dan terkagum-kagum mengamati bentuk kapal buatan Muslim Baso. Celakanya, saya tidak bisa mencegah diri saya mengkhayalkan bahwa sang pemandu museum itu akan berkata dengan bangganya, “Inilah karya nenek moyang orang Perancis yang pernah menjadi bangsa bahari di lautan, menguasai sepertiga samudera, ahli berlayar dan pembuat perahu yang ulung.”

Ah, khayalan yang membuat galau.[ASFRIYANTO]


ORANG SAMA, ORANG LAUT, DI MANAKAH KAU BERADA?


Empat jam di atas perahu motor, tiga kali melintasi tasik yang berair bening, barulah kami bertemu dengan Langkepe (70 tahun). Seminggu sebelumnya, kami telah mencarinya di Teluk Bone namun tanpa hasil, sampai tiga hari yang lalu ada nelayan yang memberitahu bahwa Langkepe berada di sekitar Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Ketika akhirnya bertemu, ia tampak ketakutan dan bersiap-siap melompat dari perahunya. Pemandu kami, yang kebetulan masih memiliki pertalian keluarga dengannya, menyapa dalam bahasa Sama. Terjadi perdebatan sedikit, sampai akhirnya Langkepe mengiyakan. Ia pun mengajak kami merapat ke pantai. “Dulu saya pernah ditangkap oleh petugas yang datang bersama sepupu saya ini,” kata Langkepe.

Mungkin Langkepe adalah satu-satunya orang Sama yang masih melakoni hidup sebagai manusia perahu. Sebab setelah adanya pembagian dana kompensasi BBM pada tahun 2004, orang-orang Sama yang tadinya masih melakoni kehidupan sebagai manusia perahu, lebih memilih memiliki alamat tetap sebagai prasayarat untuk mendapatkan dana tersebut.

Dibandingkan dengan fotonya di tahun 1995 yang kami peroleh dari seorang peneliti, Langkepe saat ini tampak semakin tua. Rambutnya telah memutih. Cuma satu hal yang masih bertahan, mungkin kebiasaannya bertelanjang dada dan kulitnya yang gelap. Lewat foto itu pula kami menjadi akrab. “Meninggalmi itu Baso, pak; dikuburkanmi di Lasusua,” katanya menjelaskan anak kecil yang ada di pangkuannya, dalam foto lama itu.

Secara fisik, orang-orang Sama yang melakoni hidup sebagai manusia perahu, memiliki dada yang lebih bidang, badan yang tipis, sehingga bentuk badannya dari pusar sampai ke bahu akan berbentuk segitiga terbalik. Badan dan lengan beorotot namun otot kaki tidak begitu berkembang. Para ahli memperkirakan bentuk fisik itu disebabkan kaki orang Sama jarang beraktivitas. Nah, Langkepe memenuhi ciri-ciri itu, suatu hal yang sudah sangat jarang ditemukan pada orang-orang Sama yang telah bermukim di daratan.

Dalam tulisan ilmiah, orang Sama, orang Bajo, atau orang laut adalah istilah yang sama untuk komunitas sea nomadic. Tahun 1980 keberadaan mereka kian terancam oleh program Departemen Sosial yang ingin merumahkan mereka di darat. Ketika itu, banyak rumah perahu (soppe) orang Sama yang dibakar dan penghuninya dipaksa untuk menetap. Namun sebagian lagi masih berusaha untuk kucing-kucingan.”Perahu soppe saya sudah tidak ada lagi. Sekarang saya pakai perahu biasa. Dua kali sudah dibakar pamarenta perahu soppe saya,” begitu kata Langkepe ketika ditanya tentang perahu soppenya seperti yang ada di foto itu..

Langkepe bercerita, pada tahun 1998 ia ditangkap oleh tim dari Departemen Sosial, kemudian dirumahkan di salah seorang kerabatnya. “Sakit-sakitan badanku, nak, kalau di darat. Tidak nyenyak tidurku”. Ia bahkan sempat dituduh gila setelah istrinya meninggal dunia. Di antara tekanan seperti itu ia kemudian berusaha merakit kembali perahu dari papan-papan bekas. Setelah itu, bisa ditebak, ia lari dan kembali melakoni hidupnya sebagai manusia perahu. Sejak peristiwa itu, ia sangat takut bila bertemu dengan rombongan berperahu motor dengan penumpang yang berbaju coklat dan berambut cepak.

Walaupun kembali melakoni hidup sebagai manusia perahu, namun karakteristik perahu soppe orang Sama yang khas, tidak dimilikinya lagi. Perahu soppe orang-orang Sama sangat unik. Perahu itu bentuknya seperti kuali yang mengapung, memiliki dasar yang lebar dan sisi perahu yang sangat rendah dari permukaan laut. Perahu ini sangat stabil dari hempasan ombak dan sulit untuk tenggelam. Namun untuk menjalankan perahu semacam itu tidak mudah sebab jika dikayuh, akan berputar-putar dan tidak bergerak maju. “Susahmi cari pohon besar untuk bikin perahu soppe sekarang. Habis semuami ditebang,” katanya.

Mitos dan fakta

Saat ini orang-orang Sama telah memeluk agama Islam, namun jejak-jejak religi purba mereka masih dapat ditemui terutama dalam senandung iko-iko (tradisi lisan). Mereka percaya telah ditakdirkan untuk menghuni lautan.

Konon ketika Sawerigading (tokoh dalam cerita La Galigo) hendak membuat perahu mengunjungi Tana Cina untuk mencari permaisuri, dibutuhkan perahu yang sangat besar. Berdasarkan petunjuk para Bissu, pendeta suci orang Bugis, letak pohon itu ada di sebuah bukit yang bernama Mangkutuk, di suatu tempat yang beranam Ussuq di sekitar Luwu Timur sekarang. Pohon itu bernama Walenrenge, yang akarnya menghunjam ke pusar bumi dan dahannya menggapai awan. Di dahannya bermukim jutaan burung yang dijaga ribuan mambang dan peri.

Alkisah, ratusan anak bangsawan dan raja-raja yang dikerahkan oleh Sawerigading untuk menebang pohon itu gagal. Pohon itu tidak bisa ditebang dengan kapak biasa. Kemudian Sawerigading menuju botting langi, negeri para dewa untuk meminjam kapak. Dengan menggunakan kapak pemberian dewa, Sawerigading berhasil menebang pohon Walenrenge. Robohnya pohon itu mengguncangkan penghuni dunia atas dan dunia bawah, ribuan telur burung yang ada di pohon itu kemudian berjatuhan dan pecah.

Demikian dahsyatnya peristiwa itu, telur-telur burung yang pecah mendatangkan banjir besar, menyapu penduduk yang dilandanya. Mereka yang terbawa banjir kemudian bermuara di lautan. Yang tidak bisa bertahan hidup menjadi gugusan karang tempat dunia arwah. Sedangkan yang bisa bertahan hidup itulah kemudian dikenal sebagai tu ri je’ne atau orang yang hidup di laut. Orang Sama percaya itulah cikal bakal mereka; yang tidak akan pernah mati tenggelam di lautan. Laut telah ditakdirkan untuk mereka. Cumi-cumi, hiu, pasik (gusung) adalah sahabat dalam satu harmoni, sukma laut. Bahkan dalam satu kronik Makassar orang-orang Sama pernah dipakai oleh Raja Gowa sebagai pasukan penyelam yang ditugasi melubangi kapal-kapal perang Belanda pada Perang Makassar abad ke-16.

Bahasa Sama berbeda dengan bahasa Bugis atau Makasar. Dalam konteks lingustik, bahasa Sama sangat dekat dengan bahasa Melayu yang pernah menjadi lingua franca di Nusantara. “Biasanya kalau kami ketemu orang Sama dari Sumatera, kami pakai baong (bahasa) Melayu atau baong Sama. Baik Sama dari Filipina maupun Sama dari Timor pasti mengerti,” kata Kidung, seorang Lolo Sama yang pernah melakoni kehidupan perahu selama 40 tahun.

Namun uniknya, dahulu setiap Orang Sama paling tidak mengusai dua atau tiga bahasa selain bahasa Sama. Pertama, bahasa suku-suku yang menjadi perlintasan armada perahu mereka. Misalnya orang-orang Sama yang ada di Teluk Bone juga memahani bahasa Bugis, atau orang Sama yang ada di sekitar kepulauan Bitung juga menguasai bahasa setempat. Bahasa kedua adalah baong Melayu. Bahasa ini justru menjadi bahasa yang dipakai ketika bertemu dengan komunitas sea nomadic lainnya. Menariknya bahasa Melayu orang Sama berbeda dengan bahasa Melayu seperti yang dipakai penutur di Riau dan Semenajung Malaysia. Walaupun demikian, beberapa kata semisal saluar, pinggan, masuk dalam kosakata baong Melayu orang Sama. Tidak menutup kemungkinan bahasa Melayu yang masih dipakai oleh komunitas Sama itulah yang merupakan bahasa lingua franca di Nusantara pada masa lalu. Peran ahli etnolingustik tentu sangat membantu penyelidikan ini ke depan

Memasuki tahun 1980-an orang-orang Sama sudah tidak tinggal di laut lagi. Mereka dirumahkan. Namun pekerjaan mereka sebagai nelayan masih tetap dilakoni. Perubahan dan pemaksaan pola kehidupan mereka dari lautan ke darat ternyata harus dibayar mahal. Dahulu laut dan isinya menjadi guru yang bijak. Mereka tahan dingin, angin laut dan bebas dari tekanan minimnya air tawar dengan mengosumsi kima, sejenis kerang besar yang banyak mengandung air tawar. Dahulu mereka dapat menyelam belasan menit di kedalaman 20 meter untuk menombak ikan tanpa tabung udara. Kini mereka bisa bertahan selama belasan jam tanpa muncul ke permukaaan. Hanya yang terakhir ini mengandalkan kompresor yang biasa dipakai oleh tukang tempel ban. Akibat kompresor itu pula, banyak di antara mereka yang lumpuh dan meninggal di dasar laut akibat dekompresi dan keracunan oksigen.

Kini setelah beberapa abad, laut dan orang-orang Sama menjadi dua kutub yang berbeda, tidak lagi berdamai. Juga dalam jurnal ilmiah, mereka menjadi subyek dalam pelatihan budidaya laut, pelatihan menangkap ikan yang ramah lingkungan. Bahkan tidak dapat dibantah mereka dikategorikan sebagai pelaku yang paling bertanggung jawab sebagai perusak terumbu karang dan aktivitas pengeboman ikan.

Sore itu setelah Langkepe memandu kami menyusuri terumbu karang yang masih tersisa. Dari sisi kanan perahu motor, tiba-tiba ia melompat ke dalam air. Cukup lama sehingga membuat kami cemas. Namun di saat sebagian anggota tim bermaksud menyusul dan telah mengenakan kembali peralatan selam, Langkepe muncul ke permukaan. Di pangkuannya tergolek seekor ikan kerapu berbobot 30 kg, masih hidup namun tampak sangat tenang seperti bayi yang dipangku oleh sang ibu.

Ah Langkepe, kau perlihatkan kembali kehebatan budaya yang masih tersisa dalam dirimu.[ASFRIYANTO]

September 28, 2009

GADO-GADO SANG JURNALIS

Suatu ketika saya diminta berbicara teknik produksi feature oleh sebuah lembaga pendidikan di Gorontalo. Lantas seorang peserta bertanya tentang perasaan saya menjadi jurnalis televisi. Pertanyaan yang teramat sederhana. Dan, wartawan pemula sekali pun akan mudah menjawabnya. Bahkan lengkap dengan segala remeh-temehnya. Saya menduga, pertanyaan itu pun sekedar uji nyali sang peserta agar terbiasa menjadi berani di berbagai forum pertemuan. Karena mereka memang calon-calon jurnalis.

Saat itu, saya pun mencoba menjawabnya seringan mungkin. Dalam artian, saya hanya memaparkan apa-apa yang bisa mereka lihat secara jelas. Misal, kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh ternama, kesempatan berpergian ke berbagai daerah dengan segala fasilitasnya, dan tentu saja kesempatan menghimpun pelajaran tentang hidup. Dua jawaban terdepan adalah kenyataan yang nyaris didapatkan oleh kalangan wartawan dari media massa mana pun. Bahkan, siapa pun bisa menyepakatinya tanpa berpikir panjang. Jawaban terakhir? Ups, apa tidak mengada-ada? Atau, sekadar menghiperbolakan persoalan?

Saya sempat berpikir panjang tentang makna “pelajaran hidup” dari pernyataan yang pernah saya ungkapkan itu. Saya sangat yakin jawaban itu tidak salah. Karena, toh saya melontarkan jawaban itu berdasarkan apa-apa yang terekam otak kiri-kanan saya selama bertahun-tahun. Sebaliknya, apakah mahasiswa yang mendengarkan jawaban itu akan memahami dan memaknainya seperti yang saya maksudkan? Belum tentu. Biar bagaimana pun, pengetahuan dan pengalaman mereka masih teramat sedikit untuk memahami pelajaran tentang hidup. Terutama, memaknai pesan-pesan yang didapat dari kehidupan itu sendiri.

Berbekal dari konflik batin itu, saya jadi bersemangat untuk menuliskan cerita tentang profesi jurnalis televisi dan pelajaran hidup yang terekam di dalamnya. Niatan awalnya, karena ingin membuktikan kebenaran atas keyakinan saya itu. Sehingga, konflik batin itu bisa tersalurkan secara positif. []

CATATAN KECIL


Membuat film dokumenter atau news feature sama dengan membangun sebuah bangunan indah. Ia bukan hanya membutuhkan "tukang-tukang" yang cerdas dan berpengalaman, tapi juga perlu dukungan pemilik bangunan, mandor, serta bahan baku yang memadai. Sulit jadinya, memang. Tapi, itulah konsekuensi berkesenian.

Bagian tersulit adalah ketika premis dibangun bersama pemilik dan mandor bangunan -- yang tidak cerdas dan berpengalaman. Hasilnya, bukan hanya membuat proses kerja jadi tidak bermakna. Tapi, hasilnya pun senantiasa tidak membahagiakan sang pemilik bangunan dan mandor. Maka, sia-sialah, buah yang harus dipetik.

Bagian tersulit lain adalah ketika "tukang" atau "kenek" juga bertanya; pemilik bangunan dan mandor tahu nggak sih kita kerja? Dosa rasanya, membangunkan keyakinan pada harapan yang belum pasti. Padahal, sebagai “tukang” handal, kita mesti mengabaikan pujian atau harapan-harapan yang pasti. Namun, menikmati proses itu sendiri jauh lebih berarti.

Di luar pemilik bangunan dan mandor, rancangan premis yang ngawur, kesungguhan hati yang sia-sia, keyakinan yang terabaikan, kami cuma memiliki satu modal; berwasiatlah tentang kesabaran dan kebenaran. Akhirnya, hasil bangunan pun berat jadinya. Tapi, inilah buah dari kesungguhan, keyakinan, dan keterperihan hati.

Terima kasih buat para "tukang" dan "kenek" yang masih ingin dibuai wasiat tentang kesabaran dan kebenaran. Gusti Allah akan senantiasa menyinggahi fawaid kita. Subhanallah...

Agustus 25, 2009

HADITS QUDSI PUASA


"Demi keagunganKu, kebesaranKu, kemuliaanKu, cahayaKu, dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendakKu kecuali aku cerai-beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya, Aku sibukkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagunganKu dan ketinggian kedudukanKu, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendakKu di atas kehendaknya kecuali akan aku perintahkan para malaikat untuk menjagaNya. Aku akan jaminkan langit dan bumi sebagai rezekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya."
[Jalaluddin Rakhmat, Madrasah Ruhaniah, 2006]